Skip to main content

Mempelai Zombie yang Hidup - Neil Cole (bagian 3)

  • GEREJA TIDAK TERIKAT DI SATU LOKASI TUNGGAL
Suatu hari yang panas dan kering, Yesus terlibat percakapan menarik dengan perempuan Samaria. Ketika wanita ini menemukan bahwa Yesus sesungguhnya seorang nabi, ia mengajukan pertanyaan yang telah menggelitik pikirannya sepanjang hidupnya: "Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang meyembah." Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yoh 4 : 20-24).  

Kita selalu mengajukan pertanyaan yang salah: Di mana? Selamanya, pertanyaan yang benar adalah - Siapa? Dimana Anda beribadah itu tidak penting dibandingkan siapa yang Anda sembah. Seperti Yesus mengajar perempuan itu (dan juga kita), kenyataannya bukan kita yang pergi dan mencari Allah di suatu tempat khusus; ia telah mencari kita tepat di mana kita berada, bahkan juga di sumur tua di luar desa Samaria.Kita bekerja untuk menciptakan apa yang kita sebut "kebaktian pencarian" tetapi sepanjang Alkitab, kita diberi tahu bahwa "tidak ada seorang pun yang mencari Allah... seorang pun tidak" (Rm 3:11, 12). Kebaktian pencarian yang sejati adalah kebaktian yang berfokus pada Bapa yang mencari para penyembah dalam Roh dan kebenaran. Ia sendirilah "Pencari orang berdosa," dan kita merupakan kerinduan hati-Nya.


  • GEREJA LEBIH BANYAK DARIPADA KEBAKTIAN SATU JAM YANG DIADAKAN SEKALI SEMINGGU
Satu-satunya saat di mana penyembahan dan kebaktian disatukan dalam Alkitab tidak ada kaitannya dengan sound system, bangku gereja, khotbah atau band penyembahan. Itu merupakan ekspresi kehidupan Kristus dalam diri kita selama dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu. Dalam Roma 12 :1-2, Paulus menulis bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai bait-Nya. Ia menulis, "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."


Jika Anda membayangkan berapa jumlah sumber daya, energi dan waktu yang diinvestasikan dalam kebaktian yang hanya diadakan sekali seminggu, sungguh luar biasa. Dengan penekanan yang diletakkan pada peristiwa ini, Anda akan mengharapkan ada banyak petunjuk Alkitab untuk memastikan orang-orang menjalankan hal itu tidak ada. Sebaliknya Anda akan menemukan ayat-ayat, pasal, dan seluruh kitab yang berbicara tentang bagaimana kita harus hidup bersama sebagai keluarga rohani. Anda akan menemukan perintah dan petunjuk untuk melayani dan menyembah, tetapi bukan hanya sekali seminggu. Bagaimana mungkin kita sudah menyimpang begitu jauh dari prioritas Alkitab yang murni dan sederhana?

William Law adalah seorang penulis abad ke -18 dan penganut kebatinan dari Inggris yang memberikan dampak bagi pertumbuhan John Wesley dan gerakan penanaman gereja Methodist. Ia melakukan pengamatan ini bertahun-tahun lalu, yang jauh melampaui orang-orang sezamannya, seperti mungkin pada zaman ini: "Tampak jelas bahwa tidak ada satu perintah dalam Injil untuk ibadah bersama; dan mungkin itu adalah tugas yang paling tidak, sedikit ditekankan dalam Alkitab dari yang lainnya. Seringnya kehadiran ke tempat itu tidak pernah disebutkan begitu banyak di sepanjang Perjanjian Baru, sedang agama atau pengabdian yang mengatur tindakan biasa dalam hidup kita bisa ditemukan dalam hampir setiap ayat Alkitab. Juruselamat kita yang diberkati dan rasul-rasul-Nya sepenuhnya dibahas dalam doktrin yang berkaitan dengan kehidupan biasa."

Saya menemukan banyaknya waktu untuk menjalankan pertunjukan gereja pada hari Minggu pagi telah menanamkan pemahaman tentang gereja yang tidak selalu Alkitabiah dalam pikiran kita. Kita menemukan bahwa hampir mustahil untuk memikirkan gereja tanpa acara kebaktian Minggu pagi, tetapi ini bukanlah norma Alkitab. Ketika membaca tentang kehidupan gereja, kita membaca ide ini ke dalam teks Alkitab. Cobalah membaca Perjanjian Baru dengan kacamata baru. Cobalah membayangkan gereja Perjanjian Baru tanpa kebaktian seminggu sekali. Sesungguhnya, ada banyak bukti bahwa orang percaya berkumpul bersama keluarga gereja setiap hari, bukan seminggu sekali - dan perkumpulan itu lebih banyak berkaitan dengan makan bersama daripada liturgi yang berlagak suci.

Bagaimana kita bisa sampai di satu tempat di mana gereja tidak lebih dari kebaktian satu setengah jam, satu hari dalam seminggu di lokasi tertentu? Saya jamin, dalam pemandangan Kristus, gereja seharusnya lebih daripada itu! Ia tidak membatasi Gereja-Nya pada satu lokasi bangunan atau satu kerangka waktu.

Seorang perempuan muda yang tumbuh dalam gereja relasional kecil di luar negeri sebagai anak perempuan pasangan misionaris, kembali ke AS untuk masuk kuliah. Ia berkata bahwa hari Minggu adalah hari yang paling sepi. Ia dengan setia pergi ke kebaktian gereja setiap hari minggu, tetapi ia kehilangan keluarga rohani yang terjalin akrab yang ia alami dalam bahasa dan budaya lain. Ia telah bergabung dengan ribuan orang lain yang menemukan kebaktian gereja hari Minggu sebagai pengalaman yang asing dan sepi. Orang tuanya sekarang telah kembali ke AS sebagai misionaris ke bangsanya sendiri dengan harapan membawa gereja kembali pada ekspresi keluarga rohani yang sehat.

    Comments

    Popular posts from this blog

    SIAPAKAH "ORANG FASIK" ITU?

    Oleh: Bp. Peter B. K.               Alkitab seringkali memakai kata “orang fasik”. Secara umum, orang fasik adalah sebutan yang dipakai banyak orang untuk menyebut mereka yang jahat, kejam dan tidak bermoral. Seringkali mereka yang dicap sebagai orang fasik adalah mereka yang jelas–jelas hidup secara jahat dan menentang hukum–hukum yang ada, baik hukum negara, sosial maupun agama. Mereka akan dikenal sebagai pemabuk, penjudi, pecandu, pezinah yang suka ke pelacuran, pencuri, perampok dsb. Bagi dunia, pelaku tindak kriminal-lah orang fasik itu. Benarkah demikian? Kelihatannya Alkitab mempunyai pandangan yang berbeda mengenai siapa yang disebut orang fasik itu. MAZMUR 10 MENJELASKAN PADA KITA BAHWA ORANG FASIK ADALAH ORANG–ORANG: 1       1) Yang tidak peduli akan Allah – atau bahkan menganggap Allah tidak ada (Mzm 10:3-4) Ukuran kefasikan yang dari Allah berbeda. Ini berarti siapa saja – tidak terke...

    THE RIGHTEOUS GENERATION

    (Renungan dari Mazmur 14) Oleh: Bp. Peter B. K. “Tidak sadarkah semua orang yang melakukan kejahatan yang memakan habis umatKu seperti roti dan yang tidak berseru kepada TUHAN?”   (Mzm 14:4) “Di sanalah mereka ditimpa kekejutan yang besar, sebab Allah menyertai angkatan yang benar.”   (Mzm 14:5) Isu yang sedang marak dibicarakan saat itu adalah mengenai pertentangan antar pengikut agama. Perbedaan – perbedaan dalam keyakinan beragama dimanfaatkan sebagai pemicu untuk berkonfrontasi yang berakhir dengan kekacauan dan kegoncangan yang melanda bangsa kita. Pertanyaan yang terus menerus muncul didalam pikiran saya adalah “Siapakah yang benar? Mengapa semua umat beragama bangkit dan saling berperang? Haruskah membela agama sendiri?” Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa nast diatas memberitahukan kita bahwa Allah tidak menyertai atau berpihak pada agama manapun. Secara  status kewarganegaaran kita beragama Kristen, tetapi Allah tidak membela dan menolong orang – orang yang ...

    BERDOALAH BAGI INDONESIA...

    Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html