Skip to main content

RUMAH KESUKAAN TUHAN (Diambil dari buku “Rumah Kesukaan Tuhan” ditulis oleh Tommy Tenney) - Bagian Keempat



Dalam Tabernakel Daud,
Semua Orang Bisa Melihat Kemuliaan Tuhan
Tabernakel Daud adalah tabernakel yang unik. Ditempat penyembahan yang lain dimana tabut perjanjian hadir, para penyembah harus menyembah sesuatu yang berada di balik tirai tanpa mengetahui atau melihat dengan persis apa yang ada di sana. Hanya imam besar yang dapat masuk ke balik tirai — dan itu bahkan hanya sekali dalam setahun. Namun dalam tabernakel Daud, kemuliaanTuhan bisa dilihat oleh semua orang — apakah mereka para penyembah, orang-orang yang lewat, maupun para penyembah berhala. Penyembahan yang tidak terse1ubung memberikan pandangan yang tak terintangi!
Mukjizat “rumab kesukaan Tuhan” dapat ditelusuri hingga ke kerinduan Daud akan hadirat Tuhan. Ia berkata, “Bagaimana aku bisa membawa tabut Tuhan kepadaku?” Ia bertindak untuk memenuhi kerinduan tersebut dengan segala keberadaannya. Usaha pertamanya untuk membawa tabut perjanjian ke Yerusalem berakhir dalam bencana; dan mengakibatkan perubahan total dalam metode-metode Daud dalam “menangani yang kudus”. Ketika akhirnya Daud dan arak-arakannya yang terdiri dan kaum Lewi dan para penyembah mencapai Yerusalem setelah perjalanan kaki yang meletihkan sejauh 15 mil, Daud menari-nari karena lega sekaligus gembira: “Kita berhasil!”
Dalam proses membawa tabut dan memuja Tuhan itu, Daud mulai menghargai hal-hal yang dihargai oleh Tuhan. Namun sebaliknya, istrinya Mikhal lebih mementingkan gengsi dari Tuhan. Kutukan kemandulan menimpanya, walaupun fakta bahwa ia tidak memiliki anak dapat dihubungkan dengan kerenggangan hubungannya dengan Daud.
Secara manusia, terkadang perjumpaan yang intim dengan Tuhan memalukan. Kekristenan Amerika dikotori oleh gereja-gereja mandul yang telah memalingkan din mereka dan keintiman penyembahan. Mereka adalah Mikhal-Mikhal modern yang juga telah memilih untuk lebih mementingkan gengsi ketimbang keintiman dengan Tuhan.
Ingatlah bahwa Daud tidak mengejar emas; ia memiliki cukup banyak emas. Ia tidak mengejar peti tabut; ia bisa membuat peti-peti yang lain. Ia tidak tertarik pada barang-barang yang terdapat dalam peti tabut itu; barang-barang tersebut adalah kenang-kenangan yang indah dan penampakan Tuhan kepada manusia jauh sebelum ia dilahirkan, namun barang-barang tersebut tidak membuatnya tertarik. Daud mengejar nyala api biru kemuliaanTuhan. Dengan tindakan-tindakannya, Daud berkata, “Aku harus belajar bagaimana cara membawa nyala api biru itu.”
Kita bisa membangun gedung-gedung yang lebih indah, kita bisa memiliki kelompok paduan suara yang lebih besar, kita bisa menggubah musik yang lebih merdu, dan kita juga bisa mengkhotbahkan khotbahk hotbah yang lebih hebat — kita bisa melalukan segala sesuatu yang lebih baik dan sebelumnya. Namun jika kita tidak membawa “nyala api biru,” maka Tuhan tidak akan merasa senang. Dan Ta akan memastikan bahwa gereja-gereja “yang tidak menyala” menjadi tidak penting bagi manusia sebagaimana itu tidak penting bagi-Nya. Tidak ada “nyala” menunjukkan tidak ada api, yang pada akhirnya akan menghasilkan bangunan-bangunan yang tandus dan hati-hati yang kosong. Seseorang harus berkata, “Di sini dingin — itulah sebabnya semua orang pergi. Marilah kita menyalakan kehangatan penyembahan.”

Daud Melangkah Melampaui Selubung Pemisah
yang Membawa Kematian

Entah bagaimana, dalam proses membawa tabut Daud mempelajari sesuatu yang menolongnya melangkah melampaui keterbatasan keimaman Harun dan peraturan-peraturan keimaman Musa. Entah bagaimana si gembala yang penyembah ini telah melangkah melampaui selubung pemisah yang menakutkan dan membawa kematian, untuk memasuki sebuah dunia keintiman dengan Tuhan yang baru. Hal ini mengubah seluruh konsep penyembahannya.
Ketika orang-orang Lewi yang kelelahan pada akhirnya mencapai kemah sementara yang telah didirikan oleh Daud untuk tabut perjanjian di Bukit Sion, Daud berkata, “Kamu tahu, suatu hari nanti aku berharap bisa melakukan sesuatu yang lebih baik, namun sekarang ini beginilah cara kita akan menyembah.” Para imam dengan sukacita menurunkan tabut perjanjian dan bahu-bahu mereka yang letih dan meletakkannya. Namun ketika beberapa orang Lewi itu hendak meninggalkan tempat itu, Daud menghentikan mereka dan berkata, “Tidak, tidak, kamu tidak boleh pergi.”
“Tetapi, Daud, kami baru saja berjalan bermil-mil dengan memikul tabut tersebut di pundak kami. Kami telah mempersiapkan dan mempersembahkan ribuan binatang kepada Tuhan. Belum selesaikah tugas kami? Lagi pula, tidak ada selubung atau Tempat Yang Mahakudus!”
Daud memberi tahu mereka, “Tidak. Aku tidak akan membiarkan tabut ini terabaikan di sini sebagaimana ia telah terabaikan di Silo. Kenakanlah kembali efodmu. Keluarkan kembali alat-alat musik dan harpamu. Beberapa diantaramu bisa beristirahat makan siang, tetapi yang lain tetap tinggal di sini.”
“Baiklah, untuk siapa kami tetap di sini, Raja Daud? Apakah engkau ingin mendengarkan kami bermain musik?”
“Tidak, tidak. Bukan untukku — melainkan untuk Tuhan; Ia yang akan menjadi Pendengar. Ia menginginkan kita untuk menyembah-Nya senantiasa.”

Comments

Popular posts from this blog

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html

HIKMAT DAN KUTIPAN MENGENAI GEREJA YANG ALKITABIAH

Oleh: Bpk. Peter B, MA Gereja seharusnya menjadi sorga di bumi. Itulah yang dialami oleh jemaat mula-mula yang demikian sehati sehingga saling mengasihi dan milik mereka pribadi seperti milik bersama. Semuanya bukan karena dipaksa oleh suatu sistem yang menganjurkan keadilan sosial bagi semua dimana semua orang sama rata dan sama rasa. Semua karena kasih Tuhan yang bekerja di hati sehingga tidak ada tempat lagi untuk saling curiga dan tidak percaya. Mereka semua tulus dan berkomitmen hidup dalam kasih sesuai perintah junjungan dan Tuhan yang mereka sembah, Yesus Kristus (lihat Kisah Rasul 4). Gereja seperti sebuah komunitas yang ideal dimana semua orang berkumpul, dimuridkan dan bertumbuh sebagai ciptaan baru menuju manusia baru yang berbeda karakter dan gaya hidupnya dengan dunia. Jika hari ini gereja justru tampak seperti dunia, maka itulah waktunya untuk meratap. Sebab gereja telah kehilangan jati diri, intisari dan karakter aslinya sebagaimana yang dirancangkan dan ditetapkan Tuhan...