Skip to main content

BENARKAH KITA TIDAK BOLEH MENGHAKIMI?

Secara singkat kita akan membahas mengenai topik dimana banyak orang Kristen mengalami kebingungan dan yang telah menjadi batu sandungan utama yang menjadikan mereka terhalang memenuhi tujuan Allah dalam hidup mereka.

Dalam Lukas 6:37, Tuhan berfirman, "Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni." Dari ayat ini, orang percaya maupun yang belum percaya beranggapan bahwa Yesus memerintahkan kita untuk tidak menghakimi orang lain, tapi ini bukan yang Dia sampaikan dan maksudkan.



Dalam Lukas 6:3, kata bahasa Yunani yang diterjemahkan sebagai "menghakimi" adalah krinete. Ini lebih dapat diterjemahkan sebagai "membedakan seperti halnya mengelompok-kelompokkan." Ini sebenarnya dapat dibaca sebagai, "Jangan menilai seseorang secara tidak adil." Tidak menghakimi orang tidak hanya salah dalam penerjemahan, namun juga sekaligus mustahil dilakukan. Ketika orang menuding Anda karena menghakimi, mereka, dalam kenyataannya, menghakimi Anda dengan mengatakan hal tsb. Kita semua menghakimi orang lain, dimana itu diperlukan dalam rangka memiliki berbagai macam hubungan dengan orang lain. Penghakiman tidak selalu bernada negatif, namun saat kita menyampaikan hal-hal yang baik mengenai orang lain, kita menghakimi mereka juga. Kita menghakimi mereka dalam hal yang baik.

Jika diterjemahkan secara literal, tidak disebutkan dimana pun di Alkitab supaya kita tidak menghakimi orang lain. Bahkan di beberapa bagian Alkitab, kita sebenarnya diperintahkan melakukan hal ini. Dan dimana kita diperintahkan oleh Kitab Suci, itu selalu dengan tujuan perbaikan atas kesalahan. Sebagai contoh, Tuhan berkata bahwa ketika ada seorang saudara yang jatuh dalam dosa, kita harus datang pada mereka (lihat Mat. 18:15). Anda tidak mungkin tahu mereka berbuat dosa tanpa menghakimi. Hanya saja, kita tidak diperintahkan untuk datang pada mereka untuk menghukum mereka namun untuk menolong mereka datang dalam pertobatan. Jadi, tujuannya adalah untuk menolong.

Kita harus menjadi peka. Kita diperintahkan untuk mengukur orang lain berdasarkan apa yang ada dalam rohnya dan bukan hanya lahiriah atau penampilannya semata, dimana itupun memerlukan tindakan menilai:

2 Korintus 5:16
Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia.

Yang diperintahkan kepada kita adalah tidak menuduh orang lain. bahkan pada saat penghakiman kita akan seseorang itu negatif, kita semestinya mencari jalan untuk memuliakan mereka.

Juga adalah kesalahpahaman untuk berpikir bahwa, dalam pasal yang sama di Lukas tsb, bahwa Tuhan sedang mengatakan untuk tidak melihat selembar di mata orang lain. Ia sebenarnya sedang berkata supaya kita melakukannya, namun tidak dengan cara yang munafik. Yesus berkata untuk mengeluarkan balok dari mata kita sendiri sebelum mencoba menolong orang lain melakukan hal yang sama (lihat Lukas 6:41-42).

Sebagaimana yang dikatakan oleh Tuhan, pohon yang baik (atau orang yang baik) akan mengeluarkan buah yang baik, dan pohon yang buruk (atau orang yang buruk) akan mengeluarkan buah yang buruk (lihat Lukas 6:43), demikianlah tindakan menghakimi secara salah itu dimana itu menyebabkan masalah dan perpecahan melalui penghakiman tersebut ketimbang mengadakan pertolongan dan perbaikan. Saat kita menghakimi dengan benar, kita bisa, dan seharusnya lebih sering, menunjukkan kepada orang-orang kesalahan mereka. Tatkala kita melakukannya demi tujuan memperbaiki dan bukan secara moral merasa lebih baik dari mereka, itu akan menjadi jauh lebih mudah bagi mereka yang kita hakimi untuk melihat penghakiman kita itu benar dan menjadi pertolongan bagi mereka. Kita harus menghakimi tetapi dengan roh yang benar.

Saya membahas tentang ini karena bisa jadi inilah salah satu faktor utama yang membuat gereja tidak menjadi seperti sebagaimana ia dipanggil...
Ini sebagian besar disebabkan karena sangat sedikit yang diajarkan mengenai menghakimi dengan benar. Dikatakan bahwa 12 rasul akan menghakimi 12 suku Israel dalam Kerajaan Allah. Bahkan dikatakan pula bahwa kita tidak hanya akan menghakimi bangsa-bangsa, melainkan juga para malaikat di masa yang akan datang. Masa kini adalah masa pelatihan untuk memerintah bagi mereka yang akan berkuasa dan memerintah bersama Tuhan dalam Kerajaan-Nya, dan ini adalah sesuatu yang harus kita pelajari sekarang ini.

(Disadur & diterjemahkan secara bebas dari "Unrighteous Judgment Word of the Week - Week 43" by Rick Joyner)

Comments

Popular posts from this blog

SIAPAKAH "ORANG FASIK" ITU?

Oleh: Bp. Peter B. K.               Alkitab seringkali memakai kata “orang fasik”. Secara umum, orang fasik adalah sebutan yang dipakai banyak orang untuk menyebut mereka yang jahat, kejam dan tidak bermoral. Seringkali mereka yang dicap sebagai orang fasik adalah mereka yang jelas–jelas hidup secara jahat dan menentang hukum–hukum yang ada, baik hukum negara, sosial maupun agama. Mereka akan dikenal sebagai pemabuk, penjudi, pecandu, pezinah yang suka ke pelacuran, pencuri, perampok dsb. Bagi dunia, pelaku tindak kriminal-lah orang fasik itu. Benarkah demikian? Kelihatannya Alkitab mempunyai pandangan yang berbeda mengenai siapa yang disebut orang fasik itu. MAZMUR 10 MENJELASKAN PADA KITA BAHWA ORANG FASIK ADALAH ORANG–ORANG: 1       1) Yang tidak peduli akan Allah – atau bahkan menganggap Allah tidak ada (Mzm 10:3-4) Ukuran kefasikan yang dari Allah berbeda. Ini berarti siapa saja – tidak terke...

THE RIGHTEOUS GENERATION

(Renungan dari Mazmur 14) Oleh: Bp. Peter B. K. “Tidak sadarkah semua orang yang melakukan kejahatan yang memakan habis umatKu seperti roti dan yang tidak berseru kepada TUHAN?”   (Mzm 14:4) “Di sanalah mereka ditimpa kekejutan yang besar, sebab Allah menyertai angkatan yang benar.”   (Mzm 14:5) Isu yang sedang marak dibicarakan saat itu adalah mengenai pertentangan antar pengikut agama. Perbedaan – perbedaan dalam keyakinan beragama dimanfaatkan sebagai pemicu untuk berkonfrontasi yang berakhir dengan kekacauan dan kegoncangan yang melanda bangsa kita. Pertanyaan yang terus menerus muncul didalam pikiran saya adalah “Siapakah yang benar? Mengapa semua umat beragama bangkit dan saling berperang? Haruskah membela agama sendiri?” Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa nast diatas memberitahukan kita bahwa Allah tidak menyertai atau berpihak pada agama manapun. Secara  status kewarganegaaran kita beragama Kristen, tetapi Allah tidak membela dan menolong orang – orang yang ...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html