Skip to main content

RAHASIA SEHAT DAN INDAH DI MATA TUHAN

Oleh: Peter B, MA

"Jadi tujuan kami ialah selalu menyenangkan hati-Nya, entah kami yang kini berada pada tubuh ini maupun di luar tubuh ini"~2 Korintus 5:9, NET

"Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus"~Galatia 1:10

Mengamati kebiasaan sehari-hari kita, tampaknya orang lebih peka dan peduli dengan penghidupan jasmani dan duniawi daripada yang berhubungan dengan perkara rohani dan sorgawi. Urusan makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya kerap menjadi fokus dan perhatian utama kita sedangkan pada sisi lain, roh kita terlalaikan untuk mendapatkan asupan yang semestinya. "Firman yang keluar dari mulut Allah" (Mat.4:4) adalah bahan makanan vital yang sering kita lupakan selagi kita sibuk mencari dan mengumpulkan roti jasmani. Akibatnya tiada sentuhan ilahi dalam hidup kita. Dan tanpa sentuhan itu, esensi diri kita menjadi gelisah, merana dan terus mencari kelegaannya. Bagai meminum air laut, tak terhitung jiwa-jiwa yang mati dalam kehausan yang besar.


ADAKAH YANG LEBIH PENTING DARI KESEHATAN?
Kapankah terakhir kalinya Anda memeriksakan kondisi kesehatan Anda?
Mungkinkah ada gejala yang kurang baik di tubuh Anda dan Anda menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa?
Orang-orang yang mengabaikan atau bahkan tidak peduli dengan tanda-tanda gangguan kesehatan cenderung terlambat untuk mengetahui seberapa parah dirinya telah mengidap suatu penyakit.
Luka baru yang dirawat dengan baik jauh lebih cepat membaik daripada luka lama yang dibiarkan tak terurus. Sakit yang berat seperti kanker, konon punya kemungkinan disembuhkan lebih besar jika terdeteksi pada stadium/tingkat awal ketimbang ditemukan pada fase lanjut/akhir. Kesehatan merupakan aset terbesar manusia. Tanpanya manusia tak akan dapat melakukan apa-apa dan dekat dengan kebinasaan.

Kesehatan rohani jauh lebih berharga -jika kita tahu betapa dahsyat dampaknya bagi hidup yang sekarang dan kelak. Ada keuntungan-keuntungan bagi mereka yang rajin memeriksa kondisi hatinya, yang menyelidiki dengan seksama hidup rohaninya. Yang rajin mengukur dan menilai apakah dirinya masih memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan atau masih berkobar-kobar mengasihiNya. Yang melakukan introspeksi hati di hadapan Tuhan.
Kerohanian yang sehat memberikan keuntungan yang besar baik di dunia yang sekarang, lebih lagi di dunia yang akan datang (1Tim.4:8-10). Sebab jika kualitas hidup kita di dunia bergantung kesehatan jasmani kita, kualitas kekekalan kita dibentuk oleh kesehatan rohani kita. Bagaimana kita menjalani keabadian sangat ditentukan oleh seperti apa kita menjaga hati kita tetap terhubung dengan Sang Bapa Kekekalan itu (Ams.4:23; Yes.9:5).

Bukankah kita dipanggil untuk mengumpulkan harta di sorga daripada yang di bumi (Mat.6:19-21)? Dan bagaimanakah kita mengumpulkan harta di sorga jika bukan dengan menerima upah sorgawi? Lalu, bagaimana kita mendapatkan upah sorgawi jika kita tidak menyenangkan Sang Tuan yang Agung itu dan menyelesaikan pekerjaan-Nya? Lebih daripada yang diperkirakan orang-orang Kristen yang malas rohani, yang berpikir bahwa "asal masuk sorga cukuplah" -sesungguhnya ada penyesalan besar, yang akan terus ada di hati setiap orang yang menginjakkan kaki di sorga tanpa upah. Penyesalan bahwa mereka telah menghabiskan hidupnya untuk hal-hal yang kurang berarti dan tidak berdampak kekal. Betapa mereka telah menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan dengan mengerjakan tahun-tahun mereka demi sesuatu yang kelak ternyata merupakan benda-benda yang kurang berharga (sebab bukankah emas adalah tumpuan kaki kita, sedangkan perak dan permata hanya pernak-pernik biasa assesoris sorga? Wah.21:10-21) sedang yang paling berharga telah mereka lalaikan dan lepaskan.

Dan, bagaimana mungkin kita akan menyelesaikan pekerjaan Tuhan jika rohani kita sakit, sekarat atau mati?
Hanya mereka yang rohnya menyala-nyala, sehat, kuat, bergairah dan penuh kuasa Tuhan (Ef.6:10) yang akan bersikap seperti laki-laki (1Kor.16:13) dan mengerjakan misi dan visi Tuhan dalam hidupnya. 

Dalam jangka panjang, perenungan-perenungan untuk mengoreksi hati menjaga kita berada dalam kondisi kesehatan rohani yang ujungnya akan memastikan upah kekal kita (2Tim.4:8).


MAJU SELANGKAH LAGI, MENGEJAR KEINDAHAN
Cermin berfungsi bukan untuk sekedar melihat wajah atau penampilan kita. Kitapun bercermin bukan sekedar mengetahui wajah kita. Manfaat terbesar dari berkaca ialah untuk melihat apa yang masih kurang dari penampilan kita; membenahi yang kurang pas darinya dan mengusahakan tampilan yang baik bahkan menarik di depan orang.

Mereka yang sangat peduli dengan penampilannya kerap bercermin. Hasilnya, mereka tampil lebih baik daripada yang jarang bercermin. Mereka yang jarang mematut diri dapatlah dikatakan penampilannya ala kadarnya. Dan tentu saja, kita tahu bagaimana kira-kira orang yang jarang bercermin.
Pendeknya, untuk tampil indah di depan orang, kita harus sering-sering mematut diri. Dan orang yang mampu membawa diri dengan baik, yang memberikan kesan-kesan yang menawan hati beroleh keuntungan yang besar dalam pergaulan, urusan sehari-hari maupun dalam dunia bisnis.

Sayangnya, hanya sedikit orang yang benar-benar peduli akan tampilannya di depan Sang Penciptanya. Manusia mengetahui dan mendalami bagaimana memberikan kesan pertama yang luar biasa, mempelajari berbagi kiat untuk menarik perhatian sesamanya atau mengusahakan dirinya menjadi pusat perhatian. Berapa banyakkah yang melakukan itu untuk menarik perhatian Tuhan? Seberapakah kita telah memikirkan, meniatkan dan mengusahakan supaya, seperti Daud, kita menjadi orang yang berkenan di hati-Nya (1Sam.13:14; Kis.13:22)? Sudahkah kita cukup peduli akan penampilan manusia batiniah kita di hadapan Tuhan?

Karena ingin dikagumi, dipuji dan dihormati yang lainnyalah, orang menampilkan dirinya secara indah dan menarik. Meski begitu, haruslah diingat bahwa pujian dan sanjungan manusia seringkali tidak murni. Ada faktor-faktor kepentingan pribadi sehingga pengakuan mereka belum tentu tulus. Oleh sebab itu pulalah, pendapat seorang yang kompeten dan ahli di bidangnya, yang penilaiannya paling obyektif dan layak dipercaya menjadi sangat berharga untuk menentukan standar dan kualitas yang tinggi.
Tetapi, siapakah pemilik standar kebenaran dan kesempurnaan tertinggi? Yang mampu menilai secara sepenuhnya seluruh keberadaan manusia? Yang pendapatnya tak dapat dicampuri oleh siapapun dalam pengetahuan yang tidak terbatasi oleh apapun juga?
Bukankah Dia TUHAN, sang pemilik dan penguasa tertinggi di alam semesta?

Sesungguhnya kita indah di mata-Nya dan sangat dikasihi-Nya sebagaimana adanya kita. Seperti bapa yang menyayangi anak-anaknya sejak mereka dilahirkan meskipun bayi-bayi itu belum mampu berbuat apa-apa. Namun pujian yang keluar dari mulut Allah tidak diperkatakan tanpa alasan dan asal diucapkan demi menyenangkan hati kita. Pujian itu diberikan bagi mereka yang melakukan apa yang tepat di hati-Nya, yang melakukan persis seperti yang dikehendaki-Nya, yang saat dilihat dan dirasakan Tuhan itu menyenangkan hati-Nya.
Terbayangkah Anda betapa mulia jika pujian itu datangnya dari pemilik dan penguasa tertinggi di alam semesta ini?
Itulah pujian tertinggi, termurni, teruji dan terbaik yang dapat diterima manusia (1Kor.4:5; 2Kor.10:18).

Pujian Allah diberikan pada kita saat kita menampilkan di hadapan-Nya sesuatu yang menyukakan hati-Nya. Seperti halnya Habel yang mempersembahkan anak sulung kambing dombanya pada Tuhan sebagai suatu persembahan yang diterima Tuhan (Kej.4:4) dan seperti Ayub yang menjadi kebanggaan Tuhan (Ay.1:8;2:3), pujian dari Tuhan datang bagi mereka yang mencari dan mengutamakan perkenan dan pengakuan Allah lebih daripada apapun juga.

Dan jika seorang raja, seorang pembesar atau seorang berpengaruh berkenan menyambut dan memberikan penghargaan pada seseorang maka menjadi terhormatlah ia, ditinggikan di antara manusia yang lainnya. Nasibnya berubah. Kemuliaan ada padanya.
Pikirkanlah sekarang betapa lebihnya jika TUHAN, sang raja segala raja, menaruh perkenan-Nya atas kita!

Dalam perumpamaan Yesus mengenai talenta, saat tuan yang membagi-bagikan talenta kepada hamba-hambanya itu datang kembali dan menemukan bahwa apa yang dipercayakannya itu membuahkan hasil sesuai kerinduannya maka inilah perkataan pujiannya, suatu pujian yang akan keluar dari mulut Tuhan sendiri bagi mereka yang mencari perkenan-Nya:

"BAIK SEKALI PERBUATANMU itu, hai HAMBAKU YANG BAIK DAN SETIA; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. MASUKLAH DAN TURUTLAH DALAM KEBAHAGIAAN TUANMU." (Mat.25:21).

Introspeksi membawa kita sampai pada suatu titik dimana kita sampai pada pengenalan demi pengenalan akan Tuhan, mengetahui isi hati-Nya dan memahami jalan-jalan-Nya SEKALIGUS posisi dan keadaan kita di hadapan Tuhan sehingga jika kita mau, kita akan dimampukan "mematut diri" menyenangkan hati-Nya. Sesuatu yang jauh lebih utama daripada usaha menarik hati siapapun di muka bumi ini.

Jadi, sudahkah Anda melihat betapa pentingnya introspeksi dan koreksi diri itu kini?
Akankah Anda mulai melakukannya lebih lagi hari ini dan seterusnya sebagai prioritas tertinggi dan terutama di hidup Anda?

Salam revival!
Indonesia penuh kemuliaan-Nya!
Tuhan memberkati Anda sekalian.
Amin.

Nantikan tulisan berikutnya mengenai "Bagaimana melakukan introspeksi yang membawa terobosan sesuai kehendak Tuhan".

Comments

Popular posts from this blog

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html

HIKMAT DAN KUTIPAN MENGENAI GEREJA YANG ALKITABIAH

Oleh: Bpk. Peter B, MA Gereja seharusnya menjadi sorga di bumi. Itulah yang dialami oleh jemaat mula-mula yang demikian sehati sehingga saling mengasihi dan milik mereka pribadi seperti milik bersama. Semuanya bukan karena dipaksa oleh suatu sistem yang menganjurkan keadilan sosial bagi semua dimana semua orang sama rata dan sama rasa. Semua karena kasih Tuhan yang bekerja di hati sehingga tidak ada tempat lagi untuk saling curiga dan tidak percaya. Mereka semua tulus dan berkomitmen hidup dalam kasih sesuai perintah junjungan dan Tuhan yang mereka sembah, Yesus Kristus (lihat Kisah Rasul 4). Gereja seperti sebuah komunitas yang ideal dimana semua orang berkumpul, dimuridkan dan bertumbuh sebagai ciptaan baru menuju manusia baru yang berbeda karakter dan gaya hidupnya dengan dunia. Jika hari ini gereja justru tampak seperti dunia, maka itulah waktunya untuk meratap. Sebab gereja telah kehilangan jati diri, intisari dan karakter aslinya sebagaimana yang dirancangkan dan ditetapkan Tuhan...