Skip to main content

ULAR-ULAR DALAM GEREJA - MENGHADAPI MUSUH DI DALAM GEREJA (David Orton)


Firman-Nya kepadaku: "Kaulihatkah, hai anak manusia, apa yang dilakukan oleh tua-tua kaum Israel di dalam kegelapan, masing-masing di dalam kamar tempat ukiran-ukiran mereka? Sebab mereka berkata: TUHAN tidak melihat kita; TUHAN sudah meninggalkan tanah ini."(Yeh. 8:12)

GEREJA SAAT INI

Kesejajaran antara Yehezkiel 8 dan gereja saat ini sangat nyata. Sebagaimana penatua pada masa Yehezkiel diam-diam menjalankan penyembahan berhala, Demikian pula kita saat ini. Ada krisis kepemimpinan dalam gereja. Bukan krisis kecakapan atau teknik yang baik, melainkan krisis orang-orang yang sungguh-sungguh mengandalkan Roh Kudus. Mereka yang, di dalam hatinya yang paling tersembunyi, menolak untuk menyembah ilah asing dan sistem manusia.

Muslihat iblis tidak pernah terang-terangan. Seperti ular, diam-diam dan dengan sembunyi-sembunyi, roh agamawi dan penyesatan memasuki Bait Allah. Dengan berpura-pura melayani gereja Allah, motivasi yang campur aduk dan najis telah menginfiltrasi pelayanan. Sebagai pemimpin, kita telah menjadi pelayan gereja, bukannya pelayan Allah. Kita menyembah gambaran palsu - gambaran sukses, kerohanian, kekuasaan. Kita mengimpor ke dalam gereja dan kota kita model dan formula mutakhir untuk menjamin sukses. Melihatnya dari jauh - dari kota atau negara lain - hal-hal itu kelihatan sangat menggiurkan, sangat menjanjikan. Namun seperti fatamorgana, harapan akan ledakan pertumbuhan gereja atau transformasi kota menguap pada saat kita bergerak maju. Mengapa? karena kita menolak untuk membayar harga dengan merendahkan diri kita - atau membiarkan kekuatan kita diremukkan - program dan rencana kita - kefasihan dan kecakapan berbicara kita - musik dan talenta kita - dijadikan tidak bermakna. Kalau apa yang kita lakukan tidak dikandung di dalam rahim kelemahan kita, kita tidak akan pernah melahirkan keajaiban kuasa-Nya. Hanya ada dua pilihan: entah hal itu dilahirkan dari Allah, atau dari manusia. Tanpa mengalami kehancuran hati, setiap model baru mengakibatkan kita lebih mengandalkan kecakapan kita dalam mengorganisasi, kecakapan berkomunikasi dan berjejaring, sumber daya finansial kita, atau kreativitas musikal kita. Kalau kita mengimpor model sukses paling mutakhir ke kota kita tanpa menjalani kerendahan hati salib, kita hanya akan menyembah pada gambaran yang hampa. Seperti rasul-rasul hebat di Korintus itu, kita akan "bermegah karena hal-hal lahiriah dan bukan batiniah" (2 Kor. 5:12). 

Kita pada kenyataannya menipu diri kita sendiri, mengira bahwa kita menjalankan model paling mutakhir dalam pertumbuhan gereja, transformasi kota atau kebangunan rohani demi kota kita dan bagi Kerajaan Allah. Kalau selubung itu dibuka dan kita dapat melihat ke dalam hati kita sendiri, kita akan tertunduk malu. Kita seperti hamba-hamba Tuhan yang digambarkan oleh Petrus sebagai "hati mereka telah terlatih dalam keserakahan" (2 Petrus 2:14). Kita melihat sukses orang lain dan ingin mengalaminya bagi diri sendiri - ups, maafkan saya, seharusnya saya katakan, "bagi Kerajaan Allah." Seandainya kita jujur, kita akan melihat bahwa sebagian besar dorongan untuk mengembangkan gereja atau denominasi kita berasal dari kompetisi:

"Dan aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain..." (Pkh. 4:4)

Selama beberapa tahun saya adalah seorang pendeta di sebuah pergerakan gereja yang, pada suatu waktu, merupakan gereja yang termasuk paling pesat bertumbuh di negeri kami. Namun, dengan perginya pendiri gereja ini, momentumnya melemah dan kami dikejar oleh pergerakan lain. Kebanyakan rencana pertumbuhannya sekarang, sungguh menyedihkan, terdorong oleh intimidasi akan sukses pergerakan lain.

Comments

Popular posts from this blog

MIMPI PROFETIK

Mimpi diterima oleh Stephen Immanuel (Malaysia)  Tafsiran mimpi diterima oleh Sery M. Lopulalang (Indonesia)  KESALAHAN PARA PEMIMPIN ROHANI YANG MELAKUKAN PEMBIARAN TERHADAP DOSA² DAN KEJAHATAN YANG DILAKUKAN UMAT TUHAN 16 Maret 2020 Saya ingin mengongsikan mimpi saya tadi pagi,  Saya sedang berada di dalam gedung gereja. Sepertinya disitu ada acara ibadah yang besar kerana saya lihat ada ramai orang yang hadir, gereja penuh sehingga saya sendiripun berdiri di bahagian hadapan kerana tiada tempat duduk. Ketika ini semua jemaat lagi melihat persembahan kesaksian dari anak-anak sekolah minggu di pentas/ panggung. Anak-anak ini beratur berbaris memanjang ke belakang ada yang berdiri dan ada juga yang duduk, mereka agak ramai juga. Lalu setelah mereka selesai kesaksian, mereka dikasih permen 🍬🍬 masing-masing oleh ibu² yang bertugas. Setelah itu seorang hamba Tuhan (yang mengacarakan ibadah saat itu) naik ke mimbar dan mengajak jemaat untuk mendoakan anak² tadi. Sel...

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...

HIKMAT TERKAIT KEBODOHAN

Oleh: Bpk. Peter B, MA "Satu orang bodoh melahirkan lebih banyak lagi orang-orang bodoh" -Pepatah Kroasia Sebab itu berhati-hatilah dengan sikap dan tanggapan kita. Jangan berkata atau bertindak bodoh sebab kebodohan menyebar cepat dan menghasilkan kebodohan dan orang-orang bodoh yang semakin banyak. Dari mana kita mengukur kita tidak sedang berbuat bodoh? Dari bagaimana kita menyikapi yang terjadi di sekeliling kita. Orang bodoh mudah emosi, cepat marah, sok tahu, sering merasa benar, dan segera menilai dan berkomentar sebelum berpikir tanpa menyelidiki lebih lanjut. Tidak heran di media sosial begitu hiruk pikuk dengan berbagai komentar yang saling bersahutan melibatkan ribuan orang. Mungkinkah ini karena kebodohan yang menular begitu cepatnya?