Skip to main content

KEMAHAKUASAAN TUHAN DAN BAGIAN KITA (KAJIAN ALKITAB SINGKAT - 29 November)

Oleh: Bpk. Peter B. K.



1 Petrus 5:6-11

6 Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.

7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

8 Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.

9 Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.

10 Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.

11 Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Lebih dari satu kali Petrus menekankan kekuatan dan kemampuan Allah yang perkasa dalam nats di atas.
"Tangan Tuhan yang kuat" (ay. 6)
"IA yang memelihara kamu" (ay. 7)
"Allah, SUMBER se­gala kasih karunia" (ay. 10)
"Kemuliaan-Nya kekal" (ay. 10)
"(Dia yang sanggup) melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan (kita)" (ay. 10)
"Ialah yang EMPUNYA KUASA SAMPAI SELAMA-LAMANYA" (ay. 11)

Artinya, TUHAN lebih dari sanggup membebaskan, menolong, membela, menjaga, melindungi dan melakukan apapun yang perlu demi anak-anak-Nya.
Kita tiada perlu kuatir dalam hidup ini sebab Dia telah menetapkan diri-Nya memelihara kita yang percaya kepada-Nya.

Meski demikian, perhatikanlah, bahwa itu tidak terjadi begitu saja dalam hidup kita.
Tidak digambarkan dalam nats itu bahwa kita tinggal berbaring atau duduk santai sedangkan pelayan-pelayan sorgawi datang melayani kita bagaikan seorang pangeran atau putri kerajaan yang dimanjakan bapanya yang seorang raja diraja.

Kita diperintahkan untuk:
1) merendahkan diri (ay. 6)
2) tidak memegang erat kekuatiran kita sendiri melainkan menyerahkannya (ay. 7)
3) selalu sadar dan berjaga-jaga terhadap musuh (ay. 8)
4) melawan iblis dengan iman yang teguh (ay. 9)
5) menanggung penderitaan seketika/sementara waktu lamanya (ay. 9b,10b)

Itu berarti bahwa kemahakuasaan Tuhan dan kesanggupan-Nya menjamin hidup kita tidak menghilangkan peran dan bagian kita di hadapan-Nya. Bahkan kita masih diijinkan menanggung penderitaan selama hidup kita.
Ada kerja sama antara kita dengan Allah untuk melihat kuasa-Nya nyata di hidup kita.

Selagi kita fokus melakukan bagian kita, Allah sudah pasti setia melakukan bagian-Nya.
Itu sebabnya pikiran kita seharusnya TIDAK KITA ISI dengan pikiran-pikiran ini:

"Tenang saja. Tuhan pegang kendali. Kalau Dia tidak mengijinkan maka tidak akan terjadi. Semua dalam kontrol Tuhan. Pasti tidak terjadi yang buruk karena Tuhan pasti mendatangkan yang baik"

"Aku anak raja. Bisa melakukan apapun dan mengklaim apapun demi kenyamanan dan kesenanganku. Dia sumber segala berkat dan pasti memberikan apa yang aku minta"

"Tidak mengapa. Kalau nanti aku terjerat banyak problem meskipun semuanya karena perbuatan dan perkataanku sendiri tapi kan Tuhan berjanji menolong dan berikan mujizat-Nya kalau aku berseru kepada-Nya? Santai saja. Kita punya Tuhan yang hebat"

Sudah seharusnya, mengetahui firman di atas, kita MEMIKIRKAN HAL-HAL INI:

"Sudahkah aku merendahkan diri di hadapan Tuhan hari ini? "
"Apakah hidupku mencerminkan suatu sikap merendahkan diri di hadapan Tuhan?"
"Bagaimana merendahkan diri dan menyerahkan kekuatiran itu seharusnya?
"Sudahkah hidupku aku jaga supaya senantiasa sadar dan berjaga-jaga terhadap serangan iblis?"
"Adakah imanku teguh melawan kuasa-kuasa kegelapan?"
"Tahukah aku bahwa hidup mengikut Yesus juga termasuk menanggung derita di dunia ini?"

Pendeknya, kita perlu lebih banyak memikirkan bagian kita setelah kita tahu bahwa dari pihak Allah tidak mungkin berdusta atau tidak setia menepati janji-Nya.

Jika hati dan pikiran kita selalu terarah pada apa yang Allah sanggup lakukan bagi kita maka kita akan menjadi anak yang manja, suka merengek-rengek dan menjadi ngambek jika Dia tidak menuruti keinginan dan harapan kita. Pada saat itu, seharusnya kita mulai mempertanyakan apakah kita benar-benar mengetahui jalan-jalan Tuhan atau selama ini kita mencari manfaat demi kepentingan sendiri dalam hubungan dengan Tuhan.

Putra putri raja yang dewasa dan memahami otoritas kerajaan tidak menggunakan otoritas itu untuk melampiaskan keinginan dan ambisi pribadi. Mereka mengerti ada tanggung jawab, kewajiban, tugas dan bagian yang harus mereka lakukan dalam hidup mereka sebagai putra putri Allah. Keselamatan kita telah dijamin namun hidup bersama Tuhan bukan hidup sesuka hati kita sendiri.
Ada sikap merendahkan diri. Ada iman yang teguh. Ada penyerahan ketakutan lalu menggantinya dengan keteguhan hati. Ada perlawanan dan konfrontasi dengan kuasa kegelapan. Ada penderitaan yang harus kita alami dan tanggung selagi berjalan bersama Tuhan. Paham dan siapkah kita akan semuanya itu?

Hidup bersama Tuhan tidak selalu lancar dan mulus dimana seluruh tantangan, kesulitan dan bahaya akan dibereskan Tuhan bagi kita.
Dia yang Mahakuasa menggunakan kekuasaan-Nya sesuai dengan hikmat dan kehendak-Nya atas masing-masing kita, seturut rencana kebaikan-Nya dalam hidup kita.

Mujizat masih ada dan masih dilakukan Tuhan. Tapi itu bukan berdasarkan kehendak dan kemauan kita. Allah melihat dan menghargai iman kita dengan mengganjar kita dengan berkat-berkat terbaik yang ada pada-Nya. Hanya saja, itu diberikan dalam konteks yang Dia inginkan. Bukan seperti selalu yang kita mau. Seperti yang Petrus katakan: supaya kamu ditinggikan-Nya PADA WAKTUNYA!

Itu sebabnya selalu akan ada tahap-tahap sukar dan berat yang kita lalui.
Meski begitu, dalam segala keadaan kita boleh yakin, Dia tidak pernah meninggalkan kita sendiri.

Dalam cara dan jalan yang (mungkin) tidak kita pahami dimana kita harus melalui jalan terjal dan menurun, Dia PASTI akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kita.

SALAM REVIVAL.
Indonesia penuh kemuliaan Tuhan.

Comments

Popular posts from this blog

SIAPAKAH "ORANG FASIK" ITU?

Oleh: Bp. Peter B. K.               Alkitab seringkali memakai kata “orang fasik”. Secara umum, orang fasik adalah sebutan yang dipakai banyak orang untuk menyebut mereka yang jahat, kejam dan tidak bermoral. Seringkali mereka yang dicap sebagai orang fasik adalah mereka yang jelas–jelas hidup secara jahat dan menentang hukum–hukum yang ada, baik hukum negara, sosial maupun agama. Mereka akan dikenal sebagai pemabuk, penjudi, pecandu, pezinah yang suka ke pelacuran, pencuri, perampok dsb. Bagi dunia, pelaku tindak kriminal-lah orang fasik itu. Benarkah demikian? Kelihatannya Alkitab mempunyai pandangan yang berbeda mengenai siapa yang disebut orang fasik itu. MAZMUR 10 MENJELASKAN PADA KITA BAHWA ORANG FASIK ADALAH ORANG–ORANG: 1       1) Yang tidak peduli akan Allah – atau bahkan menganggap Allah tidak ada (Mzm 10:3-4) Ukuran kefasikan yang dari Allah berbeda. Ini berarti siapa saja – tidak terke...

THE RIGHTEOUS GENERATION

(Renungan dari Mazmur 14) Oleh: Bp. Peter B. K. “Tidak sadarkah semua orang yang melakukan kejahatan yang memakan habis umatKu seperti roti dan yang tidak berseru kepada TUHAN?”   (Mzm 14:4) “Di sanalah mereka ditimpa kekejutan yang besar, sebab Allah menyertai angkatan yang benar.”   (Mzm 14:5) Isu yang sedang marak dibicarakan saat itu adalah mengenai pertentangan antar pengikut agama. Perbedaan – perbedaan dalam keyakinan beragama dimanfaatkan sebagai pemicu untuk berkonfrontasi yang berakhir dengan kekacauan dan kegoncangan yang melanda bangsa kita. Pertanyaan yang terus menerus muncul didalam pikiran saya adalah “Siapakah yang benar? Mengapa semua umat beragama bangkit dan saling berperang? Haruskah membela agama sendiri?” Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa nast diatas memberitahukan kita bahwa Allah tidak menyertai atau berpihak pada agama manapun. Secara  status kewarganegaaran kita beragama Kristen, tetapi Allah tidak membela dan menolong orang – orang yang ...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html