Skip to main content

MENGEVALUASI PENYEMBAHAN KITA

Disampaikan oleh Peter B, MA



“….Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.” 
Yeremia 31:3

Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah. Hai orang Israel. Tuhan Allah kita. Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”
Markus 12:29-30


Dalam kedua hal inilah: kasih dan keadilan Tuhan, manusia seringkali tidak dapat menangkap  dan mengertinya. Sifat egois dan keangkuhan pikiran manusia seringkali lebih mudah mengerti dan ‘senang’ pada kasih karunia daripada keadilan Allah. Atas kasih yang besar itu, manusia yang sudah kehilangan kemuliaan Allah berkata, “Sudah sewajarnya”. Tetapi terhadap keadilan Allah, mulut-mulut pemberontakan berkata, “Itu tidak mungkin” atau “Allah tidak adil”. Kasih karunia diterima sebagai alasan untuk terus hidup dalam dosa dan sebagai alasan untuk tidak bertobat.

Sesungguhnya kasih karunia Allah dimaksudkan sebagai suatu sarana dan kekuatan bagi setiap mereka yang rindu untuk terus menerus tinggal di dalam Dia dan mengejar kekudusan dengan setia. Dimana kita kemah dan merasa tidak mampu, di situlah kasih karuniaNya menopang kita dan memberikan harapan yang tidak berkesudahan. Kasih karunia Allah sama sekali tidak dimaksudkan sebagai pengganti dari hukuman atas mereka yang berdosa dan tidak mau bertobat. Tetapi siapa mau berbalik kepada Allah, menerima kasihNya dan hidup bagi Dia dalam kasihNya itu, maka tidak ada lagi penghukuman bagi dia. KasihNya jauh lebih besar dari penghukuman tetapi jika kasih yang besar itu ditolak maka tidak ada pilihan lain lagi selain hukuman berdasarkan keadilanNya (renungkan dengan penuh kesungguhan Yohanes 3:16-21)

Kasih yang begitu sempurna itulah yang seharusnya menarik dan membawa manusia mendekat, menyembah, menjalin keintiman dengan Allah dan memberikan kasih yang terutama dan seluruhnya bagi Dia. kasih manusia yang mendua, bercabang, dan tidak setia jelas bukan berasal dari pekerjaan Allah. Apa yang berasal dari Allah pastilah selaras dan sesuai dengan sifat-sifatNya. Kasih manusia di masa kini telah mengalami degradasi oleh karena dosa dan tipu daya setan. Kebenaran yang sejati adalah bahwa mustahil kita menyembah Tuhan dan mengasihi dunia.

Jika kita mengasihi dunia pastilah kita bukan penyembahNya dan sebaliknya, jika kita menyembah Tuhan maka dunia bukanlah suatu objek bagi kasih kita. Dalam hal ini Israel telah gagal. Perjalanan mereka selama 40 tahun di padang gurun membuktikan hal itu. Secara lahiriah mereka seola-olah beribadah kepada Allah tetapi sesungguhnya hati mereka tidak pernah tertuju sepenuhnya pada Tuhan. Mereka membuat patung lembu emas, menghujat Tuhan karena sekedar tuntutan perut serta sifat-sifat daging mereka tidak pernah percaya dan berserah pada Tuhan. Penyembahan mereka jelas bukan kepada Tuhan tetapi diri mereka sendiri.

Melihat kepada diri kita pribadi maka seharusnyalah kita yang dipanggil sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, dan umat kepunyaan Allah sendiri..” (1 Petrus 2:9) seperti Israel, kita harus menjaga diri dan hati kita dari segala illah dan perkara lain yang mencoba mengambil alih posisi satu-satunya Tuhan dan Raja kita, Yesus Kristus. Ada batu uji yang cukup baik yang pernah diajukan oleh Dr. A. W. Tozer. Ini merupakan suatu cara yang tajam untuk dapat mengevaluasi diri kita sendiri dan tidak hanya mengetahui siapa kita namun juga bagaimana cara kita hidup dengan setia sebagai pengikut Kristus dalam suatu lingkungan yang penuh dosa dan menggiurkan.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di bawah ini bukanlah untuk kita menilai dan menghakimi banyak orang atau seorang saudara kita, tetapi semata-mata untuk mengoreksi dan menguji hidup kita sendiri  di hadapan Tuhan. Berikut ini 7 pertanyaan itu:

1. Apa yang paling kita inginkan?
2. Apa yang paling sering kita pikirkan?
3. Apa yang kita gunakan dengan uang kita?
4. Apa yang kita lakukan pada waktu senggang kita?
5. Apa perkumpulan/pergaulan yang kita sukai?
6. Apa dan siapa yang kita kagumi?
7. Apa yang membuat kita tertawa?

Mengevaluasi diri kita sendiri menurut kriteria-kriteria ini dalam terang Firman Allah akan membantu kita untuk memahami dengan lebih baik dari kita sendiri dan motivasi-motivasi kita. Apa yang paling kita inginkan di dunia ini? Apa yang kita pikirkan tanpa sadar? Apa yang kita lakukan dengan uang kita yang bebas kita gunakan? Bagaimana kita menggunakan waktu senggang kita? Dengan siapakah kita berteman? Siapakah yang kita  lihat sebagai contoh dan panutan? Apakah rasa humor kita memuliakan Allah atau melayani dunia?

Jawaban yang jujur atas pertanyaan-pertanyaan di atas paling tidak dapat mengungkap seberapa besar  perhatian, ketertarikan, keinginan, kerinduan, bahkan penyerahan kita di hadapan Tuhan. Tujuan dan hasil akhir yang hendak dicapai adalah kita dapat menjadi penyembahan-penyembahan yang sejati (true worshipper), yang dicari dan dikehendaki oleh Bapa di surga. Sekali lagi, kita kembali kepada definisi penyembahan: menempatkan Tuhan setinggi-tingginya dan merendahkan diri kita serendah-rendahnya.

Dalam penyembahan, segala sesuatu seharusnya dipersembahkan dan dipandang sebagai milik Tuhan

Segala sesuatu. Apapun yang kita miliki. (Tapi benarkah kita masih memiliki sesuatu? Bukankah hidup kita sesungguhnya telah dibeli dan lunas dibayar menjadi milikNya?)

Sudahkah kita mengembalikan milikNya? Penyembahan bukan persoalan  dari apa yang kita lihat dan lakukan. Penyembahan adalah masalah hati. Apa yang ada di hati kita mendasari dan menjadi  inti penyembahan kita. Dalam hati yang menyembah, ada komitmen di dalam hati untuk menyembah Dia, dan hanya Dia saja.

Tuhan tidak berubah, demikian pula panggilan dan hukumNya atas umatNya. Hari ini Tuhan masih mencari-cari adakah yang gentar akan FirmanNya? Adakah yang tergerak dan gemetar dalam sujud penyembahan sejati saat Ia berkata,” jangan ada padamu Allah lain dihadapanKu?” AMIN

Comments

Popular posts from this blog

MIMPI PROFETIK

Mimpi diterima oleh Stephen Immanuel (Malaysia)  Tafsiran mimpi diterima oleh Sery M. Lopulalang (Indonesia)  KESALAHAN PARA PEMIMPIN ROHANI YANG MELAKUKAN PEMBIARAN TERHADAP DOSA² DAN KEJAHATAN YANG DILAKUKAN UMAT TUHAN 16 Maret 2020 Saya ingin mengongsikan mimpi saya tadi pagi,  Saya sedang berada di dalam gedung gereja. Sepertinya disitu ada acara ibadah yang besar kerana saya lihat ada ramai orang yang hadir, gereja penuh sehingga saya sendiripun berdiri di bahagian hadapan kerana tiada tempat duduk. Ketika ini semua jemaat lagi melihat persembahan kesaksian dari anak-anak sekolah minggu di pentas/ panggung. Anak-anak ini beratur berbaris memanjang ke belakang ada yang berdiri dan ada juga yang duduk, mereka agak ramai juga. Lalu setelah mereka selesai kesaksian, mereka dikasih permen 🍬🍬 masing-masing oleh ibu² yang bertugas. Setelah itu seorang hamba Tuhan (yang mengacarakan ibadah saat itu) naik ke mimbar dan mengajak jemaat untuk mendoakan anak² tadi. Sel...

HIKMAT TERKAIT KEBODOHAN

Oleh: Bpk. Peter B, MA "Satu orang bodoh melahirkan lebih banyak lagi orang-orang bodoh" -Pepatah Kroasia Sebab itu berhati-hatilah dengan sikap dan tanggapan kita. Jangan berkata atau bertindak bodoh sebab kebodohan menyebar cepat dan menghasilkan kebodohan dan orang-orang bodoh yang semakin banyak. Dari mana kita mengukur kita tidak sedang berbuat bodoh? Dari bagaimana kita menyikapi yang terjadi di sekeliling kita. Orang bodoh mudah emosi, cepat marah, sok tahu, sering merasa benar, dan segera menilai dan berkomentar sebelum berpikir tanpa menyelidiki lebih lanjut. Tidak heran di media sosial begitu hiruk pikuk dengan berbagai komentar yang saling bersahutan melibatkan ribuan orang. Mungkinkah ini karena kebodohan yang menular begitu cepatnya?

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...