Skip to main content

CARA EFEKTIF BERKOMUNIKASI DENGAN ORANG TUA

Oleh Peter B, MA


Ada seorang yang bertanya pada saya "Apakah boleh kita menegor orang tua yang bersikap dan merendahkan saya sebagai anak? Bolehkah kita menasehatinya? Bagaimana caranya supaya saat memberikan masukan orang tua tidak tersinggung?"

Saya merasa ini merupakan problem dari banyak sekali orang yang berada dalam posisi sebagai anak.
Berada di bawah otoritas bukan sesuatu yang mudah dijalani, mengingat ego manusia yang kuat dan selalu ingin dihargai. Apalagi otoritas yang keras dan tidak peduli dengan orang-orang di bawahnya. Salah satu otoritas yang paling membatasi dan mengekang kita sehingga kita selalu merasa serba salah dalam bertindak adalah otoritas orang tua. Dan selalu ada orang tua-orang tua yang pada dasarnya tidak memahami kebenaran atau suka berbicara atau berbuat seenaknya tanpa memiliki kepekaan sikap bahkan terhadap keluarganya sendiri.

Dihubungkan dengan firman Tuhan, diperintahkan pada kita :

Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.
Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:
supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
~ Efesus 6:1-3

Pertama-tama kita harus belajar taat pada orang tua. Kedua, kita wajib menghormati mereka. Taat berarti mau mendengarkan dan mengikuti instruksi mereka. Menghormati berarti menjunjung tinggi mereka dalam hidup kita. 

Ini ditetapkan demikian sebab orang tua, sedikit atau banyak dan biasanya banyak, telah melakukan banyak pengorbanan untuk kita sejak kita berada dalam kandungan, melahirkan, merawat, membesarkan, mendidik, dan menjadi pelindung dan pembela kita selama di bumi. Kita harus tahu berterima kasih pada mereka. Merekalah orang-orang pertama di dunia yang layak mendapatkan penghormatan kita. Belum lagi kenyataan bahwa mereka lebih tua dan merupakan otoritas di atas kita. Ini berlaku TERUTAMA saat kita berada dalam naungan orang tua.

Sedikit berbeda apabila kita telah mandiri dan membentuk keluarga sendiri. Namun sikap hati yang siap untuk taat harus selalu ada. Terlebih lagi menghormati orang tua beribacara lebih jauh daripada itu. Sikap hormat terhadap orang tua jasmani atau rohani kita wajib terus ada di hati dan hidup kita bahkan setelah mereka tiada di dunia ini.

Bagaimana dengan orang tua yang buruk?
Wajibkah kita tetap taat dan menghormati? Ini pembahasan dalam lingkup yang berbeda. Tapi intinya, perintah menghormati orang tua tidak dilakukan dengan syarat dan ketentuan tertentu. Sama seperti istri tunduk kepada suaminya, bagaimanapun suaminya, begitu pula anak-anak wajib menghormati orang tuanya tanpa syarat-syarat yang harus dipenuhi orang tuanya.

Yang dimaksud "menghormati" berarti menempatkan dirinya di posisi yang tinggi, memandangnya berharga dan tidak pernah merendahkan mereka baik di hati atau dalam tingkah laku nyata. Ini bukan saja sudut pandang yang akan menumbuhkan sikap positif tapi juga membuka pintu-pintu berkat bagi kita yang mau untuk belajar dari pengalaman dan kemampuan mereka yang lebih senior dari kita.

Dalam sikap seperti itu pulalah kita membangun komunikasi dengan orang tua kita. Berkomunikasilah dengan segala sikap yang patut dan hormat pada orang tua kita. 

Untuk itu kita perlu memperhatikan:

1) Kendalikan emosi kita. 
Emosi² negatif hanya berdampak buruk bagi kita. Emosi melumpuhkan pikiran dan membutakan mata hati. Jika emosi meluap lebih baik menenangkan diri hingga emosi mereda dan pikiran kembali aktif. Pada saat itulah kita akan lebih mampu berkomunikasi dengan baik dan jernih.

2) Kenali karakter orang tua kita. 
Komunikasi terbaik dibangun berdasarkan karakter orang yang kita ajak komunikasi. Jika ia seorang yang terus terang, berbicara apa adanya akan lebih baik. Tapi jika orang tua kita lebih tertutup dan sering berbicara secara tidak lenaguang melalui simbol, contoh², kisah² atau sindiran² ada baiknya kita pun menggunakan cara yang sama, tetapi dengan penuh hormat juga. Begitulah cara rakyat biasa berbicara dan memberikan masukan pada raja² (lihat 2 Samuel 12:1-22; 17:1-14).
Satu tips lagi, mengingat orang tua selalu dalam posisi yang ingin menasihati dan bukan dinasihati, mintalah saran dan pendapat melalui pertanyaan, sebagaimana nabi Nathan menyampaikan kisah pada Daud dan secara tanpa disadari Daud akhirnya menghakimi dirinya sendiri.

3) Sampaikan maksud dan isi hati kita dalam ketulusan dan tentunya, kasih.
Perlu suatu level kasih tertentu dimana kita mengasihi orang tua kita dengan kasih Tuhan untuk dapat mengkomunikasikan maksud baik kita. Itupun tetap masih berisiko disalahmengerti. Tapi jauh lebih baik menyampaikannya daripada menyimpan dalam hati saja dan mengeluh pada orang lain.

4) Jika ada yang terasa memberatkan kita, komunikasikan kondisi kita itu.
Bagaimanapun kita adalah manusia yang memiliki keterbatasan, tidak semua pekerjaan dapat kita lakukan. Pada saat kita tidak mampu melakukan apa yang diminta oleh orang tua, terlebih baik kita menyampaikannya dengan sejujurnya dan apa adanya. Orang tua yang pada dasarnya masih peduli pada anak-anaknya akan memahami kondisi mereka dan mempertimbangkan hal tersebut di waktu-waktu mendatang.

5) Cari dan mintalah selalu hikmat Tuhan dalam setiap situasi sulit kita hadapi. 
Tuhan menjanjikanuntuk memberikan hikmat pada kita yang meminta kepada-Nya. Hikmat -Nya adalah bukti Ia tidak pernah meninggalkan kita. Bahwa Ia mengerti dan tahu situasi kita, bahkan Ia siap memberikan solusi bagi kita.
Salah satu contoh misalnya, jika memang sangat sulit memberikan masukan kepada orang tua, mintalah bantuan anggota keluarga yang lain, yang mungkin lebih dapat berkomunikasi dengan baik pada orang tua kita. Tentunya semua harus didahului dengan menyampaikan maksud dan tujuan percakapan tersebut. tersebut.

6) Di atas semuanya, selagi kita telah melakukan bagian kita, kita perlu terus menerus memohon campur tangan Tuhan untuk menolong kita melembutkan dan menyadarkan kelemahan-kelemahan mereka yang telah berdampak buruk bagi anak-anak mereka. 
Bagaimanapun kita tidak pernah berjuang dan berusaha sendiri apabila kita melangkah bersama Tuhan.  Saat Tuhan menjadi pengharapan kita, Dia tidak akan pernah mengecewakan.  Ia pasti akan turun tangan dan campur tangan menolong kita.


Jalan-jalan dunia ini mengajarkan pada kita bagaimana bersikap kepada orang tua yang pada dasarnya menyimpang dari kebenaran firman Tuhan. Jika tidak membuat orang sangat mengagungkan dan memuja orang tuanya selayaknya seperti kepada Tuhan, dunia mengajarkan bahwa orang tua itu sejajar dengan kita dan hanya pantas diperlakukan sebagai individu yang lain.
Namun firman Tuhan mengajarkan bahwa menghormati orang tua adalah memperlakukan mereka sebagaimana otoritas patut dihormati dan dikasihi. Menghormati berarti tidak boleh memandang kecil, rendah apalagi hina terhadap orang tua kita sehingga kita berbuat kasar, kejam dan tidak adil kepada mereka. Tetapi menghormati juga bukan berarti kita harus menuruti setiap permintaan dan keinginan mereka seolah-olah mereka penguasa satu-satunya di dalam hidup kita.

Untuk mentaati perintah Tuhan, kita memerlukan kuasa dan kasih yang berasal dari Tuhan sendiri. Oleh kekuatan kasih karunia-Nyalah, kita akan menjadi pelaku-pelaku firman yang berhasil.

Semoga menjadi berkat ketika kita merenungkan dan menghubungkannya dengan keadaan kita selalu memohon Hikmat Tuhan untuk melangkah melaksanakannya. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Comments

Popular posts from this blog

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html

HIKMAT DAN KUTIPAN MENGENAI GEREJA YANG ALKITABIAH

Oleh: Bpk. Peter B, MA Gereja seharusnya menjadi sorga di bumi. Itulah yang dialami oleh jemaat mula-mula yang demikian sehati sehingga saling mengasihi dan milik mereka pribadi seperti milik bersama. Semuanya bukan karena dipaksa oleh suatu sistem yang menganjurkan keadilan sosial bagi semua dimana semua orang sama rata dan sama rasa. Semua karena kasih Tuhan yang bekerja di hati sehingga tidak ada tempat lagi untuk saling curiga dan tidak percaya. Mereka semua tulus dan berkomitmen hidup dalam kasih sesuai perintah junjungan dan Tuhan yang mereka sembah, Yesus Kristus (lihat Kisah Rasul 4). Gereja seperti sebuah komunitas yang ideal dimana semua orang berkumpul, dimuridkan dan bertumbuh sebagai ciptaan baru menuju manusia baru yang berbeda karakter dan gaya hidupnya dengan dunia. Jika hari ini gereja justru tampak seperti dunia, maka itulah waktunya untuk meratap. Sebab gereja telah kehilangan jati diri, intisari dan karakter aslinya sebagaimana yang dirancangkan dan ditetapkan Tuhan...