Skip to main content

KONDISI POLITIK DAN MAKSUD TUHAN ATAS UMAT-NYA



Oleh: Peter B. MA



Nats :
Kemudian bangkitlah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf.
Berkatalah raja itu kepada rakyatnya: "Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita.
Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan — jika terjadi peperangan — jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini."
Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses.
Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu.
Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja,
dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.

~ Keluaran 1:8-14 (TB)
Mesir yang semula begitu menghormati Yusuf, kini telah berubah. Keturunan Yusuf beserta saudara-saudaranya yang telah bertambah demikian banyak kini dimusuhi oleh penguasa Mesir. Bahkan mereka bermaksud untuk melemahkan dan mengurangi jumlah orang-orang keturunan Yakub atau Israel di tanah Mesir. 
Bagaimana bisa suatu bangsa yang semula begitu menghargai Yusuf hingga hampir seluruh pejabat Mesir turut serta mengiring pemakaman Yakub, ayah Yusuf itu, kini berubah 180 derajat hingga ingin membinasakan keturunan dan kaum Yusuf?
Alkitab mencatat itu disebabkan karena mereka lupa akan sejarah. Mereka lupa bahwa bangsa mereka pernah diselamatkan oleh jasa Yusuf. Hati mereka merasa tidak aman, dibayangi rasa takut dan kekuatiran yang besar jika suatu kali nanti bangsa pendatang yang mendiami negeri mereka menjadi lebih kuat daripada mereka. Dengan kekuasaan di tangan mereka, mereka bermaksud mengamankan posisi mereka sekaligus memanfaatkan kaum pendatang untuk kepentingan mereka. Dan dimulailah diskriminasi bahkan penindasan terhadap orang-orang Israel keturunan Yusuf yang dahulu sangat diterima dan disambut baik oleh leluhur mereka.
Demikianlah yang terjadi di dunia hingga kini. Pemerintahan dan politik silih berganti. Ada kalanya pemerintah suatu negara memberikan kelonggaran dan kemudahan pagi umat pilihan Tuhan. Namun ada juga saatnya, situasi berbalik di mana anak-anak Tuhan dipersulit dan dianiaya. Mengapa ini semua bisa terjadi?
Jika kita mau jujur, salah satu faktor utama penyebab semuanya ini adalah sifat manusia itu sendiri. Jangankan sewaktu di Mesir di mana orang Israel merupakan pendatang di sana, menengok sejarah Israel kita tahu tidak semua pemimpin mereka berbuat baik kepada rakyatnya. Catatan Alkitab menunjukkan begitu banyak pemimpin-pemimpin Israel yang lalim, yang memerintah bangsanya dengan keji dan menyengsarakan rakyatnya, yang pada dasarnya merupakan bangsa mereka sendiri.
Pemimpin-pemimpin (politik) yang jahat akan menyebabkan banyak penderitaan kepada siapa pun yang tidak disukainya atau yang tidak diperhatikannya. Pemimpin yang fasik hanya peduli kepada kepentingannya sendiri. Ia digerakkan oleh ambisi dan hawa nafsunya untuk mendapatkan berbagai keinginan dan tujuan pribadinya. Ia bertindak dan memutuskan berdasarkan ketakutan di hatinya ataupun demi mengamankan situasi dan kepentingan-kepentingannya. Pemimpin yang seperti ini mendatangkan kesengsaraan yang besar dan tiada habisnya bagi orang-orang yang di bawah otoritasnya.
Tuhan terkadang mengijinkan pemimpin politik semacam ini naik dan berkuasa sebab Ia dapat menggunakan mereka untuk menggenapi tujuan-tujuan-Nya atas umat-Nya. Meski terlihat berdiam diri dan membiarkan, Ia tetap bekerja di balik layar mengawasi umat-Nya dan campur tangan dalam setiap situasi. Melalui ini semua, ia ingin umat-Nya mengingat akan Dia dan memahami setiap rencana-Nya. Dalam kisah di awal kitab Keluaran ini, Tuhan menggunakan Firaun untuk membuat seluruh Israel ingat akan Allah nenek moyang mereka, Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Dan supaya mereka memalingkan wajah mereka pada dia, mencari pertolongan serta kelepasan daripada-Nya.
Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah.
Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub.
Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka.
~ Keluaran 2:23-25 (TB)
Pelajaran yang dapat kita ambil dari kondisi perpolitikan yang sulit adalah bahwa kita tidak perlu menunggu keadaan kita menjadi sedemikian berat dan sukar untuk mencari Tuhan dan berseru-seru kepada-Nya akan keadaan kita. Ketika pemimpin yang lalim di depan mata, sudah seharusnya kita meminta Tuhan membangkitkan hamba-hamba-Nya yang akan membawa umat-Nya berkemenangan dan membalikkan keadaan. Doa dan ratapan kita menentukan masa depan kita sebagai umat Tuhan. Israel berdoa dan mengerang, dan Tuhan pun membangkitkan seorang Musa untuk mengadakan pembebasan dan melahirkan sebuah bangsa pilihan yang membawa kegentaran dan kesaksian bagi bangsa-bangsa lainnya.
Kondisi sukar yang menimpa gereja Tuhan kerap kali merupakan pertanda bahwa Tuhan hendak mengadakan terobosan untuk masuk dalam tingkatan yang baru. Ia rindu kita meninggalkan zona nyaman dan melangkah memasuki musim yang baru dan tahapan yang lebih tinggi dalam rencana-Nya. Bagian kita ialah dengar-dengaran dan terus melangkah dalam ketaatan, membayar harga untuk masuk lebih jauh dalam kegerakan-Nya.
Jadi jika kita melihat perpolitikan tidak lagi menguntungkan bagi kita, seharusnya kita tahu bahwa kita perlu menjerit dan mengerang di hadapan Tuhan untuk satu pemulihan dan kelepasan ilahi. Bukan dengan terus mempertahankan kenyamanan kita dan menunggu keadaan begitu menekan serta menimbulkan banyak korban. 
Inilah waktunya untuk berseru dan mencari wajah Tuhan. Juga untuk mengenali pimpinan dan petunjuk-Nya akan apa yang seharusnya kita lakukan demi terjadinya suatu terobosan rohani dimana nama Tuhan akhirnya ditinggikan serta dimuliakan, dan sebaliknya kuasa kegelapan dikalahkan dan dipermalukan.
Maukah Anda bersatu dalam ratap tangis dan mengambil bagian membayar harga bagi perubahan Indonesia hari ini?
Salam Revival!
Indonesia penuh kemuliaan Tuhan



Comments

Popular posts from this blog

SIAPAKAH "ORANG FASIK" ITU?

Oleh: Bp. Peter B. K.               Alkitab seringkali memakai kata “orang fasik”. Secara umum, orang fasik adalah sebutan yang dipakai banyak orang untuk menyebut mereka yang jahat, kejam dan tidak bermoral. Seringkali mereka yang dicap sebagai orang fasik adalah mereka yang jelas–jelas hidup secara jahat dan menentang hukum–hukum yang ada, baik hukum negara, sosial maupun agama. Mereka akan dikenal sebagai pemabuk, penjudi, pecandu, pezinah yang suka ke pelacuran, pencuri, perampok dsb. Bagi dunia, pelaku tindak kriminal-lah orang fasik itu. Benarkah demikian? Kelihatannya Alkitab mempunyai pandangan yang berbeda mengenai siapa yang disebut orang fasik itu. MAZMUR 10 MENJELASKAN PADA KITA BAHWA ORANG FASIK ADALAH ORANG–ORANG: 1       1) Yang tidak peduli akan Allah – atau bahkan menganggap Allah tidak ada (Mzm 10:3-4) Ukuran kefasikan yang dari Allah berbeda. Ini berarti siapa saja – tidak terke...

HIKMAT DAN KUTIPAN

DIPANGGIL UNTUK MELAKUKAN HAL YANG BENAR, DENGAN DAN UNTUK ALASAN BENAR

Oleh: Bp. Peter B. K. "Akhir dari zaman ini akan berujung pada pertarungan terakhir antara baik dan jahat, dimana itu akan merupakan suatu konflik supranatural. Jika kita ingin menjadi saksi dari Sang Mahakuasa, kita harus mempunyai kuasa" (1 Kor. 2:4-5; 4:20). Meski konflik itu adalah pertarungan kuasa, itu bukanlah untuk membuktikan siapa yang lebih kuat. Bahkan iblis tahu bahwa Tuhan dengan mudahnya memenangkan peperangan itu. Konflik itu ialah untuk membuktikan kuasa dari yang baik atas yang jahat, kebenaran dari kebohongan, kasih atas sifat mementingkan diri sendiri. Itulah sebabnya disiplin yang dituntut atas mereka yang akan dipakai Tuhan sangatlah berat. KITA DIPANGGIL BUKAN SEKEDAR MELAKUKAN HAL-HAL YANG BENAR, TETAPI MELAKUKAN ITU SEMUA UNTUK ALASAN-ALASAN YANG BENAR. Tuhan tidak hanya ingin kita mampu melakukan pekerjaan-Nya, tapi Dia ingin kita melakukannya karena kita ada dalam kesepakatan dan persetujuan penuh dengan Dia.  Motif-motif kita sangatlah menentukan s...