Skip to main content

BERGERAK MELAYANI SESUAI PIMPINAN KEHENDAK-NYA

Oleh: Peter B, MA



Nats : Yohanes 5:1-13
Bethesda artinya rumah belas kasihan atau House of mercy. Sebenarnya Bethesda adalah kolam di Yerusalem yang dipercaya pada waktu itu mampu mendatangkan kesembuhan secara mujizat. Apabila airnya bergoncang, yang diyakini dibuat demikian oleh malaikat, maka orang yang menceburkan diri ke sana air kolam itu bergolak akan sembuh dari segala penyakitnya.
Hari itu Yesus menuju ke sana. Dari nats yang kita baca, Yesus melewati kolam itu lalu menghampiri seorang yang sudah sakit 38 tahun lamanya. Terbaring tak berdaya, Yesus menawarkan kesembuhan kepadanya. Dan seperti banyak orang lainnya, orang ini menaruh harapannya kepada kolam keramat itu. Dia berkata bahwa dirinya sukar memperoleh kesembuhan sebab ketika air mulai bergoncang ia selalu ketinggalan dan didahului orang lain yang lebih cepat menceburkan diri ke kolam tersebut.
Tanpa banyak berkata-kata lagi, Yesus memerintahkannya untuk bangun dari tidurnya dan mengangkat tilamnya. Seketika mujizat terjadi. Orang yang tidak disebutkan namanya itu tiba-tiba merasa sembuh sehingga ia bangkit dari tidurnya berjalan pergi sambil mengangkat tempat pembaringannya itu.
Berbeda dengan bagian lain dalam Injil, dalam kisah Bethesda ini, tidak disebutkan sedikitpun bahwa orang yang disembuhkan Yesus secara mukjizat ini memiliki iman yang besar atau teguh pada Yesus. Ia sembuh, itu saja. Dan di sinilah bagian ini menjadi menarik untuk kita selami.
Pertanyaan yang menggelitik pikiran saya adalah mengapa di antara ratusan atau mungkin ribuan orang sakit yang membutuhkan kesembuhan, hanya satu orang ini yang dijamah dan disembuhkan Tuhan? Tidakkah semuanya membutuhkan pemulihan, kelepasan dan kesembuhan dari penderitaan mereka? Mengapa Tuhan hanya mempedulikan satu orang ini dan seolah-olah tidak peduli kepada lebih banyak orang yang ada di sana? Mengapa Ia, yang sebenarnya sanggup melakukan apapun juga dan yang mustahil sekalipun, tidak serta merta menyembuhkan semuanya?
Pada wilayah ini, kita tidak pernah tahu jawabannya. Itu merupakan misteri Ilahi. Yang mungkin saja baru kita akan pahami setelah kita melihat arsip-arsip Surga dan berbincang dengan Tuhan sendiri. Namun ada pelajaran yang masih dapat kita tarik dari kesembuhan satu orang di kolam Bethesda ini.
Pertama. Belas kasihan Tuhan itu besar, begitu pula kuasa-Nya, namun Ia menggunakannya HANYA SETURUT hikmat, kehendak dan rencana-Nya yang terbaik sebagaimana yang ada di dalam pikiran-Nya yang sempurna.
Meskipun Ia menaruh kasih kepada semua yang sakit dan menderita di dunia ini dan Ia mampu menyembuhkan mereka semua, tidak selalu Ia akan melakukannya, meskipun Ia pasti akan menguatkan siapapun yang berseri-seri kepada-Nya.
Tuhan bukan Jin Aladin, yang ketika kita meminta sesuatu padanya, apapun keinginan kita akan dikabulkan begitu saja. Ia tidak begitu saja memenuhi apapun permintaan kita. Kita boleh mengharapkan mujizat diberikan kepada kita namun kita tidak dapat memaksakan hal itu pada Tuhan. Ia mengadakan mujizat sekehendak hati-Nya sendiri, sesuai dengan yang dirancangkan-Nya dalam hidup masing-masing orang.
Tuhan juga bukan mesin yang akan selalu menghasilkan apa yang kita inginkan ketika kita menjalankan atau memberikan perintah kepadanya. Dalam kedaulatan-Nya, Ia tidak akan membiarkan diri-Nya diperintah dan dikendalikan oleh siapapun. Dan dalam kemahatahuan-Nya, Ia pasti tahu segala sesuatu yang terjadi dan tiap-tiap tindakannya sudah pasti merupakan keputusan terbaik bagi seluruh alam semesta. Dalam hikmat-Nya, Ia tidak akan pernah salah, sehingga nantinya terbutki bersikap tidak adil atau berat sebelah terhadap apapun terjadi, baik maupun buruk, di jagad raya ini. Akan semua hal ini, kita tidak perlu dan tidak layak meragukannya.
Tuhan mempunyai maksud saat Ia mengadakan mujizat. Namun Ia juga memiliki maksud saat Ia memilih tidak melakukan apapun mujizat sebagaimana yang kita harapkan. Tidak semua masalah penderitaan di dunia ini, YANG KEBANYAKAN HASIL DARI KEKELIRUAN DAN PENYIMPANGAN MANUSIA SENDIRI YANG BERKERAS DALAM DOSA, akan diselesaikan dan dihilangkan begitu saja dengan mendesak Tuhan melakukan tindakan ajaib terhadap itu semua.
Bagian kita adalah mencari tahu dan bertanya mengapa Ia tidak mengadakan mukjizat bagi kita (2 Kor.12:7-10). Yakinlah bahwa Dia yang berjanji bahwa jika kita mencari Dia dengan segenap hati maka kita akan menemukan Dia, akan memberikan jawaban atau hikmat -Nya bagi kita yang sedang mengalami penderitaan atau ujian dalam hidup (Yer. 29:12-14a; Yak.1:2-5).
Kedua. Lebih dari sekedar berhasrat menolong orang lain dan menyalurkan kuasa Tuhan apalagi melalui berbagai peragaan mukjizat bagai festival pertunjukan kuasa yang tiada habisnya, setiap pelayan Tuhan perlu selalu dipimpin Roh Kudus supaya dapat melayani makin hari makin bergerak tepat sesuai kehendak Bapa di surga.
Sebagai murid-murid Yesus, kita seharusnya belajar melayani seperti Yesus. Dipenuhi dengan belas kasihan dan kuasa Allah, Yesus hanya bergerak dan melayani sesuai pimpinan dan kehendak Bapa-Nya semata. Yesus tahu, Ia dipanggil dan menjalani hidup sebagai seorang hamba bukan untuk menyelesaikan semua masalah di dunia atau memperagakan kehebatan Allah dimana-mana namun semata-mata hanya untuk melakukan kehendak Bapa yang mengutus-Nya.
Belas kasihan kita atau keyakinan kita akan kuasa supranatural yang Tuhan berikan kepada kita sebagai hamba-hamba -Nya tidak boleh melampaui batas-batas tugas yang dikehendaki Allah untuk kita kerjakan.
Tanda bahwa kita adalah hamba Tuhan, nyata dari kejelasan pengetahuan kita akan kehendak Tuhan lalu melaksanakan perintah kehendak-Nya itu dalam sikap tunduk taat sepenuhnya kepada Dia. Bukan dari banyak dan besarnya pelayanan yang kita lakukan. Itu sebabnya, Filipus setelah mengadakan kampanye penginjilan satu kota besar yaitu Samaria, dalam sekejap diutus menginjili satu orang (saja) sida-sida Ethiopia (Kisah. 8:4-12, 26-39). Yang melalui catatan ini, Tuhan hendak menunjukkan bahwa entah pelayanan itu berskala besar atau kecil, melayani satu kota atau satu orang saja, nilainya sama di mata Tuhan dan yang benar-benar rela mengerjakannya dalam segala kerelaan dan kesungguhan tanpa pilih-pilih di hadapan Tuhan adalah hamba-hamba-Nya yang sejati.
Jika kita mengaku melayani Tuhan namun kita bergerak atas dasar emosi, keinginan, kehendak, rencana serta tujuan-tujuan yang lahir dari pikiran kita sendiri, meski kita akui sebagai kehendak Tuhan, kita sesungguhnya bukan melayani Tuhan tetapi menggunakan Tuhan sebagai alasan bagi acara dan program-program kita sendiri kita yang sebenarnya didasari motif serta tujuan pribadi yang seringkali mementingkan dan menonjolkan diri.
Akhir kata, kita dipanggil untuk sedapat-dapatnya senantiasa bergerak dalam pimpinan hikmat dan kehendak Tuhan. Juga untuk memahami jalan-jalan Tuhan sehingga kita dapat melayani dan menjadi berkat bagi dunia tepat sesuai dengan kehendak-Nya supaya Ia berkenan dan kitapun diakui-Nya sebagai hamba-hamba sejati-Nya.
Biarlah belas kasihan memenuhi hati kita dan biarlah iman kita teguh meyakini kuasa -Nya yang tak terbatas itu. Namun lebih dari semua, kita harus memahami bagaimana cara Tuhan bekerja di dunia ini sehingga kita selaras, selangkah dan seirama dengan Dia sebagai yang empunya pekerjaan di muka bumi ini. Hanya dengan cara itu kegerakan dan rencana-Nya dapat digenapi sampai kesudahannya.
Salam Revival
Indonesia penuh kemuliaan Tuhan.

Comments

Popular posts from this blog

MIMPI PROFETIK

Mimpi diterima oleh Stephen Immanuel (Malaysia)  Tafsiran mimpi diterima oleh Sery M. Lopulalang (Indonesia)  KESALAHAN PARA PEMIMPIN ROHANI YANG MELAKUKAN PEMBIARAN TERHADAP DOSA² DAN KEJAHATAN YANG DILAKUKAN UMAT TUHAN 16 Maret 2020 Saya ingin mengongsikan mimpi saya tadi pagi,  Saya sedang berada di dalam gedung gereja. Sepertinya disitu ada acara ibadah yang besar kerana saya lihat ada ramai orang yang hadir, gereja penuh sehingga saya sendiripun berdiri di bahagian hadapan kerana tiada tempat duduk. Ketika ini semua jemaat lagi melihat persembahan kesaksian dari anak-anak sekolah minggu di pentas/ panggung. Anak-anak ini beratur berbaris memanjang ke belakang ada yang berdiri dan ada juga yang duduk, mereka agak ramai juga. Lalu setelah mereka selesai kesaksian, mereka dikasih permen 🍬🍬 masing-masing oleh ibu² yang bertugas. Setelah itu seorang hamba Tuhan (yang mengacarakan ibadah saat itu) naik ke mimbar dan mengajak jemaat untuk mendoakan anak² tadi. Sel...

HIKMAT TERKAIT KEBODOHAN

Oleh: Bpk. Peter B, MA "Satu orang bodoh melahirkan lebih banyak lagi orang-orang bodoh" -Pepatah Kroasia Sebab itu berhati-hatilah dengan sikap dan tanggapan kita. Jangan berkata atau bertindak bodoh sebab kebodohan menyebar cepat dan menghasilkan kebodohan dan orang-orang bodoh yang semakin banyak. Dari mana kita mengukur kita tidak sedang berbuat bodoh? Dari bagaimana kita menyikapi yang terjadi di sekeliling kita. Orang bodoh mudah emosi, cepat marah, sok tahu, sering merasa benar, dan segera menilai dan berkomentar sebelum berpikir tanpa menyelidiki lebih lanjut. Tidak heran di media sosial begitu hiruk pikuk dengan berbagai komentar yang saling bersahutan melibatkan ribuan orang. Mungkinkah ini karena kebodohan yang menular begitu cepatnya?

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...