Skip to main content

MENGANDALKAN TUHAN MENOLONG KITA MENJADI PELAKU FIRMAN



Oleh : Peter B, MA



Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku sama sekali.
~ Mazmur 119:8 (TB)

Aku akan taat kepada hukum-Mu; janganlah sekali-kali tinggalkan aku!
~ Mazmur 119:5 (BM)

Aku akan melakukan apa yang Kau perintahkan untuk kulakukan; jangan pernah menjauh dan meninggalkan aku.
Mazmur 119:7 (MSG)


Mazmur 119 memberitahukan kita banyak hal mengenai bagaimana kita berhubungan dengan firman Tuhan. Jika mempelajarinya dengan tekun, kita akan tahu seluk beluk atas apa yang menjadi maksud dan tujuan firman Tuhan. Di dalamnya, tak sedikit referensi mengenai Sang Perancang firman itu sendiri. Dan yang paling utama, dari Mazmur 119 kita dapat belajar bagaimana sikap hati, pikiran, perasaan, kehendak bahkan gaya hidup orang yang sungguh-sungguh mau belajar melakukan perintah Tuhan dalam hidupnya.

Bagi mereka yang rindu menjadi pelaku-pelaku firman, Mazmur 119 menyimpan rahasia yang besar tentang bagaimana hidup kita dapat menggenapi perintah dan janji Yesus Kristus sendiri, "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya" (Lukas 11:28)

Nats yang menjadi fokus perenungan kita merupakan suatu doa kepada Tuhan. Suatu doa supaya tidak ditinggalkan Tuhan, saat melangkah menjadi pelaksana perintah-perintah-Nya.

"Jangan tinggalkan aku sama sekali" merupakan pernyataan ketidakmampuan diri sebagai manusia biasa dalam melaksanakan kehendak Tuhan.
Mengapa pemazmur merasa tidak mampu? Sebab dalam melakukan firman, tidaklah mudah. Orang harus melawan kecenderungan dirinya yang dikuasai nafsu dan sifat-sifat kedagingan yang berbeda jalan dengan firman Tuhan. Tidak hanya itu, terkadang kita harus menghadapi cemooh, hinaan, cibiran dan sikap sinis lingkungan sekitar karena dipandang sebagai sok suci dan kaum fanatik. Pada umumnya, gaya hidup taat kepada Tuhan akan dijauhi oleh dunia. Sungguh suatu perjuangan yang besar untuk menjadi pelaku firman sejati. Tidak sedikit yang merasa lemah sebelum melangkah, merasa kalah sebelum berperang.

Meski begitu, di pihak lain, ada sebagian orang yang terlalu percaya diri. Entah karena kurang mengetahui ukuran yang benar atau ia memandang dirinya sendiri terlalu tinggi, merasa mampu menjadi pelaku firman. Ia cukup yakin bahwa dirinya telah berhasil melakukan ketetapan-ketetapan Tuhan (lihat Markus 10:19-20). Hanya, benarkah seseorang benar-benar mampu melaksanakan kehendak Tuhan dengan kekuatannya sendiri?

Pemazmur mengetahui benar akan keterbatasan dan kelemahannya. Sebab itu, ia tak ingin melangkah berdasar kemampuan manusiawinya. Mengikut Tuhan yang tak terlihat, sedangkan kita bagai domba yang lemah, kita memerlukan kekuatan di luar kita (yaitu kekuatan dan kuasa Tuhan), yang melampaui keterbatasan kita, untuk menolong supaya kita berhasil mengamalkan perintah Tuhan


"Janganlah sekali-sekali meninggalkan aku" merupakan ekspresi ketergantungan pada Allah supaya dimampukan memegang perintah-perintah Tuhan dalam hidup.
Kerinduan untuk melakukan firman Tuhan seharusnya disertai suatu ketergantungan kepada Sang Pemberi Firman, satu-satunya yang dapat menolong dan memberikan segala yang kita perlukan untuk melaksanakan perintah-Nya. Kita harus selalu meminta bimbingan, nasihat, petunjuk, bahkan kekuatan supaya kita tidak menyerah dan menjadi lemah.
Dia yang memberikan kepada kita perintah untuk "menjadikan segala bangsa murid-Nya" bukankah Dia pula yang berjanji akan "menyertai kita sampai akhir zaman"? (Lihat Matius 28:18-20). Itu sebabnya kita seharusnya tidak mengandalkan kekuatan sendiri lalu percaya kepada akal pikiran kita sendiri dalam mengerjakan kehendak Tuhan. Kita harus bergantung kepada-Nya oleh karena kita terlalu lemah untuk perintah-Nya yang tampak sukar dari perspektif insani. Juga supaya kita mengerjakan apa yang tepat di hati-Nya sehingga hati-Nya bersuka karena kita.

Hanya dengan tuntunan, penghiburan dan perlengkapan ilahi saja kita sanggup menunaikan mandat dan tugas yang juga ilahi itu.


"Jangan Engkau menjauh dan meninggalkan aku" ialah isi hati seorang murid, hati yang rindu untuk belajar dari Tuhan, yang bersungguh hati mau mengikuti petunjuk Tuhan, yang oleh karenanya berpaling pada Tuhan untuk menjadikannya berhasil

Seorang murid adalah seorang yang belajar. Seseorang yang mengambil posisi untuk diajar. Ia harus rendah hati dan menyediakan diri untuk dibimbing dan diarahkan lebih lanjut. Seorang murid bergantung pada gurunya sebab kepada sang gurulah, ia meletakkan keyakinan dan pengharapan untuk mencapai tingkat yang sama dengan gurunya. Seorang murid tahu dalam bimbingan sang guru dan dalam ketaatannya pada bimbingan itu, ia akan mencapai target pembelajarannya. Itu sebabnya, ia senantiasa berharap disertai dan diarahkan setiap waktu.

Beberapa orang yang ingin melakukan kehendak Tuhan memulainya dengan dasar sikap hati yang keliru. Mereka baru tahu sedikit tetapi seolah sudah memastikan apa yang Tuhan inginkan. Dengan sederet koleksi data berisi pengetahuan hal-hal tentang Tuhan, mereka bersikap seperti sudah mengenal pribadi dan isi hati Tuhan, bahkan dengan berani menilai dan mengklaim Tuhan itu seperti apa. Mereka percaya bukan pada pimpinan Roh Kudus, yang merupakan roh hikmat dan wahyu itu, untuk mengenal Tuhan dengan benar. Mereka menaruh keyakinan pada kemampuan nalar manusiawi mereka yang terbatas dipandang mampu memahami yang tak terbatas, padahal rancangan Tuhan yang kerap kali merupakan kebalikan dari hikmat dunia ini (lihat 1 Korintus 1:18-20; Yesaya 55:8-9). Sejatinya, ini adalah sesuatu yang bodoh, sekalipun dipoles dan ditampilkan dengan berbagai argumen dari olah pikir yang meyakinkan.

Dengan keberadaan kita yang sebelumnya hidup sebagai manusia lama, yang terbiasa mengikuti pola-pola duniawi yang jauh dari pengenalan akan Allah, mustahil kita dapat melakukan firman Tuhan tanpa pertolongan dari Tuhan sendiri. Itu sebabnya, Roh Kudus diutus untuk memimpin kita dalam seluruh kebenaran (Yohanes 16:13). Dan kita pun harus bergantung kepada Dia, yang memberikan kuasa kepada kita untuk hidup sesuai kerinduan-Nya (Kisah Para Rasul 1:8; 2 Timotius 1:7). Sikap mengandalkan kekuatan Tuhan ini hanya mungkin ketika kita cukup rendah hati mengakui bahwa kita ini lemah, mudah sesat dan tertipu, dan kurang dalam hikmat sejati. Memiliki sifat yang merupakan kebalikan dari ini, justru akan membawa kita semakin jauh dari praktek-praktek kebenaran. Yang percaya akan dirinya sendiri akan jatuh dalam kesombongan, meskipun mereka mempelajari firman. Mereka akan merasa dirinya telah cukup tahu dan mengklaim diri benar di mata Tuhan. Alih-alih melakukan kehendak Tuhan, mereka menentang Tuhan dan berpihak pada iblis bahkan dengan mengatas namakan sedang mengamalkan hukum-hukum Tuhan.


Untuk menjadi pelaku firman, kita perlu bergantung pada Tuhan. Pada kekuatan kuasa-Nya, kasih karunia-Nya, hikmat-Nya dan kehadiran-Nya yang menyertai kita. Inilah sebabnya mengapa pada akhirnya dikatakan "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)

Keberhasilan kita kelak menerima upah kekal sebenarnya bukan karena kemampuan dan kehebatan kita. Semua karena Ia telah begitu sabar dan dengan penuh cinta menopang kita yang lemah dan kecil ini hingga kesudahan segala sesuatu

Oh biarlah hati kita tetap tertuju dan mengandalkan Dia.
Biarlah kiranya diberikan dan tetap senantiasa hati seorang murid menjadi milik kita.

Ya Tuhan, ajar kami senantiasa memandang kepada-Mu, supaya kami senantiasa menanti-nantikan pimpinan-Mu, peneguhan-Mu, dan kekuatan-Mu sebelum berkata-kata, memutuskan sesuatu dan melakukan sesuatu.
Jangan pernah tinggalkan kami, melainkan tuntunlah kami sebab kami mau berjalan dalam kehendak-Mu.

Salam revival
Indonesia penuh kemuliaan Tuhan

Comments

Popular posts from this blog

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html

HIKMAT DAN KUTIPAN MENGENAI GEREJA YANG ALKITABIAH

Oleh: Bpk. Peter B, MA Gereja seharusnya menjadi sorga di bumi. Itulah yang dialami oleh jemaat mula-mula yang demikian sehati sehingga saling mengasihi dan milik mereka pribadi seperti milik bersama. Semuanya bukan karena dipaksa oleh suatu sistem yang menganjurkan keadilan sosial bagi semua dimana semua orang sama rata dan sama rasa. Semua karena kasih Tuhan yang bekerja di hati sehingga tidak ada tempat lagi untuk saling curiga dan tidak percaya. Mereka semua tulus dan berkomitmen hidup dalam kasih sesuai perintah junjungan dan Tuhan yang mereka sembah, Yesus Kristus (lihat Kisah Rasul 4). Gereja seperti sebuah komunitas yang ideal dimana semua orang berkumpul, dimuridkan dan bertumbuh sebagai ciptaan baru menuju manusia baru yang berbeda karakter dan gaya hidupnya dengan dunia. Jika hari ini gereja justru tampak seperti dunia, maka itulah waktunya untuk meratap. Sebab gereja telah kehilangan jati diri, intisari dan karakter aslinya sebagaimana yang dirancangkan dan ditetapkan Tuhan...