Skip to main content

TINDAKAN BELAS KASIHAN (3)



Oleh: Peter B,



“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Matius 9:36-38)


Dalam menyatakan belas kasihan, terpenting dari semuanya adalah bentuk kasih yang menjadi pendorong tindakan tersebut. Tindakan sehebat atau semulia apapun tanpa kasih yang sempurna, kasih tak bersyarat itu, semuanya adalah sia-sia. Kasih agape harus menjadi motif penggerak kita untuk menyatakan belas kasihan. Hal kedua yang terpenting setelah agape adalah mengetahui dengan cara apa kita menyatakan belas kasihan itu, mewujudkan agape itu.


Bagian sebelumnya telah memberikan pengantar kepada kita dengan mengamati bagaimana Kristus menyatakan belas kasihanNya. Dan ternyata Kristus menyatakan belas kasihan itu dalam berbagai-bagai tindakan yang pada dasarnya berbeda-beda. Yesus tidak menyatakan belas kasihanNya melalui cara yang sama setiap waktu. Ia mempraktekkan kasih itu melalui memberi makan yang lapar, mengasihi mereka yang menderita tetapi Ia juga melakukannya dalam bentuk memberikan mereka pengajaran, mengadakan mujizat kebangkitan dan lain sebagainya. Pelajaran apakah yang dapat kita ambil dari semua contoh-contoh di atas?


Rasul Paulus pernah berkata dalam ilham Roh, “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang” (1Korintus 12:4-6). Dalam hubungannya dengan apa yang kita pelajari, kita dapat juga mengatakan bahwa ada rupa-rupa karunia, rupa-rupa pelayanan, dan berbagai-bagai perbuatan ajaib tetapi semua berasal dari satu sumber yaitu Roh Allah yang mencurahkan kasih itu dalam hidup kita. Salah satu wujud buah Roh adalah kasih. Dalam persekutuan dengan Roh Kudus kita akan merasakan kasih, menerima kasih, dialiri kasih, dan dipenuhi kasih itu sehingga kemudian kita tidak tertahankan lagi untuk menyatakan kasih itu kepada semua orang. Satu Roh yang mengerjakan kasih itu dan Roh itu pula yang menyatakan diri dalam berbagai-bagai tindakan melalui rupa-rupa karunia dan pelayanan.


Di sini kita melihat satu prinsip yang penting yaitu bahwa Roh Kudus yang diam dan bekerja di dalam kita tidak pernah menyatakan diri dalam sejenis atau satu bentuk pelayanan saja. Keseragaman bukan gaya Tuhan. Ia menyukai keberagaman, berbeda namun satu, keharmonisan dalam ketidaksamaan bentuk. Itulah inti dari persatuan tubuh Kristus. Seperti anggota-anggota tubuh yang berbeda-beda tetapi saling membutuhkan dan saling melengkapi, demikianlah setiap anggota-anggota tubuh Kristus saling melengkapi, bahu membahu, bekerja sama dalam persatuan dan keselarasan menyatakan belas kasihan kepada dunia yang terhilang, menjangkau mereka bagi kemuliaan Tuhan. Jadi pada dasarnya, tindakan belas kasihan tidak pernah dinyatakan dalam bentuk yang selalu sama. Dan kita mendapatkan pokok penting kedua dalam menyatakan tindakan belas kasihan. Yang pertama, didorong oleh agape. Yang kedua, itu harus dinyatakan sesuai dengan karunia-karunia kita dan mengambil wujud nyata dalam rupa-rupa pelayanan.


Untuk lebih memperjelas pembahasan ini, kita akan melihat dalam Matius 9:35-38: “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Kebutuhan dunia yang terhilang ini begitu besar. Dunia ini telah lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Domba yang tidak bergembala berarti domba yang amat sangat menderita, tidak ada satu kebutuhan pokoknya terpenuhi. Domba yang tak bergembala tidak mendapat makan atau minum yang baik, ia jauh dari perlindungan, tidak memperoleh pimpinan, tanpa penghiburan, tak mengetahui arah dan tujuan, dekat dengan sakit penyakit serta kematian. Kebutuhan domba itu banyak dan domba-domba itupun banyak jumlahnya. Tidak mungkin satu orang dapat melayani semuanya dan juga sangat tidak mungkin satu macam pelayanan melayani bermacam-macam kebutuhan mereka yang lelah dan terlantar ini. Oleh karena itu jelaslah bagi kita bahwa untuk menyatakan belas kasihan kepada orang lain, kita tidak hanya harus dipenuhi dan digerakkan oleh agape tetapi juga harus mengetahui karunia-karunia roh sehingga kita tahu pelayanan apakah yang dapat kita lakukan sebagai pernyataan tertinggi dari belas kasihan Bapa yang ada dalam hati kita. Itulah sebabnya kita diperintahkan untuk meminta kepada Bapa, pekerja-pekerja untuk tuaian yang sangat besar itu.


Yesus adalah teladan manusia dalam kesempurnaan. Semua karunia Roh ada padaNya. Maka Yesuspun menggunakan setiap karunia-karunia itu sebagai saluran untuk menyatakan belas kasihan Bapa. Itulah yang memang sebenarnya menjadi tujuan dari karunia-karunia Roh yang diberikan Allah kepada kita yaitu untuk menjadi alat bagi kita dapat menyalurkan kasih Allah kepada dunia. Dalam kasus Ibu Theresa, karunia Roh yang ada padanya yaitu karunia kemurahan menyatakan diri dalam perbuatan melayani mereka yang sakit kusta, menderita, dan miskin. Karunia yang lain mungkin tidak menyatakan diri melalui tindakan-tindakan yang demikian tetapi bukan berarti mereka yang tidak melayani dengan cara sedemikian tidak memiliki belas kasihan, Ingatlah: belas kasihan itu pertama-tama ada di hati. Baru kemudian melalui karunia-karunia Roh dinyatakan dalam tindakan untuk melayani kebutuhan dunia yang hilang ini.


Saudaraku, sekarang bagaimana dengan kita? Pada bagian akhir dari renungan mengenai belas kasihan ini, kita akan menyatukan semua yang telah kita pelajari selama ini. Setiap penyembah yang sejati pasti memiliki dan menyatakan belas kasihan. Adalah dusta jika mereka mengaku pengikut Kristus dan menjadi penyembah-penyembahNya tetapi tidak memiliki belas kasihan sama sekali. Belas kasihan itu dari kasih yang tulus dan tanpa syarat, kasih Allah sendiri. Perwujudannya melalui berbagai tindakan pelayanan sesuai dengan karunia-karunia berbeda dari Roh Kudus yang telah dibagikan Tuhan kepada kita. Pertanyaannya bagi kita sekarang adalah: Sudahkah kita memiliki kasih bagi sesama? Adakah kepedulian kita kepada sesama manusia di dunia, khususnya mereka yang lelah dan terlantar, mereka yang sedang meluncur ke neraka atau mereka hidupnya diporak-porandakan oleh kuasa-kuasa kegelapan? Sudahkah kita melayani dengan kasih tanpa syarat, tanpa mengharapkan imbalan apapun, semata-mata karena Allah? Apakah kita telah menyatakan belas kasihan itu melalui karunia-karunia rohani yang ada pada kita?


Hingga hari ini, kenyataan yang kita jumpai di lading Tuhan sungguh jauh berbeda. Banyak kali tidak ada yang peduli kepada mereka yang terhilang, lelah dan telantar. Orang-orang Kristen kebanyakan bersikap cuek, tidak mau ambil pusing, hanya peduli dengan hidup pribadi mereka sendiri. Yang lainnya berusaha menyatakan kasih tetapi kasih itu bermotif duniawi, tidak tulus, mengharapkan keuntungan. Sisanya juga menyedihkan: giat melayani dengan tulus namun TIDAK TEPAT SESUAI KARUNIA DAN TUJUAN HIDUP MEREKA padahal pelayanan tanpa karunia rohani dan visi yang jelas akan menghasilkan apa saja kecuali hasil yang benar dan dikehendaki Allah. Apabila kita melayani dengan menurut kehendak kita sendiri, bukan saja kita tidak dapat secara penuh menyatakan kasih Allah dalam setiap pelayanan kita, tetapi kita sendiri juga akan mengalami perasaan frustrasi karena pengingkaran terhadap hati kita maupun karena hasil yang tidak seperti yang kita harapkan. Oleh karena itu, hai penyembah-penyembah sejati, nyatakanlah belas kasihan itu dengan cara Allah. Amin.


(Diambil dari warta Worship Center edisi 33 – 23 Agustus 2002)






Comments

Popular posts from this blog

SIAPAKAH "ORANG FASIK" ITU?

Oleh: Bp. Peter B. K.               Alkitab seringkali memakai kata “orang fasik”. Secara umum, orang fasik adalah sebutan yang dipakai banyak orang untuk menyebut mereka yang jahat, kejam dan tidak bermoral. Seringkali mereka yang dicap sebagai orang fasik adalah mereka yang jelas–jelas hidup secara jahat dan menentang hukum–hukum yang ada, baik hukum negara, sosial maupun agama. Mereka akan dikenal sebagai pemabuk, penjudi, pecandu, pezinah yang suka ke pelacuran, pencuri, perampok dsb. Bagi dunia, pelaku tindak kriminal-lah orang fasik itu. Benarkah demikian? Kelihatannya Alkitab mempunyai pandangan yang berbeda mengenai siapa yang disebut orang fasik itu. MAZMUR 10 MENJELASKAN PADA KITA BAHWA ORANG FASIK ADALAH ORANG–ORANG: 1       1) Yang tidak peduli akan Allah – atau bahkan menganggap Allah tidak ada (Mzm 10:3-4) Ukuran kefasikan yang dari Allah berbeda. Ini berarti siapa saja – tidak terke...

HIKMAT DAN KUTIPAN

DIPANGGIL UNTUK MELAKUKAN HAL YANG BENAR, DENGAN DAN UNTUK ALASAN BENAR

Oleh: Bp. Peter B. K. "Akhir dari zaman ini akan berujung pada pertarungan terakhir antara baik dan jahat, dimana itu akan merupakan suatu konflik supranatural. Jika kita ingin menjadi saksi dari Sang Mahakuasa, kita harus mempunyai kuasa" (1 Kor. 2:4-5; 4:20). Meski konflik itu adalah pertarungan kuasa, itu bukanlah untuk membuktikan siapa yang lebih kuat. Bahkan iblis tahu bahwa Tuhan dengan mudahnya memenangkan peperangan itu. Konflik itu ialah untuk membuktikan kuasa dari yang baik atas yang jahat, kebenaran dari kebohongan, kasih atas sifat mementingkan diri sendiri. Itulah sebabnya disiplin yang dituntut atas mereka yang akan dipakai Tuhan sangatlah berat. KITA DIPANGGIL BUKAN SEKEDAR MELAKUKAN HAL-HAL YANG BENAR, TETAPI MELAKUKAN ITU SEMUA UNTUK ALASAN-ALASAN YANG BENAR. Tuhan tidak hanya ingin kita mampu melakukan pekerjaan-Nya, tapi Dia ingin kita melakukannya karena kita ada dalam kesepakatan dan persetujuan penuh dengan Dia.  Motif-motif kita sangatlah menentukan s...