Skip to main content

12 PERTANYAAN UTAMA UNTUK MENILAI DIRI Apakah Anda menghidupi kerohanian sejati atau agamawi semata?


Oleh : Peter B, MA



1) Apakah secara mental, Anda lebih sering menilai orang lain / segala sesuatu di luar diri Anda daripada menilai dan memeriksa diri Anda sendiri?

2) Apakah Anda mengalami pertumbuhan rohani setelah sekian lama menjadi orang Kristen? Dapatkah Anda mengukur apakah Anda seorang kanak-kanak rohani, orang muda rohani atau dewasa rohani saat ini? 

3) Dapatkah Anda menjawab dengan lugas dan tegas apa makna mengikut Yesus Kristus itu?

4) Apakah Anda secara konstan berkomunikasi dua arah dengan Tuhan? Apakah hubungan Anda dapat secara yakin Anda gambarkan sebagai hubungan yang hidup, hangat, intim dan personal dengan Tuhan? 


5) Apakah kegiatan ibadah dan pelayanan yang Anda lakukan lebih merupakan prakterk-praktek rutin serta suatu bentuk kewajiban moral daripada suatu aktifitas-aktifitas penuh gairah dan semangat kudus karena rasa cinta dan karena kehormatan melayani Sang Raja?


6) Apakah Anda telah cukup jelas dan lancar (tidak gagap atau kebingungan) mengaplikasikan prinsip-prinsip firman Tuhan yang Anda baca, terima dan dengarkan melalui berbagai sumber dengan masalah, tantangan dan urusan Anda sehari-hari (atau sewaktu hendak menyikapi kasus atau persoalan yang sedang dihadapi orang lain maupun yang terjadi di sekitar Anda)?

7) Apakah Anda cukup memahami ukuran-ukuran rohani yang benar dan jelas sesuai prinsip-prinsip Alkitab dalam kaitannya dengan berbagai bidang kehidupan?

8) Apakah gairah dan hasrat Anda sehari-hari lebih banyak tertuju kepada Tuhan dan kepada apa yang berasal dari-Nya sehingga Anda dimampukan lebih berkenan kepada-Nya daripada menggunakan waktu, tenaga dan sumber daya Anda lainnya untuk tersita dan sibuk tertuju pada urusan-urusan sehari-hari yang ada di dunia ini saja?
Apakah Anda benar-benar rindu mengenal Tuhan lebih lagi dan mengusahakannya dengan sekuat tenaga setiap hari?

9) Apakah Anda mencari kejelasan petunjuk hikmat dan kehendak Tuhan dalam memutuskan pilihan-pilihan Anda sehari-hari?

10) Apakah Anda lebih merasa malu melakukan kesalahan di hadapan Tuhan daripada di hadapan orang / manusia?  


11) Apakah di dasar hati Anda, Anda yakin sepenuhnya, ditilik berdasarkan hubungan Anda saat ini dengan Tuhan dan kehidupan yang Anda jalani sekarang, bahwa Anda pasti diselamatkan, beroleh tempat di sorga dan telah mengumpulkan banyak harta di sorga?

12) Tahukah Anda tujuan hidup Anda secara pribadi di dalam Tuhan, lebih dari sekedar mengetahui tujuan umum Kristen seperti hidup untuk memuliakan dan mengasihi Tuhan atau menjadi serupa dengan Kristus?

KETERANGAN :
- Pertanyaan-pertanyaan di atas hanya akan memberikan hasil yang akurat mengenai kerohanian Anda jika Anda menjawabnya dengan jujur di hadapan Tuhan yang mengetahui segala sesuatu tentang hidup Anda, bahkan yang mengetahui yang tersembunyi begitu dalam di hati Anda.

- Jika jawaban Anda adalah "tidak" atas pertanyaan-pertanyaan tersebut mencapai 7 poin pertanyaan atau lebih maka itu menunjukkan Anda masih menjalani kerohanian semu dan palsu. Anda masih seorang agamawi daripada seorang yang benar-benar terhubung dengan Tuhan.

- Segera apabila Anda mengetahui bahwa Anda seorang agamawi, Anda harus segera bertobat dengan datang pada Tuhan melalui doa: meminta Dia memperbarui hidup Anda, mengubah Anda dan membawa Anda dalam persekutuan dan hubungan pribadi dengan Anda.

Jangan puas dan menipu diri dalam kepura-puraan rohani yang menyesatkan Anda di "jalan yang disangka lurus namun ujungnya menuju maut". Jangan biarkan iblis mempermainkan hidup Anda.

Jangan pasif dan tidak berbuat apa-apa terhadap keagamawian Anda karena tidak akan ada kebenaran, kehidupan dan keselamatan dari Tuhan bagi orang-orang agamawi.

DALAM HUBUNGAN YANG BENAR DENGAN TUHAN ADA KESELAMATAN, PERTUMBUHAN, DAN KEHIDUPAN TETAPI DALAM KEAGAMAWIAN HANYA ADA KEKERINGAN, KESESATAN SERTA KEMATIAN.

Salam revival

Comments

Popular posts from this blog

SIAPAKAH "ORANG FASIK" ITU?

Oleh: Bp. Peter B. K.               Alkitab seringkali memakai kata “orang fasik”. Secara umum, orang fasik adalah sebutan yang dipakai banyak orang untuk menyebut mereka yang jahat, kejam dan tidak bermoral. Seringkali mereka yang dicap sebagai orang fasik adalah mereka yang jelas–jelas hidup secara jahat dan menentang hukum–hukum yang ada, baik hukum negara, sosial maupun agama. Mereka akan dikenal sebagai pemabuk, penjudi, pecandu, pezinah yang suka ke pelacuran, pencuri, perampok dsb. Bagi dunia, pelaku tindak kriminal-lah orang fasik itu. Benarkah demikian? Kelihatannya Alkitab mempunyai pandangan yang berbeda mengenai siapa yang disebut orang fasik itu. MAZMUR 10 MENJELASKAN PADA KITA BAHWA ORANG FASIK ADALAH ORANG–ORANG: 1       1) Yang tidak peduli akan Allah – atau bahkan menganggap Allah tidak ada (Mzm 10:3-4) Ukuran kefasikan yang dari Allah berbeda. Ini berarti siapa saja – tidak terke...

THE RIGHTEOUS GENERATION

(Renungan dari Mazmur 14) Oleh: Bp. Peter B. K. “Tidak sadarkah semua orang yang melakukan kejahatan yang memakan habis umatKu seperti roti dan yang tidak berseru kepada TUHAN?”   (Mzm 14:4) “Di sanalah mereka ditimpa kekejutan yang besar, sebab Allah menyertai angkatan yang benar.”   (Mzm 14:5) Isu yang sedang marak dibicarakan saat itu adalah mengenai pertentangan antar pengikut agama. Perbedaan – perbedaan dalam keyakinan beragama dimanfaatkan sebagai pemicu untuk berkonfrontasi yang berakhir dengan kekacauan dan kegoncangan yang melanda bangsa kita. Pertanyaan yang terus menerus muncul didalam pikiran saya adalah “Siapakah yang benar? Mengapa semua umat beragama bangkit dan saling berperang? Haruskah membela agama sendiri?” Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa nast diatas memberitahukan kita bahwa Allah tidak menyertai atau berpihak pada agama manapun. Secara  status kewarganegaaran kita beragama Kristen, tetapi Allah tidak membela dan menolong orang – orang yang ...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html