Skip to main content

SIAPAKAH ORANG-ORANG PENGECUT DALAM LAUTAN API YANG MENYALA-NYALA?


Oleh : Peter B, MA



Dalam kitab Wahyu 21:8 tertulis demikian : Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua."

Singkatnya, itu adalah sebuah daftar. Daftar dari mereka yang mengalami kebinasaan kekal. Kematian kedua, begitu tulis rasul Yohanes. Merekalah orang-orang yang dikutuk. Terpisah dari Tuhan dan kehidupan. Selama-lamanya. Dari daftar dalam nats, ada yang mengejutkan. Kita tidak heran bila disebutkan antara lain : orang-orang tidak percaya, orang keji, pembunuh, para sundal, tukang-tukang sihir, penyembah berhala bahkan para pendusta. Tapi jenis orang pertama dalam daftar itu, siapa yang akan paham dan tidak terkejut membacanya? Yang pertama-tama disebut di antara semua, mereka disebut ORANG-ORANG PENAKUT.

Siapakah yang dimaksud? Mengapa orang-orang penakut mendapat hukuman abadi? Mengapa di urutan pertama dalam daftar? Mungkinkah Anda atau saya masih termasuk di dalamnya? Beberapa terjemahan Alkitab lain (khususnya sebagian besar Alkitab berbahasa Inggris), menggunakan istilah "ORANG-ORANG YANG PENGECUT" (cowards) dan sebagian lagi menyebutkan "KURANG BERANI ATAU KURANG BERTEKAD/TETAP HATI (timid).

Siapa sebenarnya orang-orang yang dimaksud?

Singkatnya, inilah orang-orang yang tidak berani mengambil risiko untuk mengikut Kristus.

Bisa saja, mereka adalah orang-orang yang pernah mendengar tentang Yesus, mengetahui bahwa Dia jalan keselamatan satu-satunya, lalu dipanggil secara pribadi untuk percaya dan mengiring Kristus TETAPI mereka menolak. Mereka lebih memilih tinggal dalam keadaan semula, yaitu keyakinan atau kepercayaannya semula. Yang (dipikirnya) aman dan nyaman. Daripada menempuh babak kehidupan yang baru bersama Tuhan.

Mungkin saja mereka juga orang-orang yang telah dilahirkan dalam keluarga Kristen. Orang Kristen dari lahir. Agamanya Kristen. Tak lupa ke gereja. Selalu memberikan persembahan. Menaikkan nyanyian pujian dan penyembahan. Ambil bagian dalam tim pelayanan. Tapi saat Roh Tuhan berbisik kepada mereka untuk melangkah lebih jauh bersama Tuhan, mereka banyak pertimbangan. Sayangnya, waktu tidak berhenti bersama pertimbangan mereka. Kehidupan pun tak berjalan selalu mulus. Tanpa sadar hatinya makin jauh dari Tuhan. Semakin dingin dan tak mau tahu akan Tuhan dan rencana-Nya. Saat ajal menjemput, tidak pernah jelas apakah ia benar-benar punya komitmen pada Kristus. Ia telah memilih menjadi orang yang tidak bersungguh hati pada Tuhan. Tak pernah mau merisikokan hidupnya bagi Tuhan. Kini, keselamatannya berada dalam risiko besar.


HAL MENGIKUT YESUS
Dalam Injil, kita membaca tentang orang-orang yang datang kepada Yesus, yang ingin mengikut Dia.

Adegan itu diberi perikop oleh Alkitab Terjemahan Baru sebagai "Hal Mengikut Yesus" sebagaimana dituliskan dalam Lukas 9:57-62.

Kepada ketiga orang itu, Yesus memberikan jawaban yang lugas. Kepada yang menyatakan diri secara terbuka ingin mengikut Dia, Yesus berkata bahwa  jika serigala mempunyai liang untuk tidur dan burung ada sarangnya, maka Ia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepalanya. Suatu gambaran mengenai penolakan akan Dia di manapun di dunia ini. Mengikut Yesus artinya harus siap ditolak dimana-mana. Apakah masih mau?

Kepada orang kedua, yang ingin menguburkan ayahnya lebih dulu (suatu alasan untuk menunggu ayahnya meninggal lebih dulu karena ia merasa harus menuntaskan kewajiban lebih dahulu pada orang tuanya), Yesus menjawab "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana." Gambaran bahwa dalam mengikut Yesus, kepentingan Kerajaan Allah adalah yang utama dan harus siap melepaskan segala urusan pribadi maupun keluarga jika Tuhan sudah memanggil.

Kepada orang ketiga, yang ingin berpamitan dengan keluarganya (yang maksudnya ingin minta pertimbangan lebih dahulu pada keluarganya), Yesus menjawabnya : "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." Gambaran bahwa untuk mengikut Tuhan, haruslah tetap hati karena hatinya memang terpanggil mengiring Tuhan. Pertimbangan manusia lain tidak ada artinya jika itu terkait keputusan untuk melangkah bersama Tuhan.

Melalui ketiga bentuk percakapan itu, tak pelak menyiratkan pesan yang jelas bahwa mengikut Yesus memerlukan keberanian, tekad, kesungguhan, keseriusan, kerelaan meninggalkan zona nyaman, bahkan terkadang harus menentang kebiasaan atau tradisi dan kelaziman pada umumnya.

Dalam kaitannya dengan ini, bahkan Yesus memperingatkan bahwa kehadiran-Nya di tengah-tengah keluarga bisa membawa pertentangan daripada kedamaian (lihat Matius 10:34-36) sehingga yang mengasihi keluarganya lebih dari mengasihi Dia, tidak layak menjadi pengikut-pengikut-Nya (lihat Matius 10:37). Pula, mengikut Yesus, telah kita tahu, serupa memikul salib dan harus menyangkal diri. Lalu harus siap mengikut kemanapun Dia pergi. Ini sama sekali bahkan sesuatu yang mudah dan nyaman. Ini membutuhkan tekad dan keberanian. Yang sangat besar.

Untunglah, kita tidak melangkah sendiri dengan kekuatan manusiawi kita. Roh Kudus diberikan untuk menjadikan kita kuat dalam kekuatan kuasa dan kasih-Nya. Melalui persekutuan kita dengan Roh Kudus itulah kita akan dimampukan mengalahkan kedagingan lalu berbuah banyak.

Meski demikian, mengikut Yesus tetap merupakan suatu keputusan yang membutuhkan keberanian dan merupakan perjalanan yang memerlukan keberanian lebih besar lagi. Ini bukan untuk para pengecut. Yang hanya ingin mengambil keuntungan dari hubungan dengan Tuhan. Tapi tidak pernah bersedia membayar harga sebagai murid dan hamba untuk hidup bagi kemuliaan Tuhan.

Ikut Tuhan tanpa meninggalkan wilayah-wilayah aman dalam hidup adalah cara orang-orang pengecut. Bukan seperti itu mengikut Kristus. Yesus yang meninggalkan segala sesuatu di sorga demi kita, layak menerima kita yang meninggalkan segala sesuatu demi Dia. Dia menghargai cinta dan pengorbanan yang sama. Yang akan diganjar-Nya dengan kekekalan abadi di sorga.

Jangan setengah-setengah iring Yesus. Atau tangung-tanggung. Jangan menunggu segalanya terasa aman baru Anda berjalan. Jangan banyak menimbang untung rugi berjalan dalam iman dan ketaatan pada Tuhan.

Melangkahlah dengan segala keyakinan dan keberanian untuk berjalan dalam kehendak-Nya setiap hari. Jangan biarkan rasa takut karena kehilangan kenyamanan hidup Anda membuat Anda menjauh dari Sumber dari segala rasa aman sehingga Anda kehilangan tempat aman nan abadi kelak.

Ambillah keputusan menjadi berani untuk Kristus.
Masuklah dalam rencana-Nya.
Ambillah lagian dalam kegerakan-Nya.

Saya yakin Anda tidak akan pernah menyesalinya.

Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!  ~ 1 Korintus 16:13 (TB)

SALAM REVIVAL!
Indonesia bagi kemuliaan Tuhan.

Comments

Popular posts from this blog

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html

HIKMAT DAN KUTIPAN MENGENAI GEREJA YANG ALKITABIAH

Oleh: Bpk. Peter B, MA Gereja seharusnya menjadi sorga di bumi. Itulah yang dialami oleh jemaat mula-mula yang demikian sehati sehingga saling mengasihi dan milik mereka pribadi seperti milik bersama. Semuanya bukan karena dipaksa oleh suatu sistem yang menganjurkan keadilan sosial bagi semua dimana semua orang sama rata dan sama rasa. Semua karena kasih Tuhan yang bekerja di hati sehingga tidak ada tempat lagi untuk saling curiga dan tidak percaya. Mereka semua tulus dan berkomitmen hidup dalam kasih sesuai perintah junjungan dan Tuhan yang mereka sembah, Yesus Kristus (lihat Kisah Rasul 4). Gereja seperti sebuah komunitas yang ideal dimana semua orang berkumpul, dimuridkan dan bertumbuh sebagai ciptaan baru menuju manusia baru yang berbeda karakter dan gaya hidupnya dengan dunia. Jika hari ini gereja justru tampak seperti dunia, maka itulah waktunya untuk meratap. Sebab gereja telah kehilangan jati diri, intisari dan karakter aslinya sebagaimana yang dirancangkan dan ditetapkan Tuhan...