Skip to main content

MENJAGA DIRI DAN HATI" SESUAI INJIL LUKAS 21:34 (BAGIAN 2)


Oleh Peter B,  MA



Menambahkan sedikit tentang 3 hal yang harus ditinggalkan dan dijauhi dalam kehidupan pengikut² Kristus: 

• 3 hal tsb : (1) hidup fokus berfoya² dan menikmati kesenangan dunia, (2) hidup dalam kemabukan, (3) larut dalam kekuatiran² dunia, sejatinya mewakili cara hidup mayoritas orang di dunia yang tidak mengenal Tuhan, yang tanpa Tuhan, atau yang jauh dari Tuhan. 

• 3 hal tsb juga menggambarkan keadaan jiwa manusia selama menjalani hidup di dunia. 

Hidup bersenang² dan berfoya² merujuk pada orang² yang memiliki kelebihan materi dan menggunakannya untuk mengejar kenyamanan, kesenangan dan kemewahan hidup. Waktu, tenaga, dan dana diboroskan untuk tujuan² memuaskan keinginan dan nafsunya. Entah seseorang berlimpah harta atau tidak, pengejaran kesenangan bisa menjadi salah satu cara menjalani kehidupan selama di dunia. 

hidup dalam kemabukan menggambarkan keadaan mereka yang mengalami tekanan jiwa, stress, depresi dan berusaha lari dari penderitaan hidup. Karena tidak memiliki solusi dalam hidup, orang lari mencari kelegaan dan hiburan yang instan. Semua kalangan, entah berduit atau tidak juga mempunyai cara untuk tenggelam dalam kemabukan.

kuatir akan kebutuhan² hidup menggambarkan jiwa manusia yang tak pernah tenang dan terus berusaha mencari rasa aman pada hal² di dunia ini. Selalu merasa kurang dan takut jika apa yang dimilikinya belum cukup menjamin hidupnya, membuat orang meninggalkan pencarian dan persekutuan dengan Tuhan, kemudian menghabiskan hari²nya mencari peruntungan² yang sifatnya materi. Tak terasa waktu berlalu dan tahun² telah terlewati. Tanpa disadari semua yang diperoleh hanya sekedar duniawi dan fana. Lupa dan terlambat mengumpulkan harta di sorga. Ini dapat terjadi pada semua orang, entah yang sudah dianggap kaya atau masih dalam taraf kemiskinan. Kekuatiran akan kebutuhan hidup telah membuat manusia tertancap dan berakar pada hidup duniawi semata. 

• inti dari semuanya adalah bahwa jiwa manusia yang penuh kelemahan, keterbatasan, bahkan sakit dan menderita memerlukan jawaban dan kesembuhan. Hanya dengan memiliki hubungan dengan Kristus saja, datang di bawah kaki salib, menyerahkan hidup kepada Sang Pencipta, Pemilik Hidup dan Penebus jiwa kita, kita akan menerima pemulihan dan penyembuhan. 

• Kita harus merindukan jawaban dan jamahan dari Kristus saja, yang menjanjikan Air Hidup dan Roti Hidup bagi kita. Jika tidak, kita dapat terjebak dalam arus agamawi belaka, yang alih² memberikan jawaban bagi kita, justru akan membuat hati kita makin keras, angkuh, suka membenarkan diri, merasa lebih baik dari orang lain. Jiwa² miskin dan sakit yang masuk dalam struktur kerohanian akan membawa hal² rohani menjadi alat dan sarana untuk kepentingan² egois. Bedanya dulu orang mencari keuntungan dari hal² yang murni duniawi, kini menggunakan agama dan nama Tuhan untuk memperoleh keuntungan materi. Makin jahat dan tersesat.

Wabah corona saat ini diijinkan Tuhan menjadi waktu² perenungan akan arti dan tujuan keberadaan serta hidup kita sebagai manusia di hadapan Tuhan. Jika semua kesibukan, aktivitas, kegiatan untuk kepentingan² egois manusia sekarang dibatasi, adakah manusia berpaling pada Tuhan, mengingat Dia dan mencari pertolongan dari-Nya?  

Biarlah hidup kita hanya tertuju, terhubung, tertancap, dan terikat dengan Kristus saja supaya kehidupan Kristus mengalir dalam kita dan kita tampil mengatasi cara hidup duniawi yang mementingkan diri, hidup dalam suatu gaya hidup yang baru, yang penuh dengan damai sejahtera dan sukacita sejati. Mantap menjalani hidup di dunia ini bersama² dengan Tuhan, dikuatkan dan dimampukan menghadapi apapun yang terjadi. Siap saja Tuhan memanggil kita pulang kembali ke sorga untuk menerima hidup dan kemuliaan kekal. 

Tuhan memberkati kita semua… 

Salam revival!


Comments

Popular posts from this blog

SIAPAKAH "ORANG FASIK" ITU?

Oleh: Bp. Peter B. K.               Alkitab seringkali memakai kata “orang fasik”. Secara umum, orang fasik adalah sebutan yang dipakai banyak orang untuk menyebut mereka yang jahat, kejam dan tidak bermoral. Seringkali mereka yang dicap sebagai orang fasik adalah mereka yang jelas–jelas hidup secara jahat dan menentang hukum–hukum yang ada, baik hukum negara, sosial maupun agama. Mereka akan dikenal sebagai pemabuk, penjudi, pecandu, pezinah yang suka ke pelacuran, pencuri, perampok dsb. Bagi dunia, pelaku tindak kriminal-lah orang fasik itu. Benarkah demikian? Kelihatannya Alkitab mempunyai pandangan yang berbeda mengenai siapa yang disebut orang fasik itu. MAZMUR 10 MENJELASKAN PADA KITA BAHWA ORANG FASIK ADALAH ORANG–ORANG: 1       1) Yang tidak peduli akan Allah – atau bahkan menganggap Allah tidak ada (Mzm 10:3-4) Ukuran kefasikan yang dari Allah berbeda. Ini berarti siapa saja – tidak terke...

THE RIGHTEOUS GENERATION

(Renungan dari Mazmur 14) Oleh: Bp. Peter B. K. “Tidak sadarkah semua orang yang melakukan kejahatan yang memakan habis umatKu seperti roti dan yang tidak berseru kepada TUHAN?”   (Mzm 14:4) “Di sanalah mereka ditimpa kekejutan yang besar, sebab Allah menyertai angkatan yang benar.”   (Mzm 14:5) Isu yang sedang marak dibicarakan saat itu adalah mengenai pertentangan antar pengikut agama. Perbedaan – perbedaan dalam keyakinan beragama dimanfaatkan sebagai pemicu untuk berkonfrontasi yang berakhir dengan kekacauan dan kegoncangan yang melanda bangsa kita. Pertanyaan yang terus menerus muncul didalam pikiran saya adalah “Siapakah yang benar? Mengapa semua umat beragama bangkit dan saling berperang? Haruskah membela agama sendiri?” Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa nast diatas memberitahukan kita bahwa Allah tidak menyertai atau berpihak pada agama manapun. Secara  status kewarganegaaran kita beragama Kristen, tetapi Allah tidak membela dan menolong orang – orang yang ...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html