Skip to main content

HARI BARU DAN KESETIAAN TUHAN

Oleh : Peter B, MA


"²² Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
²³ selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"
(Ratapan 3:22-23)"

Salah satu himne Kristen yang paling sering dinyanyikan dan didengarkan hingga kini berjudul "Great Is Thy Faithfulness" Besar Kesetiaan-Mu (dalam bahasa Inggris) dan Besar Kesetiaan-Mu (dalam bahasa Indonesia) Bukan tanpa alasan pujian ini menjadi salah satu yang paling disukai. Sejak diciptakan tahun 1923, telah begitu banyak yang dijamah melalui melodinya.  Lebih lagi oleh syairnya. Tidak terkecuali dengan saya. 

Sewaktu menulis renungan ini, saya teringat nyanyian itu dan tertarik mendengarkannya untuk kesekian kalinya. Dan entah untuk keberapa kalinya, saya merasakan lagi² air mata saya mengalir deras saat mendengarkan dan menghayati setiap kata demi kata dari lagu ini. Harus diakui, ada kesegaran baru saat mengangkat jiwa di hadapan Tuhan sambil memperkatakan bait² di dalamnya. Ada penghiburan. Ada kekuatan. Sesuatu yang sangat manis. Menggantikan segala kepahitan yang sebelumnya mengendap di hati. 

Dan setiap lagu rohani yang memiliki syair serupa itu, sesungguhnya merupakan suatu bukti dan suatu kesaksian akan kemenangan Yeremia yang dibangkitkan pengharapannya dari keterpurukan dalam lobang keputusasaan. 

Yeremialah yang menuliskan kata² itu. Roh Allah mengilhaminya. Suatu pencerahan, penemuan, dan rahasia yang besar. Yang kemudian Tuhan nyatakan sebagai kebenaran yang membebaskan umat-Nya yang sedang tenggelam dalam kenyataan hidup yang amat kelam. Besar SetiaMuKenyataan bahwa ia masih hidup hingga hari itu -setelah menjalani hari kemarin dan masih akan memasuki hari selanjutnya esok hari- menyiratkan belas kasihan dan kemurahan Tuhan. 
Hari yang baru berarti adanya kehidupan. Dan selama ada kehidupan, juga akan ada harapan, sebab hanya yang sudah mati yang tak dapat berharap serta tak lagi memiliki harapan (lihat Pengkhotbah 9:4). 
Selama Tuhan memberikan satu hari lagi pada kita, tidak seharusnya kita berputus asa. Sesungguhnya, ada jauh lebih banyak dari yang kita pikirkan orang² yang demikian amat sangat berharap supaya boleh menjalani hidup lebih lama. Me­reka berjuang dengan segala daya untuk memperoleh perpanjangan hidup. 
Saat Tuhan memberikan satu hari, satu minggu, satu bulan, satu atau beberapa tahun lagi, itu berarti suatu kesempatan yang Ia berikan pada kita. Itulah kasih karunia-Nya. 

Kita harus menyadari bahwa setiap hari, Tuhan bekerja dengan cara yang berbeda-beda. Ia tidak mengulangi apa yang sudah terjadi dan berlalu di hari kemarin. Apabila ada proses atau sekolah Tuhan yang harus kita ikuti, dan kita harus mengulang pelajaran yang sama karena belum memahaminya, maka pelajaran yang Ia berikan akan disampaikan-Nya bukan dengan mengundang hal yang sama dengan kemarin, tetapi dengan suatu cara yang berbeda dari kemarin - suatu cara yang baru. Semua yang diberikan Tuhan bersama dengan hari baru yang Ia berikan selalu merupakan sesuatu yang segar dan baru. Inilah suatu kesempatan dan kasih karunia untuk memperbarui hidup kita di hadapan Tuhan. Jika kemarin Ia murka, di hari yang baru, Ia mau memperbarui lagi hubungan-Nya dengan kita. Jika kita datang kepada Dia, kasih-Nya yang limpah, baru dan segar itu akan memperbarui dan memulihkan kita. 

Dan bukankah Ia Allah yang setia? Besar adanya kesetiaan-Nya itu! Paulus mengatakan dengan yakin pada Timotius, anak rohaninya itu : 

jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."
~ 2 Timotius 2:13 (TB)

Kesetiaan Tuhan yang besar memiliki arti yang sangat dalam. Kita akan beroleh kekuatan yang luar biasa saat berdiri di atas kebenaran ini. 
Disebutkan di sana, Tuhan bukan hanya setia tetapi kesetiaan-Nya itu ada dalam suatu ukuran yang besar. Ini berarti sesuatu yang banyak sekali, berlimpah-limpah, tak mudah habis, melampaui segala ukuran. 
Kesetiaan Tuhan tak terganggu dengan ketidaksetiaan kita. Tak surut oleh karena kegagalan kita. Tak berkurang karena kelemahan komitmen kita. Ia masih selalu ada bagi kita. Tak pernah menolak kita saat kita kembali atau bahkan berseru dengan suara terlemah kita kepada-Nya. Kesetiaan sang Bapa, dalam erumoamaan Yesus, membuatnya berlari, mendahului langkah lambat anak bungsunya yang maluz hendak kembalu ke rumah bapanya setelah sebelumnya dengan angkuh meninggalkannya. Karena sang Bapa setia, anak yang tersesat itu boleh melihat dan menerima pemulihan dalam hidupnya.

Setiap hari baru diberikan bagi kita seharusnya membuat kita sadar bahwa itulah salah satu dasar untuk berharap. Bahwa ada satu Pribadi yang sangat mengasihi kita, yang tidak akan menolak kita, yang akan menolong kita bangkit dari segala kehancuran yang sebenarnya acapkali merupakan akibat dari ulah kita sendiri. Kita yang sering tidak setia seharusnya merasa sangat beruntung memiliki Allah yang setia dan penuh kasih. Dan karena Ia itu Allah yang demikian, biarlah kiranya harapan itu tidak pernah sirna dari hati kita. 

Seburuk apapun yang kita alami dan sekelam apapun sekitar kita, selama Tuhan masih mengijinkan matahari terbit di sebelah timur, Ia memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk kembali kepada-Nya dan menerima belas kasihan-Nya. 

Masih ada harapan untuk hidup Anda yang hancur. Masih ada janji pemulihan untuk Indonesia yang dirundung gelap gulita yang sangat ini. Masih ada kesempatan bagi gereja Tuhan tampil dan bersinar di tengah² kegelapan ini. 

Berdirilah teguh di atas kebenaran ini. Kebenaran mengenai Allah yang penuh kasih, yang memberikan kesempatan yang baru dan yang masih setia menunggu kita mencari pemulihan dari-Nya.

Hari ini, belum terlambat untuk menghentikan langkah di jalan yang menjauhkan Anda dari Tuhan. 
Hari ini adalah kesempatan Anda untuk kembali ke tempat dimana Anda meninggalkan Dia. 
Dia masih ada di sana. Menunggu Anda kembali pada-Nya. 
Biarlah kasih dan kesetiaan Tuhan menjadikan pintu² pengharapan terbuka lebar di hati Anda.

Salam revival
Tuhan memberkati kita semua

Comments

Popular posts from this blog

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html

HIKMAT DAN KUTIPAN MENGENAI GEREJA YANG ALKITABIAH

Oleh: Bpk. Peter B, MA Gereja seharusnya menjadi sorga di bumi. Itulah yang dialami oleh jemaat mula-mula yang demikian sehati sehingga saling mengasihi dan milik mereka pribadi seperti milik bersama. Semuanya bukan karena dipaksa oleh suatu sistem yang menganjurkan keadilan sosial bagi semua dimana semua orang sama rata dan sama rasa. Semua karena kasih Tuhan yang bekerja di hati sehingga tidak ada tempat lagi untuk saling curiga dan tidak percaya. Mereka semua tulus dan berkomitmen hidup dalam kasih sesuai perintah junjungan dan Tuhan yang mereka sembah, Yesus Kristus (lihat Kisah Rasul 4). Gereja seperti sebuah komunitas yang ideal dimana semua orang berkumpul, dimuridkan dan bertumbuh sebagai ciptaan baru menuju manusia baru yang berbeda karakter dan gaya hidupnya dengan dunia. Jika hari ini gereja justru tampak seperti dunia, maka itulah waktunya untuk meratap. Sebab gereja telah kehilangan jati diri, intisari dan karakter aslinya sebagaimana yang dirancangkan dan ditetapkan Tuhan...