Skip to main content

JIWA YANG TERTEKAN DALAM GELAP

Oleh : Peter B


"¹⁸ And I said, My strength and my hope is perished from the LORD:
¹⁹ Remembering mine affliction and my misery, the wormwood and the gall.
²⁰ My soul hath them still in remembrance, and is humbled in me.
(Lamentations 3:18-20, KJV)

Terjemahan :
Aku berkata, kekuatanku dan harapanku pada Tuhan telah lenyap. (Saat aku) mengingat kesukaran dan sengsaraku, (bagai) apsintus dan empedu (yang sangat pahit). Jiwaku selalu mengingat itu dan menjadi tertekan karenanya

Perasaan tertekan karena melihat keadaan sekeliling kita yang tanpa harapan karena demikian banyak kesukaran, penderitaan, kekecewaan, kemarahan dan kegeraman adalah suatu tanggapan manusiawi. Kesukaran membuat hati kita bersedih. Ketiadaan tanda-tanda perubahan atas situasi yang ada membuat kita menanti dengan harapan yang semakin pudar. Bagai menunggu pagi yang tak pernah datang. Kekelaman yang panjang membuat hati kita menjadi gelap, pahit, merana. 

Penyebab perasaan down dalam diri kita, sebagaimana yang diakui oleh Yeremia, adalah karena ia terus memandangi keadaan sekitarnya maupun keadaannya sendiri yang penuh penderitaan itu. Dalam hal ini, yang dimaksud Yeremia adalah keadaan Yerusalem dan Yehuda yang sedang porak poranda, penduduknya diangkut sebagai tawanan, dan Yeremia sendiri hidup di tengah² keruntuhan bangsanya. 
Selama ia terus memandangi situasi yang melemahkan jiwa itu, maka ia merasa kalah dan tak berdaya. 

Apa yang menjadi fokus perhatian dan pikiran kita, mewarnai dan mempengaruhi perasaan dan respon kita dalam menatap dan menjalani hidup.
Solusi kebanyakan orang, saat menemukan dirinya dalam keadaan tertekan adalah mengalihkan perhatian dari realita yang pahit itu. Hampir semua melakukan ini. Melakukan pelarian dari keadaan yang menekan dan memuramkan jiwanya itu. Sayangnya, solusi manusia untuk mengatasi tekanan batinnya jarang berupa solusi tuntas dan mujarab. Bagaikan kolam lumpur yang terus menyemburkan lumpur kotor dan berbau, apa yang pahit dan kelam dari jiwa manusia hanya sesaat saja dapat dibendung tetapi tidak pernah dapat dihentikan sama sekali. 

Beberapa usaha melarikan diri dari tekanan jiwa ini sering menuntun kepada perbuatan² yang semakin jauh dari kebenaran atau membuatnya tercebur dalam pergaulan yang salah atau jatuh dalam jurang kecanduan (obat-obat terlarang, miras atau seks dan kecanduan² aneh lainnya seperti berbelanja, kerja, hobby dsb), sedangkan beberapa yang lain berusaha mencari kenyamanan dan kesenjangan di hari²nya, berusaha mengusir kegalauan dan kesedihan dalam hati dengan beragam penawar rasa sakit yang disuguhkan dunia ini.
Tidak heran apabila di masa kini, hal² berbau hiburan seolah tak berhenti dicari 24 jam sehari, khususnya secara online. Media sosial, khususnya menjad tempat pelampiasan segala dalam jiwa manusia, yanv tampaknya meringankan namun tanpa sadar membuat ketergantungan dan kesakitan yang kian parah. 

Kelompok yang lain berlari kepada agama. Berpikir bahwa dengan mendekatkan diri kepada Tuhan akan memberikan kelegaan. Sayangnya, alih² berjumpa dengan Tuhan, mereka yang mencari penghiburan dari agama menemukan tekanan yang lebih besar. Karena mereka ternyata tenggelam dalam hukum² yang menambah beban dalam hidup. 
Agama merupakan usaha manusia menjangkau Tuhan dengan kekuatan dan pikiran mereka sendiri, tak terkecuali agama apapun itu. 
Dan seperti semua usaha manusia lain menghadapi kenyataan pahit kehidupan yang bagaikan gunung yang terlalu tinggi didaki itu, sangat sedikit orang yang benar² menang atas kesusahan dan tekanan jiwanya. Mereka hanya berlari dan menghindar tapi tak pernah mampu mengatasinya. 

Pengkhotbah 11:7 mengatakan bahwa "terang itu menyenangkan dan melihat matahari itu baik bagi mata". Namun, dengan merajalelanya kejahatan dan kefasikan, kegelapan pun semakin pekat. Sukar sekali menemukan terang. Jika tidak segera diatasi, sikap terus tinggal diam dalam kegelapan akan segera memberikan dampaknya bagi jiwa. Hati suram, kelam, tak pernah lagi menemukan kegembiraan karena tak pernah melihat terang. 

Semakin kita memikirkan, berdiam, fokus pada kegelapan di sekitar kita maka kita pun akan ditelan kegelapan itu. Dengan hanya berdiam diri meratapi nasib, tidak akan membuat kita keluar dari situasi yang ada. Yang mengerikan adalah dengan hanya berdiam diri, kita terancam makin tenggelam, larut dan turut serta menambah kadar kegelapan yang ada. 

Tanggapan kita seharusnya tidak terpaku atau dikendalikan oleh kesuraman yang ada. Tetapi itu bukan menyelesaikannya dengan cara melarikan diri mencari penghiburan² semu dan sesaat. Kita harus menemukan sesuatu yang sungguh² dapat mengubahkan kegelapan itu. Pertama-tama, itu haruslah mampu mengusir kegelapan dari jiwa kita. 

Kita akan mempelajari bagaimana Yeremia menghadapi tekanan keputusasaan di jiwanya beberapa hari ke depan. 

Salam revival.
Tuhan Yesus memberkati.

Comments

Popular posts from this blog

SIAPAKAH "ORANG FASIK" ITU?

Oleh: Bp. Peter B. K.               Alkitab seringkali memakai kata “orang fasik”. Secara umum, orang fasik adalah sebutan yang dipakai banyak orang untuk menyebut mereka yang jahat, kejam dan tidak bermoral. Seringkali mereka yang dicap sebagai orang fasik adalah mereka yang jelas–jelas hidup secara jahat dan menentang hukum–hukum yang ada, baik hukum negara, sosial maupun agama. Mereka akan dikenal sebagai pemabuk, penjudi, pecandu, pezinah yang suka ke pelacuran, pencuri, perampok dsb. Bagi dunia, pelaku tindak kriminal-lah orang fasik itu. Benarkah demikian? Kelihatannya Alkitab mempunyai pandangan yang berbeda mengenai siapa yang disebut orang fasik itu. MAZMUR 10 MENJELASKAN PADA KITA BAHWA ORANG FASIK ADALAH ORANG–ORANG: 1       1) Yang tidak peduli akan Allah – atau bahkan menganggap Allah tidak ada (Mzm 10:3-4) Ukuran kefasikan yang dari Allah berbeda. Ini berarti siapa saja – tidak terke...

HIKMAT DAN KUTIPAN

DIPANGGIL UNTUK MELAKUKAN HAL YANG BENAR, DENGAN DAN UNTUK ALASAN BENAR

Oleh: Bp. Peter B. K. "Akhir dari zaman ini akan berujung pada pertarungan terakhir antara baik dan jahat, dimana itu akan merupakan suatu konflik supranatural. Jika kita ingin menjadi saksi dari Sang Mahakuasa, kita harus mempunyai kuasa" (1 Kor. 2:4-5; 4:20). Meski konflik itu adalah pertarungan kuasa, itu bukanlah untuk membuktikan siapa yang lebih kuat. Bahkan iblis tahu bahwa Tuhan dengan mudahnya memenangkan peperangan itu. Konflik itu ialah untuk membuktikan kuasa dari yang baik atas yang jahat, kebenaran dari kebohongan, kasih atas sifat mementingkan diri sendiri. Itulah sebabnya disiplin yang dituntut atas mereka yang akan dipakai Tuhan sangatlah berat. KITA DIPANGGIL BUKAN SEKEDAR MELAKUKAN HAL-HAL YANG BENAR, TETAPI MELAKUKAN ITU SEMUA UNTUK ALASAN-ALASAN YANG BENAR. Tuhan tidak hanya ingin kita mampu melakukan pekerjaan-Nya, tapi Dia ingin kita melakukannya karena kita ada dalam kesepakatan dan persetujuan penuh dengan Dia.  Motif-motif kita sangatlah menentukan s...