Skip to main content

TUJUAN HIDUP ADALAH KEHIDUPAN

Oleh : Rick Joyner


 Seperti yang telah kita bahas dalam pelajaran kita, tujuan kita bukan hanya memperoleh pengetahuan atau kuasa, tetapi kehidupan.  Dalam pengejaran hidup, kita akan mencari pengetahuan dan kuasa untuk meneguhkan pesan kita, tetapi ini hanyalah alat untuk mencapai tujuan akhir (yaitu kehidupan).  Kehidupan yang kita cari adalah pribadi Yesus — Dia adalah Hidup.

 Kehidupan Tuhan pertama-tama ditemukan dalam sifat-Nya, dan kemudian dalam pekerjaan-Nya. Kita tidak melayani Dia karena apa yang Dia lakukan, tetapi karena siapa Dia.  Demikian juga, panggilan kita bukan hanya untuk melakukan, tetapi untuk menjadi (apa yang Tuhan tetapkan dan rancangkan).  Panggilan kita adalah untuk memanifestasikan atau mewujudnyatakan kehidupan yang ada di dalam Kristus Yesus, yang  Dia ingin berikan kepada dunia yang telah binasa dalam dosa-dosanya.

 Pada dasarnya ada tiga tahap dalam proses memperoleh kehidupan  (dalam Tuhan) secara utuh:

 1) Tahap pertama adalah penyingkappan atau pewahyuan. Ini adalah pewahyuan tentang apa yang Yesus capai di kayu salib bagi kita.  Itu mencakup kemuliaan pengentasan kita dari sifat lama kita, dan kemuliaan akan panggilan dan warisan kita di dalam Dia.

 2) Tahap kedua adalah kerja. Ini adalah karya nyata dari mengerjakan keselamatan dengan memperbarui pikiran kita — yaitu sifat alami kita dengan cara praktis yang membawa pembebasan dari sifat lama kita dan yang mewujudkan sifat baru-Nya di dalam diri kita.

 3) Tahap ketiga dan terakhir adalah menyatakan.  Ini adalah penyataan melalui kita akan kemuliaan keselamatan Allah, akan sifat ciptaan baru, dan akan warisan yang telah diberikan kepada kita sebagai anggota keluarga-Nya sendiri — putra dan putri Allah.

 Kita dapat melihat tiga tahap dasar kedewasaan ini berulang-ulang di dalam Alkitab.  Itu terlihat dalam keluarnya Israel dari Mesir, padang gurun, dan menuju Tanah Perjanjian.  Kita melihatnya di tiga bagian Kemah Musa, bait yang dibangun oleh Salomo, dan bait yang dibangun oleh sisa-sisa Israel yang kembali dari Babilonia.  Semua ini adalah garis besar profetik yang mengarahkan kita untuk mengenal Yesus sebagai Jalan, Kebenaran, dan Hidup.

 Tahap pertama pada dasarnya bersifat mementingkan diri sendiri karena kita mempelajari semua yang dapat kita peroleh melalui Kristus.  Keegoisan tidak salah untuk yang belum dewasa, dan ketidakdewasaan tidak salah saat kita masih muda.  Bayi hampir sepenuhnya mementingkan diri sendiri karena mereka berada dalam kondisi tidak berdaya.  Seperti anak-anak, kita juga harus belajar siapa kita dan apa yang dapat kita lakukan sebelum kita dapat mulai berhubungan dengan orang lain secara dewasa.
  Salah satu tanda kedewasaan rohani yang sebenarnya adalah bahwa kita menjadi kurang mementingkan diri sendiri dan lebih berpusat pada Kristus dan mengabdikan diri untuk membantu orang lain.

 Meskipun transisi antara tahap-tahap ini dalam kehidupan alami kita biasanya bertahap, transisi tersebut mewakili periode waktu tertentu dalam kehidupan spiritual kita.  
Tahap pertama, pewahyuan, bersifat segar dan mengasyikkan, tetapi biasanya cukup singkat.  Tahap kedua, kerja, itu tahap sulit, tetapi juga sangat menyenangkan dan memuaskan, dan di situ kita belajar, bertumbuh, dan melihat kemuliaan Tuhan dengan cara yang mulai mengubah kita menjadi gambar-Nya.  Kita harus melewati padang belantara untuk sampai ke Tanah Perjanjian.  Di sinilah pencobaan dan godaan terbesar datang kepada kita untuk menguji kehidupan yang telah diberikan kepada kita, dan untuk mempersiapkan kita bagi otoritas yang akan diberikan pada kita di tahap ketiga, yaitu menyatakan.

 Tahap kedua bisa tampak seperti tempat dimana kita mengenali sebagian besar kekalahan dan kegagalan kita, tapi itu merupakan perspektif yang salah.  Kita jarang lulus satu saja ujian dari Tuhan dengan nilai sempurna.  
Seringkali kita harus dinilai "dalam bentuk kurva" dengan tambahan kasih karunia dari Tuhan agar kita bisa benar-benar lulus.  Ini bisa menjadi tahap perkembangan kita yang sulit dan seringkali menyedihkan, yang pada umumnya disebabkan oleh cara pandang kita (yang keliru).  Kita bertumbuh, dan meskipun kita kadang-kadang berputar-putar untuk mengulangi ujian yang gagal kita lakukan, di padang belantaralah kemah Allah dibangun, dan dalam tahap pertumbuhan kita inilah Tuhan membangun tempat tinggal-Nya  dalam hidup kita.  Melalui kegagalan, kita juga belajar dengan pasti bahwa Dia adalah keselamatan dan kemenangan kita.  Di sini iman kita kepada diri kita sendiri berkurang dan iman kita kepada-Nya bertumbuh.  Ini adalah tingkatan dari kebenaran (level of truth).

 Tahap ketiga adalah ketika segala hal yang kita jalin dengan Tuhan diterapkan dalam praktek kehidupan kita dan kita mulai menghidupi warisan kita — yaitu hidup dengan kuasa kebangkitan hidup Kristus.  Di sinilah kemuliaan Tuhan tidak hanya disingkapkan kepada kita, tetapi dinyatakan melalui kita.  Ini adalah tempat dimana kita mulai memenuhi panggilan dan takdir kita di dalam Dia.

 Mayoritas orang Israel hanya bisa masuk ke pelataran luar Kemah Suci, beberapa orang saja yang bisa masuk ke Ruang Kudus, tapi hanya satu yang bisa masuk ke Ruang Mahakudus.  Demikian juga tampaknya sangat sedikit orang Kristen yang berhasil melewati tahap pertama kedewasaan.  Banyak yang mundur dari tahap berurusan dengan Allah yang akan membawa mereka ke tempat yang serupa dengan Kristus.  Inilah orang-orang Kristen yang imannya hanya merupakan pelengkap bagi hidup mereka.  Mereka mungkin setia pergi ke kebaktian, tetapi pemahaman mereka jarang melampaui pengetahuan tentang keselamatan.  Banyak dari hidup mereka sebenarnya masih di Mesir, terikat dengan dunia sekarang ini.

 Beberapa yang lain melanjutkan perjalanan padang gurun dan memulai kehidupan yang bersemangat dengan benar-benar berjalan dengan Tuhan hari demi hari.  Generasi pertama orang Israel mati mengembara di padang gurun karena kurangnya iman mereka.  Demikian pula, saat ini tampaknya sebagian besar orang Kristen masih belum melangkah lebih jauh dari tahap ini.  Banyak yang menghabiskan hidup mereka berputar-putar, menanggung pencobaan padang gurun yang sama berulang kali karena kurangnya iman yang mendasar kepada Tuhan.  Meski begitu, mereka yang sampai sejauh ini biasanya mencapai cukup banyak hal bagi Tuhan dan tujuan-Nya.  Mereka membangun bait-Nya, dan membantu membangkitkan generasi yang akan menyeberang dan memiliki janji-janji Tuhan.

 Sama seperti hanya Imam Besar yang bisa memasuki Ruang Mahakudus, hanya Satu yang masih bisa memasuki tahap tertinggi (yaitu Kristus).  Oleh karena itu, agar kita bisa masuk kita harus tinggal di dalam Dia. Artinya Galatia 2:19b-20 harus menjadi kenyataan dalam hidup kita sehingga kita juga dapat berkata dalam kebenaran, 
"Aku telah disalibkan dengan Kristus, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."

Ini adalah tujuan puncak kita, dan di sinilah kita melangkah melampaui sekedar memandang karya-karya Tuhan menjadi memandang pada kemuliaan-Nya.

 Sekali lagi, tujuan kita adalah kehidupan.  Kita harus tahu jalan dan kebenarannya, tapi hidup adalah tujuan kita.  Jika kita tidak memiliki hidup-Nya, kita juga tidak benar-benar tahu jalan atau kebenaran.  Kita tidak hanya ingin tahu tentang keselamatan, tetapi bagaimana keselamatan-Nya bekerja dalam hidup kita.  Kita tidak mencari kebenaran demi memiliki pengetahuan, tetapi supaya kita memiliki kebenaran yang membebaskan kita dari kodrat lama kita sehingga kita bisa berjalan dalam hidup yang baru.  Tujuan kebenaran juga kehidupan.  Tujuan kita bukan hanya untuk mengetahui tentang warisan kita dan kemuliaan zaman yang akan datang — kita dipanggil untuk hidup di dalam warisan dan kemuliaan itu.

Diterjemahkan secara bebas dari : 

Comments

Popular posts from this blog

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html

HIKMAT DAN KUTIPAN MENGENAI GEREJA YANG ALKITABIAH

Oleh: Bpk. Peter B, MA Gereja seharusnya menjadi sorga di bumi. Itulah yang dialami oleh jemaat mula-mula yang demikian sehati sehingga saling mengasihi dan milik mereka pribadi seperti milik bersama. Semuanya bukan karena dipaksa oleh suatu sistem yang menganjurkan keadilan sosial bagi semua dimana semua orang sama rata dan sama rasa. Semua karena kasih Tuhan yang bekerja di hati sehingga tidak ada tempat lagi untuk saling curiga dan tidak percaya. Mereka semua tulus dan berkomitmen hidup dalam kasih sesuai perintah junjungan dan Tuhan yang mereka sembah, Yesus Kristus (lihat Kisah Rasul 4). Gereja seperti sebuah komunitas yang ideal dimana semua orang berkumpul, dimuridkan dan bertumbuh sebagai ciptaan baru menuju manusia baru yang berbeda karakter dan gaya hidupnya dengan dunia. Jika hari ini gereja justru tampak seperti dunia, maka itulah waktunya untuk meratap. Sebab gereja telah kehilangan jati diri, intisari dan karakter aslinya sebagaimana yang dirancangkan dan ditetapkan Tuhan...