Skip to main content

MENINGGALKAN KENYAMANAN UNTUK BERSEKUTU DENGAN TUHAN




Oleh: Peter B, MA



“PAGI-PAGI BENAR, WAKTU HARI MASIH GELAP, IA BANGUN DAN PERGI KE LUAR. IA PERGI KE TEMPAT YANG SUNYI DAN BERDOA DI SANA.” (MARKUS 1:35)

Apabila setiap orang Kristen ditanya mengenai doa dan seberapa penting arti doa, hampir tidak ada orang Kristen yang merasa bahwa berdoa adalah tidak penting. Semua orang percaya biasanya mengamini perlunya doa dan setuju bahwa “doa adalah nafas hidup (rohani) orang Kristen”. Tetapi sesungguhnya ada suatu hal yang sangat kontras, yang sifatnya tidak seiringan sejalan dengan pertanyaan banyak orang Kristen yang lainnya. Apakah itu? Yaitu bahwa jika mulut mereka menyakini akan kuasa doa, maka perbuatan banyak orang Kristen tidaklah demikian. Kenyataannya, sedikit sekali orang Kristen yang suka berdoa apalagi yang hidup dalam doa. Mau tidak mau kita harus mengakui hal ini.

Doa memang unik. Bagi banyak dari kita, doa merupakan hal paling mudah sekaligus paling sulit yang kita lakukan. Paling mudah karena kita hanya perlu memejamkan mata dan mulia berkata-kata tidak perlu mengeluarkan biaya ataupun menyiapkan perlengkapan serta busana khusus. Tetapi itu juga paling sulit kita lakukan karena kedagingan kita menghendaki hal-hal yang nyaman dan telah terbiasa dengan hal-hal yang nyata daripada yang rohani. Lebih dari itu, kita juga telah terbiasa terahlikan dari perkara-perkara yang terutama. Hal ini terbukti dari pengakuan kita akan pentingnya doa tetapi sekaligus kita sangat menunjukkan pengabaian terhadap doa. Ya, doa seharusnya menjadi hal yang paling penting dalam hidup kita sebagai anak-anak Tuhan tetapi seringkali juga kita paling mudah mengabaikannya.

Mungkin tidak ada penghalang yang lebih besar dalam pengalaman persekutuan rohani kita dengan Tuhan lebih dari apa yang disebut sebagai kenyamanan. Seperti telah disebutkan di atas, kenyamanan yang merupakan dambaan bagi kedagingan kita lebih sering menjadi pilihan akhir kita saat itu diperhadapkan kepada kita bersama-sama dengan doa. Kita lebih memilih kenyamanan daripada mengambil waktu untuk bersekutu dengan Tuhan. Kita tidak memiliki waktu luang sedikitpun untuk berdoa, tetapi selalu ada waktu bagi perkara-perkara yang enak bagi diri manusia kita: menonton tv, pertandingan, berlibur, berkumpul dengan teman-teman, berbelanja, berkutat dengan hobby kita, bekerja lembur, bahkan aktif dalam pelayanan demi memuaskan sifat kita yang gila aktivitas! Dan akhirnya kita pun bertanya-tanya, mengapa api Tuhan tidak lagi berkobar bagi Tuhan. Kita menjadi heran mengapa roh kita tidak menyala-nyala. Kita kebingungan bagaimana mungkin rasanya Tuhan kemudian menjadi begitu jauh. Dan tidak lama dari saat itu, kita kehilangan lapar dan haus rohani...kita sama sekali tidak menaruh minat akan kehendak Tuhan...kita menjadi orang-orang Kristen yang sama sekali tidak peka, mementingkan diri kita sendiri, sangat egois bahkan saat-saat di mana sepertinya kita sedang memberikan sesuatu kepada Tuhan atau sesama. Seluruh drama penghancuran kehidupan rohani kita yang berharga itu dimulai oleh kita sendiri… disebabkan karena hilangnya satu hal kecil...karena lalainya kita melakukan sesuatu yang kita anggap sangat sepele : kita tidak lagi menjalin persekutuan dengan Tuhan.

Jika harga hilangnya persekutuan dengan Tuhan begitu besar dan mengerikan, maka kita tidak memiliki pilihan selain dengan sungguh-sungguh menghentikan segala kenyamanan hidup kita yang menjadi penghalang waktu-waktu kebersamaan kita dengan Tuhan. Seperti anak Manusia, teladan kita yang sempurna itu, Yesus meninggalkan kenyamanan diri, memaksa seluruh keberadaanNya untuk tunduk pada kehendak hatiNya yang dahaga akan persekutuan dengan Bapa. Alkitab berkata, Ia bangun “pada waktu pagi-pagi benar, pada waktu hari masih gelap”. Para penafsir Alkitab menerangkan lebih dalam kepada kita bahwa Yesus bangun kira-kira pada “waktu jaga pagi” dari seorang penjaga malam. Di Israel, waktu jaga malam dibagi menjadi tiga: permulaan giliran jaga malam (sekitar pukul 6-10 malam). Giliran jaga tengah malam (pukul 10 malam – 2 pagi) dan giliran jaga pagi (mulai pukul 2-6 pagi). Jika Yesus mengambil waktu pribadiNya dengan Bapa pada waktu giliran jaga pagi tersebut maka Yesus berdoa di antara pukul 2 pagi sampai dengan 6 pagi. Tidaklah mengherankan jika saat itu dikatakan bahwa “hari masih gelap”. Dan pada waktu hari masih gelap pasti setiap orang sedang menikmati nyenyaknya tidur kecuali para penjaga pagi tersebut tentunya. Tetapi… tunggu dulu. Di balik pekatnya malam, Seseorang keluar dari peraduannya. Ia berjalan dan berjalan. Di tempat yang sepi ia berlutut dan berdoa. Itulah Yesus.

Seperti Yesus, kita mesti memaksa tubuh kita dan menguasai seluruhnya. Kita tidak dapat tinggal dalam keadaan dimana kerohanian kita dihancurkan oleh keengganan kita. Kita harus merindukan Dia lebih daripada segala kenyamanan yang dapat kita nikmati di sepanjang hari kehidupan kita. Mungkin saja, kita harus meninggalkan kenyamanan tempat tidur di waktu pagi, kenikmatan bekerja di waktu siang, atau keasyikan hiburan di malam hari. Kita harus menyisihkan semuanya itu dan masuk dalam persekutuan pribadi bersama Tuhan. Jangan menghiraukan tubuh kita yang mengeluh capek; jangan peduli dengan pikiran yang berkata istirahat jauh lebih baik dari hal yang lain; jangan turuti perasaan kita yang naik turun; dan jangan biarkan kehendak kita menyimpang dari perkara lain selain perkara yang paling utama ini.”

Teladan yang baik mengenai menyisihkan segalanya untuk bersekutu adalah dari kehidupan seorang tokoh besar Perjanjian Lama yang disebut sebagai “orang yang dikasihi Tuhan”. Tahukan Anda siapa dia? Dia adalah Daniel. Setiap hari selama ia berada di pembuangan Babel, di sela-sela segala kesibukannya sebagai satu dari perdana menteri Babel, Daniel tidak pernah tidak meluangkan waktunya tiga kali sehari bersekutu dengan Allahnya. Ia naik ke suatu kamar di atas rumahnya, membuka jendelanya yang mengarahkan ke Yerusalem dan mulai berdoa. Tiga kali sehari. Setiap hari. Tidak pernah lalai. Dan tahukah Anda apa yang terjadi kemudian karena ia berdoa? Ia dijebak oleh lawan-lawan politiknya yang membuat undangan-undangan bermeterai raja Darius untuk melarang setiap orang di Babel berdoa kepada pribadi yang lain selain kepada raja. Apakah Daniel surut? Ia menjadi takut dan berhenti berdoa? Ia mengurangi waktu doanya dan berdoa dalam hari, secara sembunyi-sembunyi? Ketahuilah satu hal: tidak ada satu hal pun yang dapat mengganggu jam-jam bersekutu Daniel dengan Tuhannya. Sekalipun itu berarti kehilangan jabatan. Sekalipun itu berarti melanggar perintah raja. Sekalipun itu berarti mati. Saya menjadi bertanya-tanya: Jika ujian seperti yang dialami Daniel itu dihadapkan pada kita, adakah yang lulus seperti Daniel? Adakah yang memilih untuk menghargai persekutuan dengan Tuhan melebihi segala bentuk fasilitas dan kenyamanan hidup?

Tetapi adalah perlu menjadi perhatian kita bahwa bersekutu dengan Tuhan bukanlah semacam kegiatan paksaan. Kita meninggalkan setiap kenyamanan tubuh kita bukan untuk melakukan sesuatu yang sama sekali tidak menyenangkan tetapi tidak dapat kita tolak. Motivasi kita pun perlu diluruskan dalam hal ini. Di satu sisi, kita memang harus beralih dengan kemauan yang keras dari segala urusan-urusan manusiawi kita untuk kemudian meluangkan waktu bersama Tuhan. Tetapi di sisi lain, kita harus sungguh-sungguh menyadari bahwa dorongan untuk bersekutu dengan Tuhan itu bukan murni karena dorongan kewajiban atau bahkan ketakutan karena risiko jika kita tidak melakukannya. Dorongan yang benar lagi persekutuan dengan Tuhan adalah kasih. Karena kita mengasihi Dialah, kita rela memberikan waktu kita untuk berdua bersama Dia. Kita melakukannya karena kita senang melakukannya. Kita rela ‘membuang’ waktu kita demi mendapatkan perhatian, kebersamaan, suasana penuh kasih mesra, komunikasi hangat, bahkan mungkin hanya sekedar memandang keindahan wajahNya. Bukankah demikian jika seseorang sedang jatuh cinta? Kasihlah yang seharusnya menarik kita, menggerakkan kita, membuat kita mampu mempersembahkan suatu mezbah yang baik serta berkenan di hadapanNya.

Jika kita melakukannya karena kasih, persekutuan itu akan menjadi suatu pertemuan yang indah. Bahkan semakin indah dan semakin indah. Pengorbanan kita terasa semakin lama semakin kecil, tidak berarti lagi dibandingkan saat-saat indah bersama Kekasih jiwa kita. Di situlah kenyamanan yang lama digantikan oleh kenyamanan yang baru. Kita menemukan sumber yang lebih besar. Kita semua akan disegarkan dalam sungai kehidupan Tuhan. Inilah yang sebenarnya akan memuaskan segenap rasa dahaga dan juga usaha pencarian kita akan kepuasan.

 Di dalam hadiratNya, di dalam persekutuan dengan Tritunggal yang kudus kita akan disegarkan. Dan sekali kita disegarkan di dalam Tuhan, kenyamanan yang lain terasa biasa bahkan tidak nampak lagi seperti suatu kenyamanan sedikitpun. Tetapi jika kita terbiasa dengan kenyamanan semu dunia, kita terjerat dalam tipu daya iblis untuk terus haus akan penghiburan murahan ramuan Bapa pendusta itu. 

Sebelum menutup ruangan ini izinkan saya menanyakan dua hal ini kepada Anda: Pertama, Pernahkah Anda merasakan seperti Daud yang hanya dapat tenang jika dekat Allah saja? (Jika belum, Anda belum merasakan kenyamanan bersama Allah). Kedua, maukah Anda berjanji untuk meninggalkan segala bentuk kenyamanan daging dan mulai bersekutu dengan Allah? Jika Anda bersedia, luangkan waktu barang beberapa menit untuk berkomitmen kepada Allah. Adakanlah perjanjian untuk bersekutu denganNya dan tepatilah janji itu. Saya percaya Tuhan akan menolong kita semua. Amin.

(Di ambil dari warta Worship Center edisi 24 – 21 Juni 2002)


Comments

Popular posts from this blog

MIMPI PROFETIK

Mimpi diterima oleh Stephen Immanuel (Malaysia)  Tafsiran mimpi diterima oleh Sery M. Lopulalang (Indonesia)  KESALAHAN PARA PEMIMPIN ROHANI YANG MELAKUKAN PEMBIARAN TERHADAP DOSA² DAN KEJAHATAN YANG DILAKUKAN UMAT TUHAN 16 Maret 2020 Saya ingin mengongsikan mimpi saya tadi pagi,  Saya sedang berada di dalam gedung gereja. Sepertinya disitu ada acara ibadah yang besar kerana saya lihat ada ramai orang yang hadir, gereja penuh sehingga saya sendiripun berdiri di bahagian hadapan kerana tiada tempat duduk. Ketika ini semua jemaat lagi melihat persembahan kesaksian dari anak-anak sekolah minggu di pentas/ panggung. Anak-anak ini beratur berbaris memanjang ke belakang ada yang berdiri dan ada juga yang duduk, mereka agak ramai juga. Lalu setelah mereka selesai kesaksian, mereka dikasih permen 🍬🍬 masing-masing oleh ibu² yang bertugas. Setelah itu seorang hamba Tuhan (yang mengacarakan ibadah saat itu) naik ke mimbar dan mengajak jemaat untuk mendoakan anak² tadi. Sel...

HIKMAT TERKAIT KEBODOHAN

Oleh: Bpk. Peter B, MA "Satu orang bodoh melahirkan lebih banyak lagi orang-orang bodoh" -Pepatah Kroasia Sebab itu berhati-hatilah dengan sikap dan tanggapan kita. Jangan berkata atau bertindak bodoh sebab kebodohan menyebar cepat dan menghasilkan kebodohan dan orang-orang bodoh yang semakin banyak. Dari mana kita mengukur kita tidak sedang berbuat bodoh? Dari bagaimana kita menyikapi yang terjadi di sekeliling kita. Orang bodoh mudah emosi, cepat marah, sok tahu, sering merasa benar, dan segera menilai dan berkomentar sebelum berpikir tanpa menyelidiki lebih lanjut. Tidak heran di media sosial begitu hiruk pikuk dengan berbagai komentar yang saling bersahutan melibatkan ribuan orang. Mungkinkah ini karena kebodohan yang menular begitu cepatnya?

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...