Skip to main content

DUA GOLONGAN ORANG DALAM AMSAL 17:10

Oleh Sharon R. 


Amsal 17:10 (TB)  
Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian dari pada seratus pukulan pada orang bebal. 

Amsal 17:10 (VMD)  
Orang cerdas belajar lebih banyak dari satu teguran daripada orang bodoh belajar melalui 100 pukulan.


Ada dua golongan orang yang disebutkan dalam nats diatas. Orang berpengertian dan orang bebal. Kita akan melihat ciri masing² orang tersebut melalui respon mereka terhadap teguran dari Tuhan.

Orang berhikmat atau berpengertian menghargai dan belajar dari setiap teguran kepada dirinya. Ketika hal buruk terjadi dengan bersegera ia introspeksi diri dan tidak mencari kambing hitam di luar dirinya. Hatinya terbuka untuk setiap koreksi dari Tuhan. Ia menyadari dirinya lemah, mudah sesat dan perlu selalu koreksi dan perbaikan untuk kebaikan dan pertumbuhan karakter dan rohaninya. Ia tidak pernah mencari² alasan untuk membenarkan diri. Ia selalu menyediakan hati yang remuk bagi Tuhan. Juga hati seorang murid yang rela dan rindu untuk belajar dan diajar. Ia juga rajin memeriksa dan menilai dirinya. Itu sebabnya ia memiliki hati dan roh yang peka ketika mendapat teguran dan hardikan Tuhan. Ia bersegera merendahkan diri dan bertobat dari kesalahannya. 
Seperti kata hikmat dari hamba-Nya, "Kita tidak boleh merasa bisa tetapi bisa merasa."
Akibat dari sikap hati dan kebiasaannya ini ia terhindar dari pukulan² (kesusahan, masalah, penderitaan) yang seharusnya tidak perlu terjadi dalam hidupnya. Terhadap orang yang demikian Tuhan akan menyatakan rencana-Nya lebih lagi dan menjadikannya rekan² sekerja dan hamba²-Nya yang akan mendatangkan perubahan dan pemulihan atas bangsa ini.

Orang bodoh dan bebal berlaku sebaliknya. Karena kebodohannya ia selalu merasa benar dan baik² saja keadaan rohaninya. Karena kebodohannya, ia enggan dan malas menguji dan mengevaluasi diri. Peristiwa buruk yang terjadi banyak kali hanya dipandang sebagai proses Tuhan untuk mengangkatnya lebih tinggi dan dimuliakan oleh Tuhan. Firman Tuhan lebih banyak digunakan untuk menilai dan menghakimi orang. Mempelajari firman dan hukum² Tuhan bukannya semakin menyadari betapa berdosanya ia tetapi malah menjadi alasan pembenaran diri bahwa ia telah hidup benar dan berkenan di hadapan Tuhan. Akibatnya, hatinya makin keras karena sering mencari alasan untuk membenarkan diri atau mengkompromikan dan pemakluman² terhadap dosa dan kesalahannya. Itu sebabnya pukulan demi pukulan akan dideritanya sebagai buah² dari kebodohan dan kebebalannya. Orang² yang demikian juga sering menyerukan dan mendoakan pertobatan dan pemulihan tetapi tanpa sadar dirinya yang paling memerlukan pertobatan dan pengampunan Tuhan. Banyak bicara penuaian dan rindu menjadi penuai² akhir jaman tapi tidak disadari bahwa dirinyalah bagian dari tuaian itu sendiri. Jika tidak segera sadar dan bertobat maka hidupnya akan dipenuhi penderitaan dan berakhir dalam kekecewaan yang sangat besar karena menyangka telah berbuat baik kepada Tuhan tetapi Tuhan akan menolaknya.

Orang tipe seperti apakah yang kita inginkan? Dapatkah kita merasakan teguran atau hardikan Tuhan itu?
Bagaimana respon sikap hati kita ketika Tuhan menegur atau menghardik kita?

Hari² ini ketika wabah masih berkecamuk dan belum ada tanda² mereda, adakah kita menyadarinya bahwa ini teguran atau bahkan pukulan dari Tuhan akibat suatu hal yang kita lakukan telah menyakiti hati-Nya? Apakah keguncangan ini telah melembutkan dan menghancurkan hati kita atau makin mengeraskan hati kita? Ketika Tuhan sedang menghardik atau memukul kita melalui wabah ini, alih-alih kita bertobat dan merendahkan diri, kita malah lebih suka balas "menghardik" wabah atau pukulan Tuhan ini melalui sikap sungut², keluhan, marah atau protes kepada Tuhan.

Mari bersama merenungkan ini. Termasuk golongan manakah kita? Orang² yang berpengertian (bijak, berhikmat) atau orang² yang bodoh dan bebal?

Comments

Popular posts from this blog

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html

HIKMAT DAN KUTIPAN MENGENAI GEREJA YANG ALKITABIAH

Oleh: Bpk. Peter B, MA Gereja seharusnya menjadi sorga di bumi. Itulah yang dialami oleh jemaat mula-mula yang demikian sehati sehingga saling mengasihi dan milik mereka pribadi seperti milik bersama. Semuanya bukan karena dipaksa oleh suatu sistem yang menganjurkan keadilan sosial bagi semua dimana semua orang sama rata dan sama rasa. Semua karena kasih Tuhan yang bekerja di hati sehingga tidak ada tempat lagi untuk saling curiga dan tidak percaya. Mereka semua tulus dan berkomitmen hidup dalam kasih sesuai perintah junjungan dan Tuhan yang mereka sembah, Yesus Kristus (lihat Kisah Rasul 4). Gereja seperti sebuah komunitas yang ideal dimana semua orang berkumpul, dimuridkan dan bertumbuh sebagai ciptaan baru menuju manusia baru yang berbeda karakter dan gaya hidupnya dengan dunia. Jika hari ini gereja justru tampak seperti dunia, maka itulah waktunya untuk meratap. Sebab gereja telah kehilangan jati diri, intisari dan karakter aslinya sebagaimana yang dirancangkan dan ditetapkan Tuhan...