Skip to main content

Potensimu Hebat, Kembangkan!

 

                Manusia memiliki potensi yang luar biasa. Itu fakta, dan tidak ada alasan apapun untuk menyangkal itu. Potensi manusia melebihi semua makhluk yang lain karena kita punya akal budi dan hati nurani. Tuhan sudah memberi kita kemampuan luar biasa, dan kita harus bersyukur atas itu. Oleh karena itu, mari kita lihat ke diri masing-masing dan menyadari potensi kita.

                Banyak orang mengatakan bahwa dirinya tidak punya potensi, atau yang disebut bakat, atau ada yang berkata bahwa bakatnya sedikit, tidak berarti, tidak bermakna, dst. Menurut saya, inilah salah satu tindakan yang tidak bersyukur. Tuhan telah menciptakan masing-masing dari kita unik, berbeda dari yang lain. Tidak ada dari kita yang sama persis. Keunikan ini membuat bakatmu lebih berarti dari apapun, karena tidak ada yang lain, hanya kamu. Ini hanya berarti kamu tidak percaya diri akan bakatmu, atau kamu belum menemukan bakatmu yang sesungguhnya.

                Memang bakat itu bersifat bawaan dari lahir. Ada orang yang terlahir pintar matematika, jenius musik, bahkan jenius catur dan game adalah bakat. Bakat memang membantu seseorang untuk bisa mengetahui perannya di dunia, tapi itu bukanlah segalanya. Bakat bisa membawa orang sampai cukup jauh dan cukup hebat, tapi bakat saja tidaklah cukup. Misalkan saja, ada orang yang dikatakan paling berbakat di seluruh dunia, tapi kegiatannya setiap hari hanyalah tidur dan bersantai tanpa mengerjakan atau membuat karya apapun. Apakah orang tersebut memenuhi potensinya? Tentu saja tidak.

                Lalu, apa yang menentukan orang tersebut bisa memenuhi potensinya? Itu adalah kerja keras. Banyak kisah orang yang mempunyai sedikit bakat, tapi dia menggunakan satu bakatnya itu semaksimal mungkin. Jack Ma punya bakat yang sedikit, sampai bahkan bekerja di KFC saja tidak diterima. Akan tetapi, dalam segala kekurangannya dia menggunakan bakatnya yang satu itu, dan lihatlah apa yang dilakukannya sekarang. Kerja keras itu lebih penting dari bakat. Meskipun kamu tidak punya bakat apapun dalam bidang itupun, dengan kerja keras yang cukup, bukan tidak mungkin kamu bisa menyaingi orang-orang yang terlahir dengan bakat di bidang itu. Ada kutipan yang luar biasa, “Work hard beats talent when talent doesn’t work hard”, yang artinya kerja keras mengalahkan bakat saat bakat tidak bekerja keras.

                Baik, sekarang kamu sudah menyadari bahwa bakat dan potensimu itu besar dan perlu kamu cari. Mungkin kamu sudah menemukan bakatmu. Kamu sudah mau bekerja keras dan menaruh semua energi dan waktumu dalam mengembangkan bakatmu itu. Apa selanjutnya? Selanjutnya adalah tetapkan tujuan yang besar dan mengubah kehidupan. Tujuan itu adalah hasil akhir yang ingin kamu capai. Tanpa itu, kamu akan tersesat dan kembali lagi ke pola yang lama. Tujuan ini agar kamu bisa menggunakan bakatmu dengan lebih baik lagi, dan tidak puas dengan keadaan yang biasa.

                Kita semua harus bisa menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Meskipun kamu sudah mencapai tujuan itu, kamu masih bisa menjadi lebih baik lagi. Itulah manusia yang sesungguhnya, yang mampu memacu dirinya untuk menjadi lebih baik dan lebih hebat. Dalam pengejaran akan tujuan yang mulia dan berharga, kita harus mau melakukan apapun untuk itu. Intinya, potensi yang kamu miliki itu tidak terbatas, hanya ubahlah pikiranmu dan kemauanmu untuk menggunakan itu sampai batasnya, dan tidak puas dengan hal-hal yang sepele.


Herbert Phinehas Kustiono/205110401111006

Comments

Popular posts from this blog

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...

PANGGILAN TUHAN DALAM HIDUP KITA

Oleh Peter B, MA Hingga kini sangat umum terjadi salah kaprah dalam hal mengikut Kristus. Itu terlihat dalam segala aspek rohani dalam hidup kita. Puncaknya ialah suatu kehidupan yang sering saya sebut sebagai kehidupan agamawi. Inti sebenarnya, agamawi itu berarti berusaha menyenangkan hati Tuhan dengan kekuatan dan cara kita sendiri. Tepat seperti yang diumpamakan Yesus melalui figur anak sulung, dalam perumpamaan anak yang hilang di Lukas 15. Prakteknya ialah kita mengandalkan ketekunan, kesetiaan, kesalehan, perkataan, dan perbuatan yang kita rasa benar dan baik yang diusahakan semampu kekuatan yang ada pada kita sebagai manusia.  Ini sebenarnya kekeliruan fatal.  Kita dipanggil untuk menyatakan Kristus yang telah kita inginkan menguasai dan mengendalikan seluruh hidup kita : pikiran, perasaan dan kehendak kita.  Kita juga dipanggil untuk taat pada tuntunan dan pimpinan Roh Kudus, yang akhirnya tanpa kita sadari, hidup kita berubah dan berbuahkan kasih, ...

HIKMAT DAN KUTIPAN MENGENAI GEREJA YANG ALKITABIAH

Oleh: Bpk. Peter B, MA Gereja seharusnya menjadi sorga di bumi. Itulah yang dialami oleh jemaat mula-mula yang demikian sehati sehingga saling mengasihi dan milik mereka pribadi seperti milik bersama. Semuanya bukan karena dipaksa oleh suatu sistem yang menganjurkan keadilan sosial bagi semua dimana semua orang sama rata dan sama rasa. Semua karena kasih Tuhan yang bekerja di hati sehingga tidak ada tempat lagi untuk saling curiga dan tidak percaya. Mereka semua tulus dan berkomitmen hidup dalam kasih sesuai perintah junjungan dan Tuhan yang mereka sembah, Yesus Kristus (lihat Kisah Rasul 4). Gereja seperti sebuah komunitas yang ideal dimana semua orang berkumpul, dimuridkan dan bertumbuh sebagai ciptaan baru menuju manusia baru yang berbeda karakter dan gaya hidupnya dengan dunia. Jika hari ini gereja justru tampak seperti dunia, maka itulah waktunya untuk meratap. Sebab gereja telah kehilangan jati diri, intisari dan karakter aslinya sebagaimana yang dirancangkan dan ditetapkan Tuhan...