Skip to main content

MENGAPA KEBANGUNAN ROHANI TERTUNDA ?

Leonard Ravenhill




Harnack mendefinisikan Kekristenan sebagai "suatu hal yang sangat sederhana tetapi mahamulia: Hidup dalam waktu dan untuk kekekalan di bawah pengawasan mata Allah dan oleh pertolongan-Nya" 
Oh kalau saja orang-orang percaya menjadi senantiasa sadar akan kekekalan! Bila kita dapat hidup tiap saat di setiap hari di bawah pengawasan mata Allah, bila kita melakukan setiap tindakan dalam terang takhta penghakiman, bila kita memanjatkan setiap doa dalam terang takhta pengadilan, bila kita memberikan perpuluhan dari segala harta milik kita dalam takhta pengadilan, bila kita para pengkhotbah mempersiapkan setiap khotbah dengan satu mata pada kemanusiaan yang telah terkutuk dan mata yang lain pada takhta pengadilan-maka kita akan mengalami kebangunan rohani oleh Roh Kudus yang akan menggoncangkan bumi ini dan yang dalam sekejap mata, akan membebaskan berjuta-juta jiwa yang berharga. 

Pelanggar gencatan senjata yang tidak dapat menahan nafsu, beringas, dan congkak pada jaman ini, takhta-takhta yang bergoncang, api Komunisme yang mengepul, dan usaha-usaha agama palsu untuk menguasai dunia seharusnya membuat kita dipenuhi kegelisahan. Ada ungkapan yang sangat baik yang menyatakan bahwa ada 3 jenis orang di dunia sekarang: mereka yang takut, mereka yang tidak cukup tahu untuk merasa takut, dan mereka yang mengenal Alkitab mereka. Sodom, yang tidak punya Alkitab, tidak ada pendeta, tidak traktat, tidak ada persekutuan doa, tidak ada gereja, telah binasa. Kalau begitu, menurut anda, bagaimanakah Indonesia, Amerika, dan Inggris akan dibebaskan dari murka Yang Mahakuasa? Kita punya berjuta-juta Alkitab, beribu-ribu gereja, tak berbilang pengkhotbah-tetapi betapa besar dosanya! 
Orang-orang membangun gereja-gereja kita tetapi tidak memasukinya, mencetak Alkitab kita tetapi tidak membacanya, mempercakapkan tentang Allah tetapi tidak percaya kepada-Nya berbicara tentang Kristus tetapi tidak mempercayai Dia dalam hal keselamatan, menyanyikan kidung-kidung kita dan kemudian melupakannya. Bagaimana caranya supaya kita keluar dari semua kemelut ini?
Hampir setiap konferensi Alkitab mengutamakan pokok bahasan gereja masa kini yang dianalogikan dengan Gereja Efesus. Kita diberitahukan bahwa, walaupun kita berdosa dan bersifat duniawi, kita didudukkan bersama Dia. Celaka, dusta besar! Kita memang orang-orang Efesus; tetapi, seperti Gereja Efesus dalam kitab Wahyu, kita telah "meninggalkan kasih kita yang mula-mula!" Kita memuaskan keinginan dosa-bukannya menentangnya. Kepada gereja yang dikuasai kekuatiran dunia, dingin, duniawi, dan doyan mengkritik ini, generasi santai yang lalai, lepas kendali, dan penuh nafsu berahi jaman ini tidak akan pernah tunduk. Marilah kita berhenti mencari-cari kambing hitam. Kesalahan kemerosotan moralitas bukanlah karena radio atau televisi. Seluruh tanggung jawab degenerasi dan korupsi internasional saat ini terletak pada pintu gereja! Gereja bukan lagi duri dalam daging dunia. Justru, bukan pada masa popularitas, melainkan pada masa kesukaranlah gereja sejati selalu berkemenangan. Lebih dari aneh bahwa kita ini begitu "lugu" sampai-sampai mempercayai bahwa gereja sedang menyajikan kepada manusia standar Perjanjian Baru tentang Yesus dengan ukuran yang begitu di bawah standar kehidupan Kristen.  
Mengapa kebangunan rohani tertunda? Jawabannya cukup sederhana-karena penginjilan telah sangat dikomersilkan. Perpuluhan janda-janda dan orang-orang miskin dihabiskan untuk hidup mewah para penginjil. Masyarakat banyak, deretan panjang jemaat yang sungguh-sungguh mencari, penghargaan besar dari walikota dan seterusnya, diagung-agungkan sampai ke langit. Semuanya mendapatkan publikasi—kecuali persembahan kasih! Para korban penipuan yang malang yang suka memberi itu “mengira bahwa mereka berbuat bakti kepada Allah,” sementara itu yang mereka lakukan hanyalah membuat seorang pengkhotbah berhati-kerdil, bereputasi-besar, hidup dalam gaya hidup Hollywood. Pengkhotbah-pengkhotbah yang memiliki beberapa rumah dan villa-villa di tepi danau, sebuah perahu, dan rekening bank yang besar, masih mengemis lebih banyak lagi. Dengan pemeras dan orang-orang yang tidak adil semacam itu, dapatkah Allah memepercayakan suatu gerakan yang dibangkitkan oleh Roh Kudus? Pengkhotbah-pengkhotbah muda yang tersayang dan seperti boneka ini tidak lagi mengganti setelan mereka sekali sehari, tetapi dua, tiga kali sehari. Mereka menkhotbahkan Yesus yang lahir di kandang, tetapi mereka sendiri tinggal di hotel-hotel megah. Demi hawa nafsu mereka sendiri, mereka memeras para pemirsa secara finansial dalam nama Dia yang harus meminjam satu dinar untuk menyajikan ilustrasi khotbah-Nya. Mereka mengenakan setelan Hollywood demi kehormatan Dia yang mengenakan jubah petani. Mereka berpesta dengan daging bistik tiga-puluh-ribu untuk mengenang Dia yang berpuasa sendirian di padang gurun. Jaman sekarang seorang penginjil tidak hanya layak menerima upahnya (begitulah anggapannya), tetapi juga menerima bunga bergandanya. Betapa menakutkannya pada saat hal-hal ini diungkapkan pada Hari Penghakiman!                              
Kebangunan Rohani tertunda karena Injil dipermurahkan. Kita sekarang mempunyai kidung-kidung gereja yang dimainkan menurut irama dansa pada kase-kaset rohani dan di radio, maupun di gereja-gereja. Darah Yesus yang berharga dimainkan dalam tempo “boogie woogie.” Bayangkan Irama Roh Kudus diimprovisasikan! Mimbar telah menjadi kaca etalase untuk memajang karunia-karunia kita, dan “tim bezoek” nampak seperti parade wayang. Saya lebih baik mengharapkan seekor katak untuk duduk dan memainkan Moonlight Sonata karya Beethoven daripada mengharapkan pengkhotbah-pengkhotbah licik masa kini berkhotbah dengan suatu pengurapan yang akan menimbulkan ketakutan yang kudus di antara umat.penginjil hari ini sangat sering siap sedia menjadi apa saja untuk siapa saja selama mereka dapat membuat seseorang maju ke altar untuk sesuatu. Dengan fasih mereka memanggil: “Siapa yang memerlukan pertolongan? Siapa yang ingin lebih banyak kuasa? Siapa yang ingin berjalan lebih dekat dengan Allah?” Pertobatan “kepercayaan gampangan” yang sebenarnya berdosa semacam altar. Kita harus mengubah altar, karena altar itu adalah suatu tempat untuk mati. Biarlah yang tidak mau membayar harga ini tidak mengusik altar itu!
Kebangunan rohani tertunda karena kecerobohan. Di altar, terlalu sedikit waktu yang dipakai bagi jiwa-jiwa yang datang untuk urusan kekekalan. Penginjil senang bertemu dengan teman-temannya; sementara para pendosa mengerang di altar, dia sedang menikmati krim minuman dengan berlimpah dari pujian manusia. Jadi Indonesia, Amerika, dan Inggris sedang dirundung oleh ketelantaran rohani yang berserakan dimana-mana, yang membuat mereka menjadi bingung dan kaget. 
Kebangunan rohani tertunda karena ketakutan. Sebagai penginjil, kita mengatupkan bibir erat-erat terhadap agama-agama palsu jaman ini, seakan-akan ada lebih dari satu nama yang olehnya manusia harus diselamatkan. Tetapi Kisah Para Rasul 4 : 12 masih ada di Kitab Suci—“di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain.” Bagi pengkhotbah-pengkhotbah modern, apakah hal ini kelihatannya seperti suatu kefanatikan? Elia memperolok nabi-nabi Baal dan mencemooh ketidakmampuan mereka dengan sindiran menghina. Lebih baik lari dalam kegelapan (seperti yang dilakukan Gideon) dan memberantas hutan belukar ilah-ilah palsu—daripada gagal melaksanakan kehendak Allah. Ajaran-ajaran sesat yang tanpa Kristus dan agama-agama yang mempermalukan keilahian menjamur di tengah malam ini mencobai Tuhan Allah. Tidak adakah seseorang yang akan membunyikan tanda bahaya? Kita bukan lagi orang Protestan—hanya “kristen”! Tentang apa dan terhadap siapakah kita memprotes? Bila kita hanya setengah panas saja daripada yang kita sangka. Dan kekuatan kita hanya sepersepuluh dari yang kita sebutkan, orang-orang Kristen tidak hanya akan dibaptis dalam air dan api, tetapi juga dalam darah. 
Wesley melihat pintu-pintu gereja-gereja Inggris ditutup di depannya, dan Rowland Hill mengatakan tentang dia, “Dia dan jemaat awamnya yang canggung—legiun pengkhotbah compang-camping yang terdiri dari tukang patri, tukang sampah, penarik gerobak, dan pembersih cerobong asap, dan lain-lain.—telah maju untuk meracuni pikiran manusia.” Betapa kasar bahasanya! Tetapi Wesley tidak takut kepada manusia maupun iblis. Jika Whitefield dijadikan bahan tertawaan dalam komedi di pentas-pentas Inggris dengan cara yang paling kasar, dan jika dalam Perjanjiaan Baru, orang-orang Kristen dilempari batu dan menderita setiap penghinaan, maka bagaimana mungkin, dengan masih adanya dosa dan para pendoa yang tidak pernah berubah, bahwa kita para pengkhotbah tidak lagi membangkitkan murka neraka? Mengapa kita begitu biasa-biasa saja, dingin, dan begitu hampa?. Kita dapat mengalami huru hara tanpa kebangunan rohani. Tetapi dalam terang Alkitab dan Sejarah Gereja, di manakah kita mendapatkan kebangunan rohani tanpa huru hara? 
Kebangunan rohani tertunda karena kita tidak merasakan kebutuhan yang mendesak untuk berdoa. Seorang pengkhotbah terkenal memasuki sebuah konferensi beberapa waktu yang lalu dengan kata-kata ini, “Saya datang ke konferensi ini dengan beban doa yang berat di hati saya. Siapa yang mau berbagi beban ini dengan saya, harap mengangkat tangan; dan jangan seorangpun dari kita bersifat munafik.” Ada anggapan yang baik waktu itu. Tetapi kemudian, dalam minggu itu, ketika disampaikan undangan untuk berdoa semalam suntuk, pengkhotbah besar itu pergi tidur. Tidak munafik, bukan?! Integritas telah lenyap! Semua hanya kulitnya saja! Faktor tunggal terbesar yang menyebabkan tertundanya kebangunan rohani oleh Roh Kudus adalah hilangnya sakit bersalin jiwani. Kita menukar pelipatgandaan dengan propaganda. Betapa gilanya! Perjanjian Baru menambahkan sebuah catatan tambahan mengenai Elia ketika Yakobus 5 : 17 mengatakan “dia berdoa!” Kalau bukan karena itu , kita sudah merenggut kisah Perjanjian lama itu dan, menyadari dengan tidak disebutnya hal doa, kita menyatakan: “Elia bernubuat!” 
Kita belum sampai menguncurkan darah dalam hal berdoa; sama sekali tidak, “malah berkeringat dalam jiwa pun tidak,” seperti yang diungkapkan Luther. Kita berdoa dengan sikap “dijawab syukur tidak dijawab ya tidak apa-apa”: kita berdoa dengan sikap untung-untungan; kita mempersembahkan sesuatu yang kita dapatkan dengan cuma-cuma! Kita bahkan tidak mempunyai “kemauan yang kuat.” Sebaliknya kita plin-plan, kemauan kita tidak tetap, dan perasaan kita tidak menentu. 
Satu-satunya kuasa yang membuat Allah menyerah adalah kuasa doa. Kita akan menulis tentang kuasa-doa, tetapi tidak mau bertempur dalam doa. Sebuah julukan yang tepat-dan tidak dapat disangkal lagi—mengenai Gereja masa kini adalah “Kita tidak Berjuang!” Kita akan memamerkan karunia-karunia kita, yang alami maupun rohani; kita akan mengudarakan pandangan-pandangan kita, yang politis maupun rohani; kita akan mengkhotbahkan sebuah kotbah atau menulis sebuah buku untuk mengkoreksi seorang saudara dalam hal doktrin. Tetapi siapa yang akan menyerbu perbentengan neraka? Siapa yang akan menyangkal iblis? Siapa yang akan menyangkal diri dalam hal makanan yang enak, atau waktu senggang bersama teman-teman, atau tidur nyenyak, supaya neraka tahu bahwa dia bergumul, bahwa dia mempermalukan iblis, membebaskan tawanan-tawanan, mengurangi populasi neraka, dan menyelesaikan doanya dengan jawaban atas penderitaan jiwanya, yaitu sekelompok jiwa yang telah dicuci dengan darah? 
Akhirnya, kebangunan rohani tertunda karena kita mencuri kemuliaan Allah. Dengarlah ini dan merasa heranlah: Yesus berkata, “Aku tidak memerlukan hormat dari manusia.” dan, “Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang esa saja?” (Yohanes 5:41, 44). Lenyapkan penghiburan-penghiburan kedagingan dan rayuan-rayuan mimbar! Enyahkan sikap mengagung-agungkan “Program radio Saya,” “Gereja Saya,” Buku Saya!” Oh, betapa memuakkan pawai kedagingan kita di mimbar-mimbar; “Kami sungguh mendapatkan kehormatan, dan seterusnya.” Para pembicara (yang sesungguhnya ada disana hanya oleh kasih karunia) menerima semua ini, bukan hanya itu- bahkan mengharapkanya! Faktanya adalah bahwa setelah kita mendengarkan kebanyakan orang ini, kita tidak akan tahu bahwa mereka adalah orang-orang besar apabila tidak diumumkan demikian! KASIHAN TUHAN Dia hampir tidak mendapatkan apa-apa dari semua ini! Jadi mengapa Allah tidak menggenapi janji-Nya yang agung tetapi menakutkan itu tidak memuntahkan kita dari mulut-Nya? Kita telah gagal. Kita najis. Kita menyukai pujian manusia. Kita “mencari kepentingan diri sendiri.” Oh Tuhan, lepaskan kami dari hawa nafsu dan kebejatan ini! Berkati kami dengan meremukkan kami! Penghakiman haru dimulai dari kami para pengkhotbah! 


Di ambil dari buku : Mengapa kebangunan rohani tertunda Leonard Ravenhill

Comments

Popular posts from this blog

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html

HIKMAT DAN KUTIPAN MENGENAI GEREJA YANG ALKITABIAH

Oleh: Bpk. Peter B, MA Gereja seharusnya menjadi sorga di bumi. Itulah yang dialami oleh jemaat mula-mula yang demikian sehati sehingga saling mengasihi dan milik mereka pribadi seperti milik bersama. Semuanya bukan karena dipaksa oleh suatu sistem yang menganjurkan keadilan sosial bagi semua dimana semua orang sama rata dan sama rasa. Semua karena kasih Tuhan yang bekerja di hati sehingga tidak ada tempat lagi untuk saling curiga dan tidak percaya. Mereka semua tulus dan berkomitmen hidup dalam kasih sesuai perintah junjungan dan Tuhan yang mereka sembah, Yesus Kristus (lihat Kisah Rasul 4). Gereja seperti sebuah komunitas yang ideal dimana semua orang berkumpul, dimuridkan dan bertumbuh sebagai ciptaan baru menuju manusia baru yang berbeda karakter dan gaya hidupnya dengan dunia. Jika hari ini gereja justru tampak seperti dunia, maka itulah waktunya untuk meratap. Sebab gereja telah kehilangan jati diri, intisari dan karakter aslinya sebagaimana yang dirancangkan dan ditetapkan Tuhan...