Skip to main content

KEGONCANGAN TUHAN MENUNJUKKAN JATI DIRI KEKRISTENAN PALSU ATAU KEKRISTENAN ASLI

Ulangan 8:2
"Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak."

Pada saat kegoncangan terjadi di Indonesia. tekanan dalam bidang ekonomi seperti harga-harga bahan pokok makanan naik, tekanan terhadap orang-orang Kristen seperti penutupan gereja, kekerasan fisik menekan orang-orang Kristen, kerusuhan terjadi dalam masyarakat, tokoh-tokoh politik saling menjatuhkan dll. Sesungguhnya pada saat kegoncangan itu terjadi baik dalam goncangan skala yang besar atau dalam skala goncangan yang kecil. Semuanya ditentukan oleh presiden yang memegang kendali kepemimpinan di Indonesia.



Kita berdoa supaya kegoncangan terjadi dalam skala yang lebih kecil (itu sebabnya kita perlu menyadari perkara ini, yaitu: Indonesia memiliki banyak pemimpin dalam politik namun tidak banyak pemimpin yang tulus dan berani mengambil resiko demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat; Demikian juga, jumlah pemimpin rohani di Indonesia banyak, namun tidak banyak pemimpin rohani yang radikal seperti mengetahui kehendak dan rencana Tuhan dalam hidupnya dan pelayanannya serta membangkitkan jemaat yang semakin bergairah mencari kehendak Tuhan, bergerak tepat sesuai visi dari Tuhan dan membawa umat Tuhan mengetahui fungsi dalam tubuh Kristus).

Kegoncangan yang hendak Tuhan nyatakan atas Indonesia tidak memandang profesi kita. Tuhan akan menggoncang rata ke seluruh Indonesia. Berbagai peristiwa yang menggoncang di Indonesia ini ditujukan untuk membuka mata hati kita melihat kondisi hati kita yang sesungguhnya dan kebutuhan terbesar kita dalam mengikut Tuhan. Sesungguhnya Tuhan mengijinkan kegoncangan terjadi atas Indonesia untuk menunjukkan 3 perkara, yaitu:

1) Menunjukkan jati diri kita yang sebenarnya apakah kita orang Kristen sejati atau orang Kristen palsu.
2) Menunjukkan kita berjalan dalam pimpinan Tuhan atau pimpinan kehendak kita sendiri.
3) Menunjukkan iman kita berakar kuat dalam Tuhan atau tidak berakar kuat dalam Tuhan.

Kita aka melihat orang yang tidak memegang prinsip-prinsip firman Tuhan akan terjatuh dalam kemarahan, kecewa, putus asa, iri hati, takut atau kuatir. Sebaliknya orang yang memegang prinsip-prinsip firman Tuhan akan dipenuhi dengan hikmat, sukacita, damai sejahtera, iman dan kasih.

PADA SAAT KEGONCANGAN ITU TERJADI, TUHAN AKAN MENUNJUKKAN KEASLIAN HATI KITA. APAKAH HATI KITA MELEKAT KEPADA TUHAN atau HATI KITA MENJADI TAKUT, KUATIR, PUTUS ASA DAN MENCARI AMAN PADA MANUSIA ATAU UANG ATAU HARTA ATAU MENINGGALKAN IMAN KEYAKINAN KITA KEPADA TUHAN?

BAGIAN PENTING PADA MASA KEGONCANGAN ADALAH PASTIKAN BAHWA SAAT TUHAN MEMBUKA HATI DAN KEHIDUPAN ANDA, MAKA YANG KELUAR DARI HATI, PERKATAAN DAN PIKIRAN ANDA ADALAH PERKARA-PERKARA SORGAWI DAN BUKAN PERKARA-PERKARA DAGING. HENDAKNYA KITA MEMPERSIAPKAN DIRI DENGAN TETAP TEKUN MEMEGANG PRINSIP-PRINSIP FIRMAN TUHAN DAN BERJALAN DALAM KEHENDAK TUHAN DAN BERAKAR KUAT DALAM TUHAN.

Saya berdoa kiranya kita dipersiapkan untuk menghadapi masa kegoncangan di Indonesia. Tuhan menyertai kita sekalian. 


(Oleh Bpk. Didit Irawan)




Comments

Popular posts from this blog

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html

HIKMAT DAN KUTIPAN MENGENAI GEREJA YANG ALKITABIAH

Oleh: Bpk. Peter B, MA Gereja seharusnya menjadi sorga di bumi. Itulah yang dialami oleh jemaat mula-mula yang demikian sehati sehingga saling mengasihi dan milik mereka pribadi seperti milik bersama. Semuanya bukan karena dipaksa oleh suatu sistem yang menganjurkan keadilan sosial bagi semua dimana semua orang sama rata dan sama rasa. Semua karena kasih Tuhan yang bekerja di hati sehingga tidak ada tempat lagi untuk saling curiga dan tidak percaya. Mereka semua tulus dan berkomitmen hidup dalam kasih sesuai perintah junjungan dan Tuhan yang mereka sembah, Yesus Kristus (lihat Kisah Rasul 4). Gereja seperti sebuah komunitas yang ideal dimana semua orang berkumpul, dimuridkan dan bertumbuh sebagai ciptaan baru menuju manusia baru yang berbeda karakter dan gaya hidupnya dengan dunia. Jika hari ini gereja justru tampak seperti dunia, maka itulah waktunya untuk meratap. Sebab gereja telah kehilangan jati diri, intisari dan karakter aslinya sebagaimana yang dirancangkan dan ditetapkan Tuhan...