Skip to main content

TIGA MACAM RESPON ANAK-ANAK TUHAN DALAM MENGHADAPI KEGONCANGAN YANG TERJADI DI INDONESIA

OLEH: Bpk. Didit I.



Akhir-akhir ini Tuhan menuntun saya untuk berdoa bagi gereja-gerejaNya di Indonesia. Dalam doa, Tuhan menyingkapkan pada saya bagaimana sikap hati umat Tuhan di Indonesia khususnya dalam menghadapi demo, teror dan orang-orang yang bermaksud makar di bangsa ini. Tuhan tidak ingin kita menjadi panik atau pun bersikap acuh tak acuh terhadap masalah bangsa ini. Tetapi Ia menghendaki untuk Kita memiliki sudut pandang dan sikap yang tepat dalam menghadapi berbagai peristiwa di Indonesia ini sesuai kehendakNya. Sebab sudut pandang dan sikap kita menentukan langkah/tindakan kita. Kesalahan dalam menentukan sudut pandang dan sikap kita akan berakibat fatal, yaitu membawa kita melangkah dalam kesesatan dan murka Tuhan. Sebaliknya memiliki sudut pandang dan sikap yang tepat akan membuat kita semakin bertumbuh dalam Tuhan dan mengenal pribadiNya.

Sebelum membaca penglihatan yang saya terima ini, penting bagi kita memiliki hati yang terbuka dan kerendahan hati untuk dikoreksi, jujur menilai diri sendiri serta kerinduan yang besar untuk belajar mengenal akan hati dan pikiran Tuhan. Sebab penglihatan ini akan menunjukkan posisi rohani dan kondisi hati kita yang sebenarnya di hadapan Tuhan.

Tuhan menunjukkan tiga macam respon dari gereja-gereja Tuhan di Indonesia pada umumnya ketika menghadapi kegoncangan. Melalui respon inilah yang akan menunjukkan prioritas kehidupan kita selama bertahun-tahun ‘apakah mencari kehendak Tuhan atau kenyamanan pribadi’.

PENGLIHATAN: INDUK BURUNG RAJAWALI MENGGONCANG SARANGNYA
Tuhan memperlihatkan seekor induk burung rajawali yang berdiri di salah satu dahan pohon, dekat dengan sarangnya yang berada dipuncak gunung. Induk rajawali ini mengamati tiga ekor anaknya yang tampak nyaman tidur di dalam sarangnya. Dalam penglihatan tersebut, tampak anak-anak burung rajawali ini sudah tumbuh besar dengan bulu yang lebat namun belum mampu terbang seperti induknya.

Tak lama induk rajawali membuka sayapnya yang lebar lalu terbang menuju sarangnya. Kaki burung induk rajawali ini mencengkram dan menggoncang sarangnya serta mendorong anak-anaknya agar keluar dari sarang tersebut dan terbang. Tuhan menjelaskan bahwa induk rajawali itu ingin mengajarkan anak-anaknya belajar terbang. Sebab sudah waktunya bagi anak-anak rajawali ini terbang dan bukan tinggal nyaman di dalam sarang. Namun respon anak-anak burung rajawali ini benar-benar mengejutkan! Ketiga anak burung rajawali ini menunjukkan tiga respon yang berbeda-beda, yaitu:

1. ANAK RAJAWALI YANG PERTAMA: MENATAP WAJAH INDUKNYA UNTUK MENCARI TAHU MAKSUD INDUK RAJAWALI (TAMPAK INDUK RAJAWALI MEMBUKA SAYAP DAN MENGEPAKKAN SAYAPNYA), KEMUDIAN ANAK RAJAWALI MEMBENTANGKAN SAYAPNYA SAMBIL MENGEPAKKAN KEDUA SAYAPNYA LALU MELOMPAT DARI SARANG DAN BELAJAR TERBANG BERSAMA INDUK RAJAWALI. ANAK RAJAWALI INI AKHIRNYA BERHASIL TERBANG. (hal ini serupa dengan Yesaya 40:31).
Inilah gambaran bagi umat Tuhan yang membangun hidupnya setiap hari dengan menyelidiki, menguji, merenungkan dan mempraktekkan prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan, mencari kehendak Tuhan serta memiliki hubungan pribadi yang karib dengan Tuhan. Kerinduan dalam hatinya adalah menyenangkan hati Tuhan dan kehidupannya dipimpin oleh Roh Kudus. Hal ini ditandai dengan:
  • Menatap wajah induknya menggambarkan fokus hati, pikiran dan kehidupannya hanya ditujukan untuk melakukan kehendak Tuhan dan sepenuhnya bergantung pada kasih karunia Tuhan. Ini akan tampak nyata dari kerendahan hati untuk mau belajar mencari kehendak Tuhan melalui setiap peristiwa dan menghubungankanya dengan proses Tuhan dalam kehidupannya. 
  • Membentangkan sayap menggambarkan kerelaan untuk mengubah kebiasaan pola pikir dan gaya hidup yang lama menjadi baru sesuai kehendak Tuhan.
  • Melompat dari sarang menggambarkan iman dan keberanian untuk menghadapi tantangan dan rintangan menuju tujuan Tuhan.
  • Belajar terbang bersama induk rajawali menggambarkan hidup sepenuhnya dalam pimpinan dan tujuan Tuhan.
  • Anak rajawali ini akhirnya berhasil terbang menggambarkan adanya pertumbuhan rohani yang semakin pesat.
Inilah orang-orang yang hatinya melekat kepada Tuhan. Mereka selalu menguji segala sesuatu untuk mencari kehendak Tuhan dan merenungkannya serta berjalan bersama Tuhan. Dampaknya, mereka akan terus bertumbuh di dalam Kristus bahkan kepadanya akan dipercayakan rahasia serta kuasaNya.
Anak rajawali yang pertama adalah orang yang tiada henti mencari kehendak Tuhan dan bergerak sesuai dengan pimpinan Tuhan.


2. ANAK RAJAWALI YANG KEDUA: MATANYA MENCARI RANTING DI SEKITAR SARANG SEBAGAI PIJAKAN KAKINYA SUPAYA TIDAK TERJATUH NAMUN PADA AKHIRNYA KAKINYA TERPELESET, JATUH DAN MENGALAMI LUKA. (Yeremia 17:5)
Ini gambaran dari umat Tuhan yang hidupnya dibangun dari perkataan, petunjuk, analisis dan imajinasi manusia (penglihatan atau nubuatan yang bukan dari Tuhan). Mereka menggunakan prinsip-prinsip firman Tuhan sebagai peneguhan untuk memenuhi keinginan hatinya yang egois. Hal ini akan semakin tampak nyata dalam kehidupan sehari-harinya:
  • Mata anak rajawali mencari ranting, menggambarkan orang yang suka mencari dan memilah-milah pesan nubuatan, penglihatan serta pengajaran yang mendukung keinginan hatinya saja. Pesan nubuatan, penglihatan dan pengajaran yang tidak sesuai/mendukung keinginan hatinya akan dibuang atau dianggap sesat.
  • Kakinya berpijak pada ranting di sekitar sarangnya, menggambarkan pemikiran dan perkataan yang lahir dari kepentingan dan tujuan pribadi (ego).
  • Kaki yang terpeleset, jatuh dan terluka parah, menggambarkan kehidupannya yang dibangun dengan dasar yang keliru (dibangun dari perkataan, petunjuk, analisis dan imajinasi manusia (penglihatan atau nubuatan yang bukan dari Tuhan), prinsip-prinsip firman Tuhan sebagai peneguhan untuk memenuhi keinginan hatinya yang egois) sehingga ketika terjadi tekanan atau masalah yang mengejutkan akan membuat dirinya jatuh dalam kekecewaan dan terpuruk dalam waktu yang sangat lama. Hatinya selalu mengeluh, meratapi dan mempertanyakan musibah yang menimpa dirinya dan mengasihani dirinya sendiri.
Orang seperti ini cenderung mencari keuntungan pribadi dan bukan mengabdi kepada Tuhan. Pikirannya aktif mencari pembenaran bagi dirinya sendiri. Pembenaran ini menjadi obat bius yang mematikan rasa bersalah dalam dirinya. Inilah Hidup yang didasarkan pada pengertian manusia.
Anak rajawali kedua adalah orang yang egois dan tiada henti mencari pembenaran diri dari berbagai perkataan, petunjuk, analisis dan imajinasi manusia (penglihatan atau nubuatan yang bukan dari Tuhan), bahkan menggunakan/memanipulasi Firman Tuhan untuk mendukung keinginannya.


3. ANAK RAJAWALI KETIGA: TIDAK BERBUAT APA-APA DAN PASRAH, AKIBATNYA ANAK RAJAWALI INI TERJATUH DAN MENGALAMI LUKA YANG SANGAT PARAH. (Amsal 15:21a)
Menggambarkan orang yang tidak peduli dengan kehendak Tuhan dan keadaan di Indonesia. Ciri orang yang berada di tipe ini:
  • Tidak berbuat apa-apa, menggambarkan ketidakpedulian akan kehendak Tuhan serta kondisi Indonesia. Namun memiliki kepedulian yang besar terkait kepentingan dirinya sendiri (egois).
  • Pasrah terjatuh, menggambarkan kebodohan dalam dirinya yang tidak mengetahui kehendak Tuhan namun merasa sudah mengenal Tuhan.
  • Terjatuh dan mengalami luka, menggambarkan saat terjadi masalah/tekanan, kondisinya yang berada dalam kebodohan dan tidak mengetahui kehendak Tuhan akan menjadikan dia jatuh terpuruk dalam kekecewaan, trauma, depresi, dan kegagalan yang paling parah. Hatinya akan menjadi semakin bebal dan tidak peduli akan prinsip-prinsip firman serta pimpinan Roh Kudus.
Inilah kehidupan orang yang berdoa, beribadah, berpuasa namun tidak mau mengetahui kehendak Tuhan dalam dirinya, keluarganya dan masa depan Indonesia. Tuhan menyebutnya sebagai orang ‘bodoh dan egois’, tidak peduli terhadap apa pun kecuali dirinya, keluarganya dan pekerjaannya. Mereka selalu terfokus pada berkat-berkat Tuhan namun tidak mengenal jalan-jalan Tuhan.
Anak rajawali ketiga adalah orang yang sekalipun melakukan berbagai kegiatan agama namun memilih untuk mempertahankan kebodohannya dengan menolak pengenalan akan Tuhan dan jalan-jalanNya.


Anak rajawali kedua aktif dalam pikiran yang mencari pembenaran bagi dirinya sedangkan anak rajawali ketiga aktif untuk kepentingannya sendiri – sibuk mengerjakan rencana atau programnya sendiri. Kedua tipe ini bukanlah tipe anak rajawali yang Tuhan kehendaki.

Anak-anak burung rajawali ini sudah tumbuh besar dengan bulu yang lebat namun belum mampu terbang seperti induknya, ini menggambarkan pertumbuhan usia kita yang semakin bertambah secara fisik namun tidak seimbang dengan pertumbuhan kita secara rohani. Seharusnya semakin bertambahnya usia, karakter kita semakin serupa dengan Kristus dan bijaksana dalam menghadapi segala sesuatu, termasuk menghadapi berbagai peristiwa di Indonesia. Karena itu melalui kegoncangan ini, Tuhan ingin kita seperti anak rajawali pertama yang memiliki sudut pandang dan sikap yang tepat sehingga bertumbuh secara rohani seperti yang dikehendakiNya.

Dampak fatal berada dalam posisi anak rajawali kedua dan ketiga adalah KESESATAN dan KEBODOHAN rohani yang sangat mendalam. Hal ini sama seperti orang-orang Indonesia (di dalam atau luar pemerintahan) yang ingin terus mempertahankan sistem korup di Indonesia. Namun, JIKA KITA MAU MERENDAHKAN DIRI, BERTOBAT DAN MENCARI KEHENDAK TUHAN, MAKA TUHAN AKAN MEMULIHKAN KEADAAN KITA DAN BANGSA KITA. Bahkan Tuhan akan memberikan kekuatan dan hikmat Nya untuk menghadapi berbagai masalah serta menjadikan kehidupan kita sebagai inspirasi/teladan dan berkat bagi orang lain.

Marilah kita bersama-sama membuka hati, mengoreksi diri, serta mencari kehendak Tuhan. Memiliki sudut pandang dan sikap yang tepat seperti yang dikehendakiNya dalam menghadapi kegoncangan ini akan mendatangkan kedewasaan rohani bagi kita dan pemulihan Indonesia.

Salam perjuangan dalam Kristus.

Comments

Popular posts from this blog

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html

HIKMAT DAN KUTIPAN MENGENAI GEREJA YANG ALKITABIAH

Oleh: Bpk. Peter B, MA Gereja seharusnya menjadi sorga di bumi. Itulah yang dialami oleh jemaat mula-mula yang demikian sehati sehingga saling mengasihi dan milik mereka pribadi seperti milik bersama. Semuanya bukan karena dipaksa oleh suatu sistem yang menganjurkan keadilan sosial bagi semua dimana semua orang sama rata dan sama rasa. Semua karena kasih Tuhan yang bekerja di hati sehingga tidak ada tempat lagi untuk saling curiga dan tidak percaya. Mereka semua tulus dan berkomitmen hidup dalam kasih sesuai perintah junjungan dan Tuhan yang mereka sembah, Yesus Kristus (lihat Kisah Rasul 4). Gereja seperti sebuah komunitas yang ideal dimana semua orang berkumpul, dimuridkan dan bertumbuh sebagai ciptaan baru menuju manusia baru yang berbeda karakter dan gaya hidupnya dengan dunia. Jika hari ini gereja justru tampak seperti dunia, maka itulah waktunya untuk meratap. Sebab gereja telah kehilangan jati diri, intisari dan karakter aslinya sebagaimana yang dirancangkan dan ditetapkan Tuhan...