Skip to main content

HIKMAT DAN KUTIPAN MENGENAI MENJADI BERKAT BAGI ORANG LAIN

Oleh: Bpk. Peter B, MA

Jika kita sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan sebagai Tuan atas pekerjaan-Nya, maka kita tidak perlu kuatir bahwa kita akan kekurangan dan tidak pernah dicukupi-Nya.

Hamba-hamba Tuhan sejati meninggalkan pekerjaannya yang lama untuk menyerahkan diri sepenuhnya untuk melaksanakan panggilan Tuhan dan bekerja keras di ladang-Nya.

Lalu bagaimana dengan kebutuhan hidup mereka? Tuhan memanggil anak-anak dan hambathamabatNya yang lain, yang sehari-hari berkecimpung di dunia bisnis dan profesional, yang jauh lebih banyak jumlahnya dari mereka yang menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu -merekalah yang dipanggil Tuhan menyalurkan berkat-berkat jasmaninya bagi hamba-hamba yang sungguh-sungguh dipanggil-Nya.
Sebagaimana mereka yang tidak menerima panggilan untuk melayani sepenuh waktu di hadapan Tuhan MENERIMA BERKAT-BERKAT dari hamba-hamba-Nya yang menanggapi panggilan khusus-Nya sedemikian pula mereka wajib MEMBAGI BERKAT-BERKAT JASMANI yang mereka terima bagi hamba-hamba yang telah terbukti menyerahkan diri, meninggalkan segala kenyamanan dan kemudahan hidup untuk melayani Sang Raja (Gal. 6:6; 1 Tim. 5:17).

Dengan demikian, hamba-hamba Tuhan tidak terjun di dunia bisnis demi memenuhi kebutuhan pelayanan dan bisa fokus pada penerapan firman dan doa demi pertumbuhan dan kesehatan rohani jemaat (Kisah 6:4) dan jemaat memperoleh berkat-berkat rohani terbaik oleh karena hamba-hamba Tuhan maupun pemimpin rohani dengan tepat menyampaikan pesantpesan murni dari Tuhan tanpa kekuatiran akan kebutuhan hidup dan keluarganya.

Seperti itulah kehidupan berjemaat di gereja mula-mula. Jemaat membagi miliknya untuk menyokong kebutuhan hidup hamba-hamba Tuhan dan jemaat yang berkekurangan dan membutuhkan bantuan. Hanya oleh karena kondisi gereja yang merosotlah maka pemimpin rohani harus sering-sering menekankan dan menyampaikan pengajaran serta berbagai pesan supaya jemaat suka memberi dan berbagai harta demi kebutuhan pelayanan. Seringkali ini terkesan manipulatif hingga sampai pada kecenderungan dimana hanya melalui janji-janji berkat yang berlipatganda akan diterima jemaat maka jemaat mulai tergerak untuk memberi. Tentunya dengan motivasi yang perlu dipertanyakan ketulusannya jika memberi karena alasan yang demikian!
Minimnya kerelaan berkorban bagi pekerjaan Tuhan, entah karena jemaat cinta harta atau tidak benar-benar yakin visi dan pengelolaan keuangan gereja, merupakan sesuatu yang membuktikan bahwa kebangunan rohani masih belum terjadi di tengah-tengah gereja Tuhan sehingga minat dan gairah yang besar bagi pekerjaan Tuhan tak begitu nampak.

Di sisi lain, ada ketakutan luar biasa dari orang tua yang tahu ada di antara anaknya yang ingin menjadi hamba Tuhan. Mengingat kehidupan hamba Tuhan yan dirasa tidak jelas pemenuhan kebutuhannya. Sesuatu yang sebenarnya sangat merendahkan kekuasaan dan kesetiaan Tuhan atas mereka yang dipanggil-Nya menjadi hamba-Nya.

Jemaat mula-mula tidak pernah takut berbagi karena kasih Tuhan menguasai hati mereka. Mereka percaya kepada rasul-rasul dan hamba-hamba Tuhan lainnya yang telah terbukti memberikan hidup mereka bagi Tuhan. Jika kerinduan untuk bertumbuh secara rohani dan mengenal Tuhan SUNGGUH-SUNGGUH di dalam hati, maka komunitas para pengikut Kristus adalah komunitas yang terbaik yang pernah ditemukan di muka bumi.

Mari kita berharap apa yang terjadi di gereja mula-mula kembali lagi bahkan lebih dahsyat daripada waktu itu. Dan tidak hanya berharap. Mari belajar menjadi perubahan yang ingin kita inginkan itu. Yang dipanggil menjadi hamba Tuhan, janganlah takut melangkah dan percaya bahwa Tuhan akan menjaga langkah Anda. Yang dipanggil di marketplace mulai terbuka mata hatinya untuk membedakan pelayanan yang mana yang berasal dari hati Tuhan dan bukan, lalu mendukung pelayanan dan hamba-hamba Tuhan sejati.

#JadiBerkatSebagaimanaKitaDipanggil
#CaraTuhanDalamPelayanan
#SemuaSesuaiBagiannya
#YangBenarVsYangHampirBenar

Comments

Popular posts from this blog

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html

HIKMAT DAN KUTIPAN MENGENAI GEREJA YANG ALKITABIAH

Oleh: Bpk. Peter B, MA Gereja seharusnya menjadi sorga di bumi. Itulah yang dialami oleh jemaat mula-mula yang demikian sehati sehingga saling mengasihi dan milik mereka pribadi seperti milik bersama. Semuanya bukan karena dipaksa oleh suatu sistem yang menganjurkan keadilan sosial bagi semua dimana semua orang sama rata dan sama rasa. Semua karena kasih Tuhan yang bekerja di hati sehingga tidak ada tempat lagi untuk saling curiga dan tidak percaya. Mereka semua tulus dan berkomitmen hidup dalam kasih sesuai perintah junjungan dan Tuhan yang mereka sembah, Yesus Kristus (lihat Kisah Rasul 4). Gereja seperti sebuah komunitas yang ideal dimana semua orang berkumpul, dimuridkan dan bertumbuh sebagai ciptaan baru menuju manusia baru yang berbeda karakter dan gaya hidupnya dengan dunia. Jika hari ini gereja justru tampak seperti dunia, maka itulah waktunya untuk meratap. Sebab gereja telah kehilangan jati diri, intisari dan karakter aslinya sebagaimana yang dirancangkan dan ditetapkan Tuhan...