Skip to main content

PERBEDAAN MENDASAR

Oleh: Bpk. Peter B, MA

Kekristenan sejati didasarkan pada iman yang berserah sepenuhnya pada Kristus. Yang percaya dan menaruh harap seluruhnya akan nasib kekekalan kita pada karya keselamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus di atas salib dengan menanggung semua dosa dan hukuman kita. Yesus sendiri menyampaikan maksud kedatangan-Nya ke dunia 2000 tahun lampau, "…   sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mat. 20:28). Barangsiapa yang percaya bahwa Yesus telah melakukan itu baginya, dosa-dosanya akan diampuni, ia akan diselamatkan dan dilahirkan kembali dalam hidup yang baru.

Lalu apakah dengan itu setiap pengikut Yesus bebas berbuat dosa karena sudah diampuni dan diselamatkan? Tentu saja tidak. Pikirkanlah dengan benar. Bukankah kita ditebus dari dosa dan upahnya yaitu kematian? Bagaimana mungkin kita dibebaskan hanya untuk kembali pada perbudakan dan keadaan dimana kita sebelumnya terancam binasa? Kita ditebus dan diberikan hidup baru supaya dengan hidup yang baru itu KITA HIDUP MENJAUHI DOSA, TIDAK HIDUP DI DALAMNYA SEBAGAI PEMBUAT-PEMBUAT DOSA TETAPI HIDUP DALAM LEVEL MANUSIA-MANUSIA SORGAWI. Seperti Yesus, hidup melaksanakan kasih. Melayani Allah maupun manusia;  mempraktekkan kebenaran, keadilan, kejujuran dan kebaikan; mengerjakan dan menyelesaikan tujuan dan panggilan pemciptaan dan keberadaan kita selama di dunia.

Di sinilah perbedaan mendasar antara iman Kristen sejati dengan semua kepercayaan yang lain. Yang lain mendasarkan diri pada perbuatan, mengandalkan kesalehan dan perbuatan baik (atau yang disangkanya baik), menunjukkan ibadah dan persembahan untuk mencari pengakuan dan penerimaan ilahi. Dengan harapan suatu kali mendapat tempat di sorga. Iman pada Yesus didasarkan pada keyakinan bahwa sorga tak terjangkau OLEH PERBUATAN-PERBUATAN KITA. Melalui KRISTUS SAJA ada jalan ke sana. Dan karena ini adalah perkara rohani, kita harus memiliki iman untuk dapat melihat jalan itu lalu melangkah pada keselamatan. Baru setelah kita menerima keselamatan, perbuatan-perbuatan baik menjadi pertanda bahwa kita adalah pewaris-pewaris Kerajaan Sorga yang karena Allah kita kasih maka kita pun menyatakan kasih dan gemar berbuat baik.

Membawa perbuatan dan kesalehan atau jasa-jasa kita sendiri dengan melakukan hukum dan perintah agama tidak pernah akan menjadikan diri kita dibenarkan Allah. Kebenaran kita TIDAK LAKU dan TIDAK MAMPU membayar tiket masuk ke sorga. Itu harus dibayarkan oleh Allah sendiri melalui pengorbanan Yesus yang membuka pintu bagi siapa saja yang percaya untuk masuk ke dalam kebahagiaan kekal itu.

Hanya manusia-manusia yang diubahkan menjadi baru akan melakukan lerbuatan baik dalam ketulusan kasih yang semurni-murninya sebab mereka tak lagi berpamrih ingin memperoleh sesuatu dari Tuhan melalui perbuatan-perbuatan mereka. Mereka berbuat baik karena memang mereka telah diubah menjadi pribadi-pribadi yang baik dan diajar selalu untuk mengasihi dengan kasih yang tak bersyarat.

Oh betapa indahnya mengikut Yesus. Ada jaminan masa depan yang kekal lagi mulia. Bukan karena gagah dan hebat kita tapi oleh kasih karunia dan Roh Kudus yang bekerja dalam kita. Suatu kali dalam keabadian, saat bertemu muka dengan muka di hadapan hadirat Tuhan, kita akan tersungkur menyembah. Sebab Dia telah menjadi perancang, pelaksana dan pemelihara keselamatan kita. Alih-alih membanggakan perbuatan dan amal kita, kita akan memuliakan Dia yang telah berbuat baik dan menyatakan kasih setia-Nya pada kita.
Terpujilah Bapa, Anak dan Roh Kudus selama-lamanya.
Untuk seterusnya dan selamanya hormat, kagum dan sembah kami pada-Mu!

Selagi kesempatan masih diberikan dan nafas masih dapat ditarik, maukah Anda membuka hati Anda membawa iman Anda untuk menerima Yesus yang sedang mengetok pintu hati Anda supaya Ia masuk dan beroleh persekutuan dengan Anda?

#TerimaKasihBuatSalibMu
#YesusTuhanDanPenebusku
#SelamanyaKamiMenyembahMu

#BenarVsHampirBenar

Comments

Popular posts from this blog

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html

HIKMAT DAN KUTIPAN MENGENAI GEREJA YANG ALKITABIAH

Oleh: Bpk. Peter B, MA Gereja seharusnya menjadi sorga di bumi. Itulah yang dialami oleh jemaat mula-mula yang demikian sehati sehingga saling mengasihi dan milik mereka pribadi seperti milik bersama. Semuanya bukan karena dipaksa oleh suatu sistem yang menganjurkan keadilan sosial bagi semua dimana semua orang sama rata dan sama rasa. Semua karena kasih Tuhan yang bekerja di hati sehingga tidak ada tempat lagi untuk saling curiga dan tidak percaya. Mereka semua tulus dan berkomitmen hidup dalam kasih sesuai perintah junjungan dan Tuhan yang mereka sembah, Yesus Kristus (lihat Kisah Rasul 4). Gereja seperti sebuah komunitas yang ideal dimana semua orang berkumpul, dimuridkan dan bertumbuh sebagai ciptaan baru menuju manusia baru yang berbeda karakter dan gaya hidupnya dengan dunia. Jika hari ini gereja justru tampak seperti dunia, maka itulah waktunya untuk meratap. Sebab gereja telah kehilangan jati diri, intisari dan karakter aslinya sebagaimana yang dirancangkan dan ditetapkan Tuhan...