Skip to main content

HATI YANG BELUM PERCAYA DAN DISELAMATKAN (PERUMPAMAAN TANAH PINGGIR JALAN bagian 4)


Oleh : Peter B, MA.



Mari menyimak hal selanjutnya yang Yesus katakan mengenai tanah di pinggir jalan yang adalah gambaran dari salah satu respon hati manusia terhadap firman Tuhan.

Injil Lukas mencatat perkataan Yesus yang tidak dituliskan dalam Injil Matius dan Markus terkait perumpamaan mengenai penabur ini.

Lukas 8:12 (TB)
Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.

Kebenaran lain yang dinyatakan Yesus mengenai hati manusia yang diibaratkan seperti tanah pinggir jalan adalah bahwa orang tersebut ternyata digolongkan oleh Yesus sebagai ORANG YANG BELUM PERCAYA DAN BELUM DISELAMATKAN.
Yang dimaksud adalah bahwa ia belum memiliki iman kepada Tuhan dan karena iman yang sungguh merupakan persyaratan menerima keselamatan dalam Tuhan, maka ia termasuk orang yang belum beroleh keselamatan atau rohmya belum memiliki jaminan mendapat hidup kekal setelah ia mati.

Perlu digarisbawahi di sini, "belum percaya" bukan selalu memiliki pengertian orang tersebut sama sekali belum pernah mendengar sama sekali tentang Tuhan Yesus. Sudah dua ribu tahun sejak kedatangan Yesus, entah sudah berapa milyar orang yang telah mendengar nama Yesus tetapi masih tidak percaya kepada-Nya.
Bahkan yang disebut hari ini sebagai "orang Kristen" pun masih bisa digolongkan juga sebagai orang yang tidak percaya. Itu jika ia memiliki iman yang mati, bukan iman yang hidup. Iman yang mati ialah iman yang ada pada setan-setan, yang juga mengakui bahwa Yesus sungguh-sungguh dan satu-satunya Tuhan tetapi kepercayaan itu tidak pernah membuat mereka semua tunduk dan menyembah Kristus (lihat Yakobus 2:19).
Sesungguhnya, di era informasi yang sudah sedemikian luas,  seharusnya sudah dapat dianggap sebagai sesuatu yang aneh jika saat ini ada orang di dunia ini yang belum pernah mendengar tentang kekristenan atau belum pernah tahu nama "Yesus" (atau nama-nama sebutan Yesus di dalam bahasa masing-masing bangsa).  Dan saat nama Yesus sudah dikenal hingga ke ujung-ujung bumi, sejatinya INJIL KESELAMATAN saat ini telah tersebar di seluruh penjuru dunia. Banyak yang berpikir bahwa karena hal itu, kedatangan Kristus sudah sangat dekat. Tetapi Yesus mengatakan bahwa salah satu petunjuk utama bahwa kedatangan-Nya sudah di ambang pintu ialah diberitakannya INJIL KERAJAAN-NYA di seluruh dunia (lihat Matius 24:19). Perbedaan di antara keduanya akan dibahas pada kesempatan yang lain.


MANUSIA LAMA DAN MANUSIA BARU
Harus kita ketahui dengan benar perbedaan antara orang yang telah menjadi milik Kristus dan yang sudah diselamatkan dengan yang belum mengenal Tuhan dan masih belum menerima keselamatan.
Perbedaannya bukan pada agamanya. Misalnya, yang beragama Kristen berarti sudah menjadi milik Kristus dan selamat sedangkan yang bukan Kristen masuk neraka. Pemikiran semacam ini tidak jauh berbeda dengan penganut agama atau kepercayaan lain yang merasa dirinya sudah benar dalam agamanya itu lalu mengkafirkan orang yang lain, memandang orang yang berbeda dengannya sebagai orang-orang yang akan binasa di neraka.

Agama tidak menyelamatkan manusia. Setidaknya itu yang diajarkan dalam kekristenan. Yesus sendiri tidak pernah membuat atau menegakkan agama tertentu. Ia datang supaya orang PERCAYA KEPADA DIA yang telah turun ke dunia menjadi juruselamat manusia dengan menanggung dosa-dosa serta hukuman yang seharusnya ditanggung setiap kita yang dikuasai dosa sehingga melawan Allah. Melalui iman kepada Dia dan bertekun mengikuti ajaran-Nya, setiap orang dapat memastikan keselamatan jiwanya (lihat 2 Petrus 1:10-11)

Pengikut-pengikut Yesus pada mulanya disebut Kristen bukan karena ada agama Kristen yang diresmikan dan didaftarkan dalam pemerintahan-pemerintahan di dunia sebagai suatu agama resmi. Waktu itu, Kristen adalah julukan olok-olok untuk sekelompok orang dan komunitas yang hidup secara berbeda dengan orang-orang ada umumnya. Mereka hidup demikian karena mengaku mengikuti ajaran Kristus. Itulah sebabnya mereka dipanggil Kristen karena mereka mengikuti cara hidup Yesus. Berbeda dengan sekarang. Orang disebut menurut agamanya hari ini (khususnya di Indonesia) demi kepentingan pencatatan data kependudukan. Orang dicatat menganut agama tertentu berdasarkan kepercayaan yang dianutnya. Kepercayaan yang di peradaban yang lebih modern disebut sebagai agama.

Orang yang beragama Kristen dipandang sebagai orang yang meyakini dan mengikuti ajaran Kristen. Di hadapan orang, ia dianggap sebagai orang yang yakin dan bersedia mengikuti ajaran Yesus Kristus. Namun yang tampak di hadapan orang dan dicatat sebagai status atau identitas dalam kependudukan kita TIDAK SELALU SAMA DENGAN YANG ADA DI HATI DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI. Tuhan yang tahu apa yang ada di hati kita dan kehidupan seperti apa yang kita jalani selagi menyebut diri kita sebagai orang Kristen. Tuhan tahu apakah kita benar-benar mengikuti ajaran-Nya atau sekedar mengaku-aku sebagai murid-Nya tetapi tidak pernah benar-benar mencari tahu apa yang menjadi perintah dan kehendak-Nya, yang merupakan kerinduan isi hati-Nya bagi kita. Itu sebabnya menjadi orang-orang yang beragama dan menjalankan tata cara hidup sebagai orang beragama BELUM TENTU memenuhi ukuran atau persyaratan Tuhan sebagai orang percaya dan diselamatkan.

Sama seperti yang diumpamakan sebagai benih yang ditaburkan di tepi jalan, benih itu jatuh dan sampai juga di hati yang belum percaya ini. Tapi oleh karena hatinya begitu keras dan terbuka hanya bagi perkara-perkara duniawi serta pekerjaan iblis, maka firman itu lenyap tak berbekas. Dari sini, bisa disimpulkan bahwa orang-orang yang belum percaya ini pada dasarnya sudah mendengar injil, mengetahui sebagian firman Tuhan, atau pernah menyimak ajaran Kristus. Intinya mereka mendengar kebenaran tetapi memilih menutup diri terhadap kebenaran itu. Ia lebih menyediakan tempat di hatinya untuk semua yang lain kecuali Kristus. Sedihnya, pendirian dan keputusan mereka itu suatu kali akan berakhir dengan penyesalan yang teramat sangat. Itu karena mengabaikan benih (yang adalah gambaran perkataan dan uluran tangan Tuhan bagi mereka supaya bertobat) yang dianggapnya tidak berarti padahal benih itu mengandung kuasa yang mampu mengubah hidup dan takdir  mereka selama-lamanya.


SALAH SATU TANDA ORANG YANG TELAH DISELAMATKAN
Melalui gambaran hati seperti tanah tepi jalan ini, Yesus menyiratkan suatu petunjuk penting bagi kita mengenai perbedaan antara yang sudah menerima keselamatan di dalam Dia dengan yang belum.
Perbedaan itu berupa RESPON TERHADAP FIRMAN YANG DITABURKAN TUHAN.

Secara ekstrim, orang yang tidak percaya digambarkan sebagai orang yang sama sekali menolak ajaran Kristus hingga ke titik komanya. Firman Tuhan dalam Alkitab dianggapnya palsu, sudah dimodifikasi, berisi ajaran-ajaran yang sesat. Ini serupa dengan orang-orang yahudi agamawi, khususnya para pemuka agama yang menganggap dan kelak menuduh Yesus sebagai penghujat dan orang sesat. Terang-terangan menolak ajaran Kristus adalah tanda seseorang belum percaya dan diselamatkan.
Tapi penolakan terhadap firman bisa ditunjukkan dalam bentuk yang tidak ekstrim. Khususnya di kalangan orang-orang Kristen yang bisa jadi rutin datang ke tempat-tempat ibadah bahkan mengklaim dirinya melayani Tuhan.

Orang yang belum selamat (dan pastinya belum percaya), sekali lagi saya katakan, terlihat melalui sikapnya yang meremehkan firman atau bahkan menolaknya sama sekali ketika firman itu disampaikan. Ia tidak peduli akan firman Tuhan. Sama sekali tidak memberikan perhatian yang serius tetapi sekedar membiarkannya masuk ke telinga kiri untuk keluar dari telinga kanan dan segera melupakannya begitu ia keluar dari tempat ibadah dan kembali larut dalam kehidupan duniawinya yang dijalaninya sehari-hari.
Ada sikap lain lebih parah lagi. Karena sering datang beribadah di gereja dan mendengar khotbah-khotbah yang sifatnya motivasional daripada penyadaran akan dosa dan akan jalan-jalan Tuhan, seseorang yang belum percaya dan diselamatkan berpotensi menjadi semakin tersesat dengan menggunakan ayat-ayat firman Tuhan yang diklaimnya demi memenuhi tujuan-tujuan duniawinya yang seringkali ditandai dengan hasrat pemenuhan materi dan kesenangan dunia. Sikap semacam ini barangkali tampak seperti meninggikan kuasa firman tetapi dengan meyakini bahwa firman itu dapat melayani keinginannya yang berpusatkan pada diri sendiri atau hal-hal duniawi, tanpa disadari iblis telah berhasil menjadikannya sebagai orang yang merendahkan firman dan Tuhan yang telah berfirman itu dengan memandangnya sebagai sekedar alat-alat yang bisa dipakai untuk tujuan-tujuan manusia yang egois. Alih-alih mencari maksud hati Tuhan dalam firman-Nya, ketika seseorang menggunakan ayat-ayat firman demi tujuan-tujuannya sendiri, itu sudah merupakan sikap merendahkan dan melecehkan firman (yang diumpamakan Yesus bagaikan menginjakkan kaki pada benih di tepi jalan itu). Inilah salah satu penyakit rohani yang sekarang semakin luas menjangkiti jemaat Kristen.

Kebalikannya, orang yang telah diselamatkan karena telah percaya bahwa Yesus itu Tuhan dan Raja atas hidupnya, menjunjung tinggi perkataan-perkataan Tuhan. Ada ketertarikan baru yang muncul dan menguasi hatinya. Minat yang terus bertumbuh untuk belajar firman Tuhan untuk mengetahui jalan-jalan Tuhan. Ia mencari kehendak Tuhan karena tahu dan yakin bahwa itu petunjuk dan cara terbaik menjalani hidup selama di dunia. Ia tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan menerima penyingkapan pengertian firman Tuhan. Ia melakukannya karena isi hati Tuhan bagaikan isi hati sang kekasih jiwa yang jika ia mengetahuinya, ia dapat mencari dan melakukan apa yang dapat menyenangkan hati Tuhan yang dikasihinya itu.
Inilah orang-orang yang bukan sekedar hadir di gereja demi keperluannya sendiri yang sekedar datang ke gereja untuk kepentingan pembaptisan, untuk menikah, untuk penyerahan anak atau untuk sekedar menunaikan tanggung jawab moral dan agama sebagai orang berkepercayaan Kristen.


Mari merenungkan dan memeriksa diri sejauh mana kita menujukan hati kepada kebenaran-kebenaran firman.

Adakah hati kita lapar dan haus untuk menyelami rahasia-rahasia kehendak-Nya dalam hidup kita atau lebih menikmati pesan-pesan motivasi yang menyenangkan telinga?

Adakah kita dengan segera menyambut pesan-pesan yang memanggil kita hidup dalam pertobatan dan kekudusan atau lebih bersemangat mengaminkan khotbah-khotbah yang fokus menjanjikan berkat berlimpah-limpah, memperluas daerah kita atau melepaskan kita dari malapetaka supaya kesakitan tidak menimpa kita?

Adakah kita mencari level atau tahapan yang baru dalam mengenal Tuhan atau lebih suka memanfaatkan janji firman Tuhan demi tercapainya tujuan-tujuan duniawi kita?

Adakah kita memiliki sikap hati seperti pemazmur yang berseru dari sejak dalam hatinya : "Aku rindu kepada keselamatan daripada-Mu, ya TUHAN, dan Taurat-Mu menjadi kesukaanku." (Mazmur 119:174)

Jika hati Anda masih merupakan hati yang tertutup bagi kehendak Tuhan, jangan berdiam diri dan tenang-tenang saja. Sebab jika Anda tidak datang kepada Tuhan dan mulai membuka hati bagi teguran-Nya yang memulihkan, Anda belum termasuk orang yang percaya dan diselamatkan.

Salam revival!
Tuhan Yesus Memberkati Kita Semua.

Comments

Popular posts from this blog

SIKAP IBADAH YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN (Bagian 2)

Oleh : Peter B, MA Ayat hari ini : Lukas 18:9-14 (TB) 9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain,  Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa mer...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html

HIKMAT DAN KUTIPAN MENGENAI GEREJA YANG ALKITABIAH

Oleh: Bpk. Peter B, MA Gereja seharusnya menjadi sorga di bumi. Itulah yang dialami oleh jemaat mula-mula yang demikian sehati sehingga saling mengasihi dan milik mereka pribadi seperti milik bersama. Semuanya bukan karena dipaksa oleh suatu sistem yang menganjurkan keadilan sosial bagi semua dimana semua orang sama rata dan sama rasa. Semua karena kasih Tuhan yang bekerja di hati sehingga tidak ada tempat lagi untuk saling curiga dan tidak percaya. Mereka semua tulus dan berkomitmen hidup dalam kasih sesuai perintah junjungan dan Tuhan yang mereka sembah, Yesus Kristus (lihat Kisah Rasul 4). Gereja seperti sebuah komunitas yang ideal dimana semua orang berkumpul, dimuridkan dan bertumbuh sebagai ciptaan baru menuju manusia baru yang berbeda karakter dan gaya hidupnya dengan dunia. Jika hari ini gereja justru tampak seperti dunia, maka itulah waktunya untuk meratap. Sebab gereja telah kehilangan jati diri, intisari dan karakter aslinya sebagaimana yang dirancangkan dan ditetapkan Tuhan...