Skip to main content

POKOK PEMBAHASAN : FILIPI 4:5 BERBICARA MENGENAI HAL YANG BERBEDA DENGAN MATIUS 6:3

Oleh Peter B, MA 



Filipi 4:5 berbicara mengenai hal yang berbeda dengan Matius 6:3. 

Filipi 4:5 lebih terhubung pada Matius 5:16 dan 1 Petrus 2:12. Yang kesemuanya berbicara mengenai karakter atau sifat² yang baik bahkan perbuatan² baik. 

Yang dimaksud dalam Filipi 4:5 sebagai "kebaikan hati" sebenarnya dapat diterjemahkan juga sebagai sifat lemah lembut dan peramah. Suatu karakter yang seharusnya ditampilkan oleh setiap anak² Tuhan di tengah² orang² yang tidak mengenal Tuhan, yang menjadi suatu kesaksian yang baik, menggoncang, menyentuh dan membedakan antara murid² Kristus dengan mereka yang belum mengenal Tuhan. 
Maksudnya, setiap orang yang belum kenal Kristus harus melihat dan menyaksikan betapa baiknya anak² Tuhan itu. Buah Roh itu harus nyata dan dirasakan oleh orang² sekitar kita, khususnya mereka yang belum kenal dan jauh dari Tuhan. Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. 

Anak² Tuhan harus merupakan orang² yang unggul dan teladan dalam karakter² dan sifat² yang baik. Bukan sebaliknya. 

Bagaimana dengan Matius 6:3?
Nats tersebut berbicara mengenai hal memberi sedekah atau membagikan sesuatu kepada orang yang sedang dalam keperluan atau kekurangan. Inti ayat tersebut adalah berbicara tentang motif dalam hati. Yaitu bahwa dalam hal memberi, kita tidak boleh ada motif unjuk diri, pamer diri atau mengharap penghargaan atau pujian dari orang. Dan masalah motif ini, prinsipnya sama dalam ajaran Yesus. Baik dalam hal puasa maupun dalam hal berdoa dan perbuatan lain yang dimaksudkan sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan. Motifnya harus benar, yaitu melakukan hanya supaya dikenan Tuhan. Bukan untuk dipamerkan di depan manusia. 

Apakah ini tidak bertentangan dengan Filipi 4:5?
Di sinilah beberapa orang kesulitan mencari hubungannya dan gagal membawa pengertian ayat² tsb dalam prakteknya.

Penjelasannya : 

• Karakter² kita yang baik harus nyata dan dapat dilihat oleh sekitar kita. Tapi… bukan dengan motif pamer diri tapi dengan tujuan memuliakan dan jadi saksi bagi nama Tuhan. 

• Dalam hal memberi sedekah di Matius 6:3  yang perlu orang tahu adalah karakter kita yang baik dalam hal memberi sedekahnya, BUKAN dalam hal pemberian sedekahnya. Proses pemberian sedekahnya tidak perlu ditunjuk²kan dan dipamerkan, apalagi diviralkan di mana². Yang penting orang² dekat atau di sekitar kita, khususnya yang terlibat dalam pemberian sedekah tsb, tahu kita telah memberikan sedekah. Tapi pemberian sedekah kita tidak perlu digembar gemborkan dan disampaikan secara luas, apalagi didokumentasikan dan ditunjuk²kan kepada publik.

Kebaikan kita yang perlu diketahui publik adalah dalam hal KITA MEMBERI SEDEKAH TANPA MEMAMERKANNYA. Itu kebaikan yang lebih baik, lebih tinggi, lebih mulia tingkatannya dari memberi sedekah. 

Jika orang² yang belum mengenal Tuhan tahu akan hal itu, maka anak² Tuhan akan menjadi teladan terbaik dalam karakter² yang mulia. Sebab itu melampaui apa yang dilakukan orang² ada umumnya, yang memang ingin diketahui secara luas jika mereka bersedekah. 

• Hal semacam ini sulit dilakukan apabila kita tidak benar² menjadi murid dan hamba Kristus. Sebab hanya yang benar² ingin Kristus dimuliakan saja yang tidak menginginkan apapun bagi dirinya. Orang² (termasuk yang Kristen) yang masih ingin dilihat orang, mustahil menerapkan hal ini karena hati mereka akan terus mencoba mencari cara dan siasat supaya dapat dilihat dan dipuji orang. 

Saya berikan dua contoh bagaimana Yesus menerapkan hal ini (bagaimana Yesus menerapkan Fil 4:5 dan Mat 6:3 sekaligus)

Yohanes 2:9 (TB) 
Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu — dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya — ia memanggil mempelai laki-laki,

Matius 14:15-17, 19 (TB)
15 Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa."
16 Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan."
17 Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan." 
19 Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. 

Dalam kisah air jadi anggur, tidak ada yang tahu Yesus yang mengubah air jadi anggur tapi pelayan yang disuruh Yesus tahu. Kebaikan Yesus terlihat dalam perhatian dan kepedulian kepada keadaan yang susah dan perlu ditolong itu tapi Yesus tidak memamerkan kebaikan-Nya itu di depan umum. 

Dalam kisah Yesus memberi makan lima ribu orang laki², semua tahu Yesus peduli kepada orang banyak itu hingga menyediakan makan bagi mereka tapi hanya sedikit yang tahu bagaimana Yesus melakukannya. Yang tahu persis bagaimana Yesus memberi makan itu hanya anak kecil yang memberikan roti dan ikannya serta murid² Yesus yang membagikan makanan tsb kepada orang banyak. 

Itu juga mengapa Yesus sering melarang orang² yang disembuhkan-Nya memberitahukan tentang Dia dan apa yang telah diperbuat-Nya (Mat. 8:4; Mrk 1:44; Luk. 5:14; 8:56; 9:21)

Yesus tidak pernah mempromosikan diri. Jika khalayak luas akhirnya mengenal Dia, itu bukan karena Dia memamerkan diri tapi karena orang banyak yang menyebarkan berita tentang Dia. 
Dalam hal semacam itu karakter Yesus yang baik dan unggul tampak nyata. Ia berbuat banyak hal baik dan luar biasa tetapi Ia tidak pernah membanggakan atau mencari pujian manusia dari semuanya itu, sekalipun Ia layak mendapatkannya.

(Jika Tuhan kita begitu rendah hati, mengapa banyak yang mengaku hamba²Nya sombong dan suka promosi diri dan pelayanan?)

Semoga menjadi berkat… 🙏

Comments

Popular posts from this blog

SIAPAKAH "ORANG FASIK" ITU?

Oleh: Bp. Peter B. K.               Alkitab seringkali memakai kata “orang fasik”. Secara umum, orang fasik adalah sebutan yang dipakai banyak orang untuk menyebut mereka yang jahat, kejam dan tidak bermoral. Seringkali mereka yang dicap sebagai orang fasik adalah mereka yang jelas–jelas hidup secara jahat dan menentang hukum–hukum yang ada, baik hukum negara, sosial maupun agama. Mereka akan dikenal sebagai pemabuk, penjudi, pecandu, pezinah yang suka ke pelacuran, pencuri, perampok dsb. Bagi dunia, pelaku tindak kriminal-lah orang fasik itu. Benarkah demikian? Kelihatannya Alkitab mempunyai pandangan yang berbeda mengenai siapa yang disebut orang fasik itu. MAZMUR 10 MENJELASKAN PADA KITA BAHWA ORANG FASIK ADALAH ORANG–ORANG: 1       1) Yang tidak peduli akan Allah – atau bahkan menganggap Allah tidak ada (Mzm 10:3-4) Ukuran kefasikan yang dari Allah berbeda. Ini berarti siapa saja – tidak terke...

THE RIGHTEOUS GENERATION

(Renungan dari Mazmur 14) Oleh: Bp. Peter B. K. “Tidak sadarkah semua orang yang melakukan kejahatan yang memakan habis umatKu seperti roti dan yang tidak berseru kepada TUHAN?”   (Mzm 14:4) “Di sanalah mereka ditimpa kekejutan yang besar, sebab Allah menyertai angkatan yang benar.”   (Mzm 14:5) Isu yang sedang marak dibicarakan saat itu adalah mengenai pertentangan antar pengikut agama. Perbedaan – perbedaan dalam keyakinan beragama dimanfaatkan sebagai pemicu untuk berkonfrontasi yang berakhir dengan kekacauan dan kegoncangan yang melanda bangsa kita. Pertanyaan yang terus menerus muncul didalam pikiran saya adalah “Siapakah yang benar? Mengapa semua umat beragama bangkit dan saling berperang? Haruskah membela agama sendiri?” Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa nast diatas memberitahukan kita bahwa Allah tidak menyertai atau berpihak pada agama manapun. Secara  status kewarganegaaran kita beragama Kristen, tetapi Allah tidak membela dan menolong orang – orang yang ...

BERDOALAH BAGI INDONESIA...

Oleh: Bpk. Peter B. MA Hal-hal seperti inilah bentuk-bentuk pembodohan dengan mengacaukan standar dan ukuran. Dimana setiap orang bebas membalikkan dan menyetel ulang ukuran dengan menafikan akal sehat dan obyektifitas. Semua menjadi relatif dan benar menurut pandangan sendiri. Tidak ada yang dapat disebut sebagai ukuran moral dan etis lagi sebab orang mengikuti tendensi dan hawa nafsunya dan menyesuaikan benar atau tidak, tepat atau tidaknya suatu perilaku berdasarkan kepentingan² dirinya sendiri. Sayang sekali, Indonesia menjadi semerosot ini dengan terus bertambahnya bilangan orang yang membuang hikmat sejati tetapi membodohi dirinya dengan pikiran serta pendapatnya sendiri. Tanpa bisa membedakan mana yang benar dan sepertinya benar. Berdoa dan berubahlah demi pemulihan Indonesia… https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1703018979739173&id=324658284241923 https://m.merdeka.com/politik/fadli-zon-soal-twit-sby-memang-banyak-hoax-dan-fitnah-di-medsos.html