Skip to main content

KUNCI BERKAT TUHAN DALAM PEKERJAAN SEHARI-HARI

Oleh : Peter B


Terkait berkat penghidupan sehari-hari, ada berbagai pandangan yang diyakini orang, khususnya dalam hubungannya dengan iman mereka pada Tuhan.
Sejauh yang saya tahu inilah beberapa di antaranya 
(Pemaparan ini tidak menutup kemungkinan akan adanya variasi lain dari pandangan yang disebutkan di bawah ini) :

1- Rezeki semata-mata adalah usaha dan hasil kerja keras sendiri. tidak ada kaitannya dengan berkat dari Tuhan. Kemampuan kita saja yang menentukan banyak atau tidaknya hasil yang didapatkan

2- Rezeki asalnya dari Tuhan saja, usaha manusia tidak banyak membantu. Rajin-rajin ibadah saja akan diberkati Tuhan, cukup berusaha atau bekerja sekedarnya saja

3- Rezeki diberikan oleh Tuhan bagi orang yang bekerja keras. Semakin keras bekerja, Tuhan akan memberkati.

4- Rezeki diusahakan sekuat tenaga tanpa perlu melibatkan Tuhan. Baru kalau ada masalah dan kesulitan, Tuhan menjadi tempat meminta pertolongan

5- Rezeki diberikan karena ada keseimbangan antara kerja dan ibadah. Kerja harus serius dan ibadah tidak boleh ditinggalkan, maka Tuhan pasti memberkati

6- Rezeki diberikan bagi orang yang mencari dan mengutamakan Tuhan dalam hidupnya. Ini bukan berarti banyak ibadah, doa dan hidup saleh tetapi sambil bekerja keras serta memberikan yang terbaik dari apa yang bisa dilakukannya di bidang pekerjaannya , ia selalu mencari Tuhan dan petunjuk-Nya supaya ia dapat hidup dalam kehendak Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan melalui pekerjaannya itu, sehingga ia kemudian dapat menjadi saluran berkat bagi banyak orang dan memuliakan Tuhan melalui pekerjaannya dan hasil-hasil yang didapatkan dari profesinya itu.

Dapatkah Anda menentukan mana yang Anda yakini sejauh ini?

Dari ilustrasi dua orang yang memancing, yang dibagikan beberapa waktu lalu, pemikiran yang dianut pembuat gambar beserta keterangan tersebut sepertinya mendasarkan keyakinannya seperti poin pandangan nomor 2 dari daftar di atas. Dan pendirian demikian sangat umum di Indonesia, yang mayoritas penduduknya  orang-orang agamis, senang dan tekun beribadah. Tuhan dipandang sebagai sumber segala berkat yang pasti akan melimpahkan berkat bagi orang yang rajin beribadah kepada-Nya, terlepas dari apapun usaha yang dilakukan. 

Satu sisi pandangan tersebut ada benarnya. Alkitab pun menyebutkannya. Bahwa Tuhanlah pangkal segala berkat. Bahwa berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya. Bahwa manusia dapat merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan hasilnya. Juga Yesus pun mengajarkan bahwa segala rezeki akan ditambahkan bagi kita yang mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. 

Memang benar. Tapi itu masih dari satu sisi. 

Mempelajari jalan-jalan Tuhan tidak boleh sekilas dan berdasar satu dua ayat yang kemudian dijadikan dasar yang sesungguhnya ingin memuaskan tujuan dan kepentingan egois kita. 

Harus disadari, Alkitab mencatat bahwa keberhasilan, kekayaan dan kemakmuran dijanjikan dan dicapai oleh mereka yang rajin, yang tidak hidup dalam kemalasan. Paulus mengatakan, "Siapa yang tidak bekerja, janganlah ia makan" 
Dan jangan lupakan fakta ini. Hamba-hamba Tuhan di marketplace yang paling diberkati, paling dipakai Tuhan menjadi saluran berkat, yang diangkat melampaui semua yang lain sehingga menjadi kesaksian yang memuliakan nama Tuhan adalah mereka yang mumpuni di bidangnya. Yusuf sebagai salah satu manajer terbaik yang bahkan melalui kemampuannya menyelamatkan banyak bangsa dari bahaya kelaparan. Daud adalah pemimpin sejati yang sangat disegani semua kalangan, baik kawan maupun lawan. Daniel beserta teman-temannya adalah pejabat teladan, tanpa cacat, berintegritas tinggi dan sangat kompeten di bidang pekerjaan mereka sehingga dipercaya oleh raja-raja. 

Jadi Tuhan bukan sekedar memberkati. Ia memberkati orang yang bekerja keras dan benar-benar menguasai bidang pekerjaannya.
Adalah wajar apabila orang-orang berbakat dan bekerja dengan baik akan mendapat tempat-tempat yang mulia dan terhormat serta digunakan jasanya di level-level tertinggi
Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.
~ Amsal 22:29 (TB)

Namun masih ada sisi yang lain lagi.

Harus diketahui pula bahwa yang telah disebutkan di atas sebagai profesional yang dikenan dan dipakai Tuhan di bidang pekerjaan mereka itu, adalah juga ORANG-ORANG YANG TAKUT AKAN TUHAN SEKALIGUS MEMILIKI HUBUNGAN YANG DEKAT, INTIM DAN DALAM DENGAN TUHAN. 
Dengan kata lain, jika kita benar-benar ingin memperkenan Tuhan, menginginkan berkat terbaik dari Tuhan atas pekerjaan kita, maka kita tidak boleh lalai mengikutsertakan Dia, mengandalkan Dia dengan meminta hikmat, pimpinan dan petunjuk-Nya dalam mengerjakan profesi kita itu. Kita tidak boleh mengandalkan atau memegahkan kekuatan dan kemampuan kita sendiri. Benar bahwa kita memiliki kemampuan yang berguna yang digunakan dalam profesi kita itu tetapi itu harus ditundukkan dalam suatu penyerahan dan pengharapan bahwa hanya Tuhan saja yang sanggup memberkati pekerjaan kita itu. Ini sama seperti petani yang tahu benar cara menanam benih dan mengolah sawah tetapi bahkan kemampuan terbaiknya sekalipun tidak dapat memberikan jaminan ia akan mendapatkan tuaian. Ia harus meminta hikmat Tuhan selagi bekerja dan menyerahkan segala hasil pekerjaan-Nya itu ke tangan Tuhan yang berkuasa memberkati pekerjaan tangannya itu.

Hanya dengan cara demikian, Tuhan tidak sekedar menjadi pelengkap dan penolong ketika keadaan mendesak atau saat situasi memburuk namun Ia menjadi pemilik dan penguasa hidup anak-anak-Nya yang bekerja secara sekuler. 

Bagian tersulit adalah menjaga keseimbangan kehidupan sehari-hari antara menjadi pekerja yang seringkali dikejar target kemajuan atau hasil tertentu dengan menjadi anak-anak Tuhan yang memiliki hubungan yang erat dan pribadi dengan Tuhan. Hal yang kerap menjadi masalah umumnya adalah terkait pengaturan waktu sehari-hari. Itulah sebabnya perlu dipelajari bagaimana pahlawan-pahlawan iman menggunakan waktu mereka dengan di satu sisi secara penuh mengurusi pekerjaan sehari-hari namum di sisi lain masih tetap terhubung dengan Tuhan, secara konstan memperoleh pimpinan dan hikmat-Nya, serta masih menerima penyingkapan-penyingkapan rohani seperti halnya Daud melalui mazmurnya dan Daniel melalui mimpi-mimpi dan penglihatan yang  terimanya.
Saya percaya rahasianya ada pada hati mereka yang MENEMPATKAN HUBUNGAN DENGAN TUHAN SEBAGAI PRIORITAS TERTINGGI KEHIDUPAN MEREKA. Yaitu bahwa yang utama bukanlah mendapatkan keuntungan atau profit materi maupun pencapaian di dunia bisnis semata namun bagaimana mereka melalui pekerjaan mereka justru semakin mendekat kepada Tuhan, mengandalkan Tuhan dan hidup dalam kehendak-Nya.  Tentu target pekerjaan adalah sesuatu yang harus diusahakan. Tapi itu bukan segala-galanya. Yang utama adalah bagaimana berjalan bersama Tuhan serta menerima pimpinan dan tuntunan Tuhan setiap hari. Itulah kunci perkenan sekaligus segala berkat Tuhan. Itulah sebenarnya target utama para pekerja sekuler yang mencintai Tuhan. Yang justru oleh karena mereka mencari Tuhan, mereka beroleh hikmat bagi pekerjaan mereka. Dan karena mereka berjalan seturut petunjuk Tuhan maka Tuhan berkenan pada mereka dan pasti membukakan jalan dan pintu-pintu berkat yang tak disangkakan, yang melaluinya berkat-berkat (jasmani dan rohani) yang tak terbayangkan dan tak terpikirkan sebelumnya dicurahkan atas mereka. Jauh melampaui mereka yang bekerja keras dengan kekuatan manusiawi mereka sendiri. 

Kesimpulan atas semua ini, berkat-berkat untuk penghidupan sehari-hari bersumber dari persekutuan kita dengan Tuhan dan seberapa selaras kita berjalan dengan Dia. Semakin kita mencari petunjuk, pimpinan dan perkenan-Nya, yang merupakan praktek mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka berkat-berkat terbaik pasti dicurahkan bagi kita. Dengan iman bahwa ketika kita berjalan bersama Dia maka Ia pasti memberkati kita, demikianlah murid-murid Kristus sejati menerima berkat-berkat penghidupannya sehari-hari.

 Berkat ada di atas kepala orang benar.."
~ Amsal 10:6

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung",
sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.
Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." 
~ Yakobus 4:13-15

Salam revival
Tuhan Memberkati Kita Semua

Comments

Popular posts from this blog

SIAPAKAH "ORANG FASIK" ITU?

Oleh: Bp. Peter B. K.               Alkitab seringkali memakai kata “orang fasik”. Secara umum, orang fasik adalah sebutan yang dipakai banyak orang untuk menyebut mereka yang jahat, kejam dan tidak bermoral. Seringkali mereka yang dicap sebagai orang fasik adalah mereka yang jelas–jelas hidup secara jahat dan menentang hukum–hukum yang ada, baik hukum negara, sosial maupun agama. Mereka akan dikenal sebagai pemabuk, penjudi, pecandu, pezinah yang suka ke pelacuran, pencuri, perampok dsb. Bagi dunia, pelaku tindak kriminal-lah orang fasik itu. Benarkah demikian? Kelihatannya Alkitab mempunyai pandangan yang berbeda mengenai siapa yang disebut orang fasik itu. MAZMUR 10 MENJELASKAN PADA KITA BAHWA ORANG FASIK ADALAH ORANG–ORANG: 1       1) Yang tidak peduli akan Allah – atau bahkan menganggap Allah tidak ada (Mzm 10:3-4) Ukuran kefasikan yang dari Allah berbeda. Ini berarti siapa saja – tidak terke...

HIKMAT DAN KUTIPAN

DIPANGGIL UNTUK MELAKUKAN HAL YANG BENAR, DENGAN DAN UNTUK ALASAN BENAR

Oleh: Bp. Peter B. K. "Akhir dari zaman ini akan berujung pada pertarungan terakhir antara baik dan jahat, dimana itu akan merupakan suatu konflik supranatural. Jika kita ingin menjadi saksi dari Sang Mahakuasa, kita harus mempunyai kuasa" (1 Kor. 2:4-5; 4:20). Meski konflik itu adalah pertarungan kuasa, itu bukanlah untuk membuktikan siapa yang lebih kuat. Bahkan iblis tahu bahwa Tuhan dengan mudahnya memenangkan peperangan itu. Konflik itu ialah untuk membuktikan kuasa dari yang baik atas yang jahat, kebenaran dari kebohongan, kasih atas sifat mementingkan diri sendiri. Itulah sebabnya disiplin yang dituntut atas mereka yang akan dipakai Tuhan sangatlah berat. KITA DIPANGGIL BUKAN SEKEDAR MELAKUKAN HAL-HAL YANG BENAR, TETAPI MELAKUKAN ITU SEMUA UNTUK ALASAN-ALASAN YANG BENAR. Tuhan tidak hanya ingin kita mampu melakukan pekerjaan-Nya, tapi Dia ingin kita melakukannya karena kita ada dalam kesepakatan dan persetujuan penuh dengan Dia.  Motif-motif kita sangatlah menentukan s...