Skip to main content

TANYA JAWAB TERKAIT PERUBAHAN PRIORITAS, ARAH DAN TUJUAN UMAT TUHAN DI MASA KINI DENGAN UMAT TUHAN DI ZAMAN RASUL-RASUL DI PERJANJIAN BARU

Oleh Peter B


Menanggapi diskusi kita beberapa hari terakhir ini, berikut tanggapan dari saya : 


1) Mengapa prioritas dan tujuan utama umat Tuhan di masa kini bisa berubah menjadi umat yang mengejar kenyamanan, popularitas, pengakuan banyak orang?

Prioritas umat Tuhan berubah menjadi umat yang mengejar kenyamanan, popularitas dsb sesungguhnya karena terpikat dengan dunia ini. Melihat hidup orang-orang duniawi yang kaya, nyaman, tampak lancar dan bahagia, membuat banyak yang tergiur dan terpesona. Masalahnya, orang-orang Indonesia sangat terikat dengan agama dan suka menekuni hal-hal terkait agama atau ketuhanan. Begitu menemukan bahwa ada janji-janji mengenai kenyamanan, kesuksesan maupun mengejar tampilan-tampilan rohani juga mendapat penghormatan dan pengakuan, maka beragama kemudian menjadi semacam sarana memperoleh semua yang diinginkan sebagaimana yang dimiliki orang-orang dunia tersebut. 
Di satu tahap, ada keterpikatan kepada dunia. Di tahap lain ada suatu kebiasaan beragama baru yang terbentuk karena terpikat pada dunia. Yaitu menjadikan agama (termasuk Tuhan yang disebut-sebut di dalamnya) sebagai sarana pencapaian apa yang diinginkan mereka itu yaitu yang duniawi dan berpusatkan diri. 


2) Apa faktor utama yang mengubah arah dan tujuan umat Tuhan di masa kini?

Menurut saya, faktor yang mengubah arah dan tujuan umat Tuhan menjadi seperti sekarang ini terutama dari faktor para pemimpin rohani mereka. Memang kita semua turut bertanggung jawab atas keadaan sekeliling kita yang terus mengalami kemerosotan di berbagai bidang tetapi penentu mengapa arah berubah merupakan pengaruh dari para panutan rohaninya. Kalau pemimpin rohaninya mengejar apa yang di dunia, lalu mengajarkan dan mencontohkan dalam hidupnya gaya hidup yang memegahkan hal-hal duniawi sambil mengatasnamakan Tuhan, maka jemaat diajar untuk demikian. Dan seperti virus ini menyebar tidak terkendali. Mengubah dan merusak pola pikir umat Tuhan yang sering hanya ikut, menurut dan kagum pada pemimpinnya, menganggap pemimpinnya (selalu) benar sehingga lupa untuk menguji dan mencocokkan apakah yang diajarkan pada mereka sama dengan apa yang diajarkan dan diteladankan Kristus dalam Alkitab. Kurangnya pemikiran yang kritis dan menyelidiki lebih jauh jalan-jalan Tuhan turut menjadi sebab jemaat menerima saja ayat-ayat dan ajaran yang dipelintir dan diartikan tidak sesuai dengan maksud Tuhan. Jemaat akhirnya bercintakan dunia, mencari dunia, hidup untuk pencapaian-pencapaian sesuai ukuran dunia yang ditandai dengan mengunggulkan diri dan kelebihan sebagai manusia. 
Alih-alih untuk mencari Tuhan, merindukan Dia dan  perkara-perkara sorga, jemaat diajar untuk memanfaatkan Tuhan demi mendapatkan pencapaian-pencapaian dunia. Sesuatu yang sama sekali berbeda dengan apa yang di pikiran Tuhan dan ajaran Kristus.

Dari sini sudah seharusnya kita menyadari bahwa pemimpin rohani yang kita ikuti menentukan apakah kita mengikuti jalan yang benar sesuai yang dikehendaki Tuhan. Kegagalan membedakan pemimpin / bapa rohani menjadikan kita bukannya semakin didorong, didukung, dipercepat, dan dilatih untuk bertumbuh dalam Tuhan namun justru semakin dijauhkan dari kehendak dan rencana Tuhan misalnya dari yang seharusnya satu persatu jemaat memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan, menjadi hanya terhubung dengan gereja, dengan figur pemimpin rohani tertentu, denominasi, doktrin atau ajaran tertentu hingga merasa puas hanya dengan formalitas ibadah semata. 


3) Bagaimana solusi mengatasi perubahan prioritas dalam hidup kita dan umat Tuhan di Indonesia?

Solusi mengatasi perubahan prioritas umat Tuhan dapat dilakukan dengan : 

Pertama, harus ada pertobatan dan perubahan pola pikir dan motivasi para pemimpin rohani. Harus ada gelombang pertobatan di antara para pemimpin rohani dan pemberi pengaruh dalam gereja. Jika ini tidak segera dilakukan, Tuhan kemungkinan akan bertindak lebih tegas lagi terhadap para pemimpin rohani yang menyimpang ini. 

Kedua, perubahan dimulai dari diri kita. Kita harus mulai mencari ajaran dan kebenaran yang murni, yang membawa kita pada persekutuan dan pengenalan pribadi akan Tuhan, yang menumbuhkan rohani kita dengan benar, yang membawa kita masuk lebih jauh dan lebih dalam kepada rencana dan tujuan Tuhan secara pribadi maupun berjemaat termasuk bergabung dalam suatu komunitas yang sungguh-sungguh mengejar pengenalan dan pengalaman berjalan bersama Tuhan, menjadi murid-murid sejati, hidup bukan sekedar melakukan apa yang tampaknya benar dan rohani namun benar-benar menjalani dan menghidupi ajaran Kristus setiap hari. 
Jika ada yang mau memulai dan membayar harga baik secara pribadi maupun komunitas, maka perubahan, cepat atau lambat akan terjadi. 

Hari Minggu kemarin, Tuhan menunjukkan pada saya tentang pekerjaaan Roh Kudus. Sewaktu saya menyulut api di sebuah korek api, Tuhan mengingatkan sekali lagi pada saya tentang sifat api. Tuhan sampaikan bahwa api bukan unsur yang mudah ditemukan di mana saja. Berbeda dengan air dan angin. Api harus dinyalakan atau dimunculkan lebih dahulu. Namun itupun harus selalu kita jaga.  Sebab nyala api yang kecil , jika tidak dikendalikan dengan baik, begitu menyebar akan dengan cepat membakar yang lainnya dan tidak lama dapat berubah menjadi sesuatu yang sangat besar, berbahaya bahkan sangat mengerikan. 

Tuhan lalu sampaikan bahwa Roh Kudus itu seperti api (dituliskan dalam Kisah Rasul serupa lidah-lidah api yang turun di kepala 120 murid yang kepenuhan Roh Kudus, Kisah Rasul 2:30). Dan di kejadian yang sama di Kisah Rasul itu, Roh Kudus datang ditandai seperti tiupan angin yang keras yang memenuhi seluruh rumah (Kisah 2:2). Ini persis seperti perkataan yesus sendiri bahwa pekerjaan Roh Kudus itu serupa angin (lihat Yoh. 3:8). 
Jadi Roh Kudus itu api sekaligus anginnya. Api yang ditiup angin akan berkobar secara luar biasa, Merembet, membakar yang dilalui dan disentuhnya. 
Bagian kita ialah menjadi murid-murid yang dihembus dan dibakar api Roh Kudus. Ketika roh kita sudah menyala-nyala (lihat Roma 12:12) maka api Tuhan akan terus menyambar-nyambar dan membakar setiap anak Tuhan yang masih kering atau basah, yaitu mereka yang belum memiliki gairah akan Tuhan. 
Melalui murid-murid Tuhan yang berkobar-kobar bagi Tuhan, tidak hanya gereja Tuhan diubahkan. Dunia pun akan diubahkan oleh lawatan api Roh Kudus. Seperti yang terjadi di masa gereja mula-mula. 

Demikian kiranya pandangan dari saya. Tuhan Yesus memberkati.

Comments

Popular posts from this blog

SIAPAKAH "ORANG FASIK" ITU?

Oleh: Bp. Peter B. K.               Alkitab seringkali memakai kata “orang fasik”. Secara umum, orang fasik adalah sebutan yang dipakai banyak orang untuk menyebut mereka yang jahat, kejam dan tidak bermoral. Seringkali mereka yang dicap sebagai orang fasik adalah mereka yang jelas–jelas hidup secara jahat dan menentang hukum–hukum yang ada, baik hukum negara, sosial maupun agama. Mereka akan dikenal sebagai pemabuk, penjudi, pecandu, pezinah yang suka ke pelacuran, pencuri, perampok dsb. Bagi dunia, pelaku tindak kriminal-lah orang fasik itu. Benarkah demikian? Kelihatannya Alkitab mempunyai pandangan yang berbeda mengenai siapa yang disebut orang fasik itu. MAZMUR 10 MENJELASKAN PADA KITA BAHWA ORANG FASIK ADALAH ORANG–ORANG: 1       1) Yang tidak peduli akan Allah – atau bahkan menganggap Allah tidak ada (Mzm 10:3-4) Ukuran kefasikan yang dari Allah berbeda. Ini berarti siapa saja – tidak terke...

HIKMAT DAN KUTIPAN

DIPANGGIL UNTUK MELAKUKAN HAL YANG BENAR, DENGAN DAN UNTUK ALASAN BENAR

Oleh: Bp. Peter B. K. "Akhir dari zaman ini akan berujung pada pertarungan terakhir antara baik dan jahat, dimana itu akan merupakan suatu konflik supranatural. Jika kita ingin menjadi saksi dari Sang Mahakuasa, kita harus mempunyai kuasa" (1 Kor. 2:4-5; 4:20). Meski konflik itu adalah pertarungan kuasa, itu bukanlah untuk membuktikan siapa yang lebih kuat. Bahkan iblis tahu bahwa Tuhan dengan mudahnya memenangkan peperangan itu. Konflik itu ialah untuk membuktikan kuasa dari yang baik atas yang jahat, kebenaran dari kebohongan, kasih atas sifat mementingkan diri sendiri. Itulah sebabnya disiplin yang dituntut atas mereka yang akan dipakai Tuhan sangatlah berat. KITA DIPANGGIL BUKAN SEKEDAR MELAKUKAN HAL-HAL YANG BENAR, TETAPI MELAKUKAN ITU SEMUA UNTUK ALASAN-ALASAN YANG BENAR. Tuhan tidak hanya ingin kita mampu melakukan pekerjaan-Nya, tapi Dia ingin kita melakukannya karena kita ada dalam kesepakatan dan persetujuan penuh dengan Dia.  Motif-motif kita sangatlah menentukan s...