Skip to main content

Posts

PERSEMBAHAN YANG TIDAK BERKENAN - BAGIAN 1 (Oleh John Bevere)

Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. - 1 Pet. 1:15-16 Waktu telah berlalu sejak hari Pentakosta. Gereja telah diberkati oleh hadirat Allah dan kuasa-Nya. Banyak orang diselamatkan, disembuhkan dan dibebaskan. Tak seorang pun yang kekurangan karena setiap orang membagikan apa yang mereka miliki. Mereka yang memiliki harta benda menjualnya dan membawa hasilnya kepada para rasul untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. PERSEMBAHAN DARI ORANG ASING Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul. - Kis. 4:36-37 Siprus adalah sebuah pulau   yang diberkati dengan kekayaan alamnya, terkenal dengan bunga-bunga dan buah-buahnya. Anggur dan minyak dihasilkan secara berlimpah. Ada penyimpa...

YESUS YANG SEBENARNYA? (oleh John Bevere)

Sementara menyelidiki kehidupan Musa dan Abraham dalam terang takut akan Tuhan kita selanjutnya memperluas definisinya. Takut akan Tuhan meliputi kasih pada apa yang dikasihi Allah sekaligus kebencian pada apa yang Dia benci. Yang penting bagi Dia menjadi penting bagi kita. Kita menjadikan prioritas-prioritas dan keinginan-keinginan-Nya sebagai milik kita. Manifestasi dari takut akan Tuhan adalah ketaatan yang tidak tergoyahkan pada keinginan-keinginan dan kehendak Allah. Menurut Kitab Suci, sementara kita memegang erat takut akan Tuhan, Allah datang lebih dekat. Sekali Ia ditemui secara intim, intensitas kasih kita kepada Dia bertumbuh. Kita mengasihi Allah yang sejati dan hidup, bukan sekadar suatu persepsi tentang Dia. Tanpa suatu ketakutan akan Allah yang dalam dan kekal kita hanya memiliki kasih tanpa pengenalan intim yang benar akan Dia. Kita tahu tentang Dia, tetapi tidak mengenal Dia; karena itu kasih sayang kita diarahkan pada suatu citra atas diri "Yesus" yang diben...

RUMAH KESUKAAN TUHAN (Diambil dari buku “Rumah Kesukaan Tuhan” ditulis oleh Tommy Tenney) - Bagian Kelima

Kita Telah K ehilangan Seni untuk Menyenangkan Hadirat Tuhan Kita ingin menarik perhatian Tuhan, namun setelah Ia datang mengunjungi kita, atau setelah kita merasakan hadirat-Nya ada di tengah-tengah kita, kita berkata, “Hai, senang Engkau datang — aku harus pergi,” dan kita pergi dalam jalan kita sendiri. Terlalu sering kita menginginkan kehadiran Tuhan di tempat penyembahan kita hanya untuk memberikan sensasi pada perasaan kita. Kita berkata, “Oh, I a hadir di sini.” Pertanyaannya adalah, “Apakah I a akan tinggal?” I ni bukan tentang kita; ini tentang Dia. Harus ada lebih dan sekadar perasaan tergetar dan tercekam. Daud tidak puas hanya untuk menikmati kunjungan sementara. I a menginginkan lebih da ri itu, dan itulah sebabnya ia memberi tahu para penyembah kaum Lewi, “Kamu tidak akan pergi ke mana-mana. Aku ingin kamu dan kelompokmu mengambil tiga jam pertama. Kamu berikutnya, dan kamu yang ketiga.” S aya merindukan ha ri di mana umat Tuhan akan memberikan “24/7” penyembahan kepa...

RUMAH KESUKAAN TUHAN (Diambil dari buku “Rumah Kesukaan Tuhan” ditulis oleh Tommy Tenney) - Bagian Keempat

Dalam Tabernakel Daud, Semua Orang Bisa Melihat Kemuliaan Tuhan Tabernakel Daud adalah tabernakel yang unik. Ditempat penyembahan yang lain dimana tabut perjanjian hadir, para penyembah harus menyembah sesuatu yang berada di balik tirai tanpa mengetahui atau melihat dengan persis apa yang ada di sana. Hanya imam besar yang dapat masuk ke balik tirai — dan itu bahkan hanya sekali dala m setahun. Namun dalam tabernakel Daud, kemuliaanTuhan bisa dilihat oleh semua orang — apakah mereka para penyembah, orang-orang yang lewat, maupun para penyembah berhala. Pen y embahan yang tida k terse1ubung memberikan pandangan yang tak terintangi! Mukji z at “rumab kesu k aan Tuhan” dapat dite l usuri hingga ke kerinduan Daud akan hadirat Tuhan. I a berkata, “Bagaimana aku bisa membawa tabut Tuhan kepadaku?” Ia bertindak untuk memenuhi kerinduan tersebut dengan segala keberadaannya. Usaha pertamanya untuk membawa tabut perjanjian ke Yerusalem berakhir dalam bencana; dan mengakibatkan perubahan to...